Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

31 August 2014

Moskow ancam membalas Polandia soal larangan terbang

6:26 AM Posted by Ikh Sanudin No comments
 Siluet elang berkepala dua, lambang nasional Rusia, terlihat di depan bulan super yang terbit di atas menara Museum Sejarah di Moskow, Rusia, Minggu (10/8). (ANTARA FOTO/REUTERS/Maxim Shemetov)

 
MOSCOW:(DM) - Pemerintahan Moskow, Jumat, mengancam akan melakukan tindakan pembalasan terhadap Polandia, setelah Pemerintah Polandia menolak pemberian izin kepada satu pesawat yang membawa Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu untuk memasuki wilayah udaranya.

Jet itu membawa Shoigu dalam penerbangan pulang ke Rusia dari Slowakia, tempat ia menghadiri upacara untuk memperingati perlawanan anti-Nazi di Slowakia selama Perang Dunia II. Pesawat tersebut belakangan diberi izin untuk terbang di wilayah udara Polandia.

"Delegasi Rusia menerima sambutan hangat di Slowakia, tempat rakyat ingat pada sumbangan yang diberikan negara kami bagi pembebasan rakyat Slowakia dari Nazi. Tapi peristiwa yang membuat marah terjadi dalam penerbangan pulang ketika pihak Polandia menolak pemberian izin untuk terbang melintas (oleh jet delegasi itu dengan alasan operasional," kata Kementerian Luar Negeri Rusia, sebagaimana diberitakan Xinhua.

Sekretaris pers komando operasi Angkatan Bersenjata Polandia menyatakan lembaga tersebut memutuskan untuk melarang pesawat itu sebab pesawat tersebut telah mengajukan rencana singgah bagi satu jet militer, kata Kantor Berita Itar-Tass.

Setelah perhentian paksa singkat di Bratislava, pesawat tersebut diberi izin terbang melintasi wilayah Polandia sesudah status pesawat itu diubah jadi pesawat sipil.

Namun, Kementerian Rusia tersebut menyatakan pihak Polandia hanya setuju untuk menegaskan kembali izin setelah Rusia mengajukan protes keras.

Peristiwa itu terjadi saat Uni Eropa bermaksud mempertimbangkan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia dalam pertemuan puncak khususnya di Brussel, Belgia, Sabtu.

Ukraina dan Barat pada Rabu menuduh Rusia melancarkan penyusupan ke dalam wilayah Ukraina dengan mengirim peralatan dan tentaranya ke dalam Wilayah Donetsk. Rusia telah membantah tuduhan tersebut.(C003)Putin katakan "jangan macam-macam dengan Rusia!"


Presiden Rusia Vladimir Putin Jumat mengatakan bahwa pasukan bersenjata Moskow yang dilengkapi dengan persenjataan nuklir siap untuk membalas agresi negara-negara lain.

"Jangan macam-macam dengan kami demi kebaikan semua negara," kata Putin saat menyampaikan pidato dalam acara perkemahan pramuka pro-Kremlin di Danau Seliger, Moskow, lapor Reuters.

Putin mengatakan bahwa pengambil-alihan Krimea oleh Rusia pada Maret lalu adalah langkah penting untuk menyelamatkan populasi warga berbahasa Rusia di wilayah itu dari kekerasan pemerintahan Ukraina.

Dia juga menjelaskan bahwa pemberontakan oleh kelompok pro-Rusia di wilayah timur Ukraina adalah konsekuensi logis dari tindakan pemerintah di Kiev yang menolak upaya perundingan.

Ukraina sendiri menuduh Rusia mengirim pasukan dan persenjataan untuk membantu kelompok separatis dalam konflik yang menewaskan 2.000 orang itu. Putin pada Jumat membantah tuduhan itu.

"Rusia tidak pernah terlibat dalam konflik berskala besar," kata Putin.

"Kami tidak menginginkan hal itu dan kami tidak berencana melakukannya. Namun di sisi lain kami juga siap membalas agresi terhadap Rusia dan oleh karena itu negara-negara lain harus memahami...bahwa langkah terbaik adalah tidak macam-macam dengan kami," kata Putin.

"Saya bersyukur tidak ada negara yang berani memulai konflik besar-besaran dengan Rusia. Saya ingin mengingatkan kalian bahwa negara ini masih merupakan negara berkekuatan nuklir terkuat," kata dia.

Di sisi lain, Putin juga menyalahkan Amerika Serikat dan Uni Eropa karena menggulingkan secara "tidak konstitusional" presiden Ukraina pro-Moskow, Viktor Yanukovich, dan menggantinya dengan pemerintahan pro-Barat.

Dia mengatakan bahwa masyarakat di bagian timur Ukraina tidak setuju atas penggulingan Yanukovich dan sekarang menjadi korban "kekejaman tentara militer" pemerintah.

