Subscribe:

05 November 2012

Perlombaan Senjata di Balik Isu Iranophobia

Koran Independent baru-baru ini mengungkapkan bahwa London sedang mengkaji pengiriman jet tempur Typhoon ke kawasan Teluk Persia dengan tujuan untuk menjaga kepentingan negara-negara kawasan dari ancaman Iran. Koran cetakan Inggris itu dalam laporannya mengungkapkan bahwa kemungkinan pengiriman jet tempur canggih tersebut dilakukan menyusul kesepakatan militer antara London dan Abu Dhabi mengenai peningkatan kehadiran militer Inggris di negara-negara Arab.

The Independent mengutip pejabat teras Inggris melaporkan rencana besar penempatan jet-jet tempor Typhoon di pangkalan udara al-Zafar, selatan Abu Dhabi, yang saat ini menjadi pangkalan bagi pesawat tempur Perancis dan AS. Penjualan senjata besar-besaran terhadap negara-negara Arab dalam dua dekade terakhir menjadi perlombaan senjata tanpa batas.


Sebelumnya, media-media rezim Zionis melaporkan rencana Washington menjual peralatan militer senilai $60 miliar ke sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, Oman, dan Uni Emirat Arab. Jerusalem Post mengungkapkan bahwa AS menjual 82 unit jet tempur F-15 senilai $30 miliar ke Arab Saudi. Menyusul Riyadh, Kuwait akan membeli 10 unit F-15 dari AS.

Eskalasi pembelian persenjataan dan perlengkapan militer oleh negara-negara Arab dilakukan seiring gencarnya propaganda Iranophobia yang dilancarkan media mainstream. Terprovokasi dalih infaktual itu, raja-raja Arab menggunakan uang hasil penjualan minyak untuk menimbun persenjataan dan perlengkapan militer yang dibeli dari negara-negara Barat. Dilaporkan, dalam kurun waktu lima tahun saja terjadi peningkatan pembelian persenjataan dan perlengkapan dan militer sebesar 20 persen dari tahun 2004 hingga 2009.

Ironisnya, Uni Emirat Arab dengan populasi penduduk sekitar enam juta jiwa merupakan pembeli persenjataan dan perlengkapan militer terbesar keempat dunia setelah Cina, India dan Korea Selatan. Abu Dhabi membeli lebih dari 60 persen kebutuhan militernya dari AS.

Fenomena perlombaan pembelian senjata itu berlangsung di saat negara-negara pemasok persenjataan dan perlengkapan  militer terbesar seperti AS, Jerman, Perancis dan Inggris merupakan sejumlah negara yang paling getol melancarkan kampanye hitam anti Iran di dunia. Gelombang propaganda Iranophobia yang dijadikan dalih perlombaan senjata di kawasan Timur Tengah berlangsung di saat negara-negara Barat sedang menghadapi krisis ekonomi yang semakin akut.

Sejatinya, isu anti Iran yang dilancarkan media mainstream dan negara-negara Barat dilakukan dengan dua tujuan. Pertama menyudutkan Iran di arena internasional, sekaligus menyelamatkan perekonomian mereka yang diterjang badai krisis dengan mengenjot penjualan persenjataan dan perlengkapan militer ke negara-negara Arab.

(IRIB Indonesia/PH)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...