"Desa-desa kecil dan kota-kota besar tengah dikepung oleh tentara Ukraina. Pasukan itu sengaja menembaki area pemukiman untuk menghancurkan infrastruktur. Hal itu mengingatkan saya atas peristiwa pada Perang Dunia II di mana pemerintahan fasis Jerman mengepung kota-kota di sini," kata Putin.Rusia tutup 12 cabang McDonald dan inspeksi 100 lainnya


Rusia menutup sementara 12 cabang McDonald karena alasan kesehatan dan tengah menginspeksi lebih dari 100 cabang lainnya, demikian perusahaan makanan cepat saji asal Amerika Serikat itu menyatakan pada Jumat.

Penutupan terhadap restoran waralaba yang sangat popular tersebut dilakukan sepanjang bulan Agustus dengan alasan pelanggaran atas standar kebersihan. Beberapa pihak menilai tindakan Rusia itu merupakan aksi balas dendam terhadap sanksi negara Barat terkait krisis di Ukraina, lapor AFP.

Dalam siaran persnya McDonald mengatakan bahwa pemerintah telah menutup 12 restoran, tujuh di antaranya berada di bagian selatan Rusia dan "tengah melakukan inspeksi atas lebih dari 100 cabang lain."

McDonald menyatakan tengah menyelidiki tuduhan pelanggaran dari pemerintah Rusia sebagai bagian dari upaya pembukaan kembali restoran secepatnya.

Pada Rabu, pengadilan memutuskan penutupan tiga cabang--salah satunya berada di Moskow--untuk periode maksimal tiga bulan mendatang karena alasan kesehatan. McDonald berencana untuk mengajukan banding atas putusan itu.

Dalam perkembangan terakhir, juru bicara badan pengawas obat dan makanan Rusia di wilayah Yaroslav mengatakan bahwa bakteri E. Coli--yang berpotensi menyebabkan keracunan--telah ditemukan dalam selada yang dihidangkan salah satu cabang McDonald.

McDonald sendiri saat ini memiliki 400 cabang di Rusia dengan lebih dari 37.000 pekerja. Cabang pertama dibuka di pusat perkotaan Moskow pada era Uni Soviet dan berhasil menarik antrian panjang dari pengunjung yang ingin merasakan masakan cepat saji asal Amerika Serikat.

Penutupan terhadap cabang-cabang McDonald itu muncul pada saat negara-negara Barat menerapkan sanksi terhadap Moskow karena dinilai terlibat dalam krisis di Ukraina.

Sebagai balasan, Rusia menghentikan impor atas sebagian besar bahan makanan dari Amerika Serikat dan Eropa.

Pada masa lalu, Rusia mempunyai sejarah panjang penggunaan alasan kesehatan makanan sebagai senjata melawan negara-negara yang tak-bersahabat.

Meskipun McDonald adalah simbol kebudayaan Amerika Serikat, perusahaan tersebut mengaku telah berupaya membangun rantai suplai lokal dengan membeli 85 persen bahan makanan dari dalam negeri.Putin katakan Rusia harus siap merespon agresi apapun

 Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan gerakan saat mengetuai pertemuan dengan pemerintahan di kediaman resmi Novo-Ogaryovo luar Moskow, Rabu (25/6). Parlemen Rusia membatalkan hak yang diberikan kepada Putin pada bulan Maret untuk melakukan intervensi militer di Ukraina, dimana Kiev sedang berupaya dengan pemberontakan oleh mereka pengguna bahasa ibu Rusia di timur. (REUTERS/Alexei Druzhinin/RIA Novosti/Kremlin)

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Jumat bahwa Rusia tidak berkeinginan untuk terlibat dalam konflik skala besar, tetapi harus mampu menanggapi setiap ancaman.

"Rusia masih jauh dari terlibat dalam konflik skala besar. Kami tidak menginginkan hal itu dan tidak berencana untuk itu. Tetapi secara alami, kita harus selalu siap untuk mengusir agresi apapun terhadap Rusia," katanya, berbicara kepada satu kamp pemuda di luar Moskow, lapor Reuters dan AFP.

Di Mons, Belgia, seorang pejabat senior NATO Kamis mengatakan bahwa "lebih dari 1.000" tentara Rusia kini sedang beroperasi di Ukraina.

"Mereka mendukung separatis, bertempur bersama mereka dan berjuang di antara mereka," kata pejabat yang tak bersedia disebut namanya itu, dan menambahkan bahwa pasokan senjata oleh Rusia telah meningkat baik dalam "volume maupun kualitas".

Pejabat, yang berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan puncak NATO pekan depan di Inggris itu, mengatakan situasi dibuat bahkan lebih mengkhawatirkan karena rute penting antara Donetsk dan Novoazovsk, di Laut Azov dekat dengan perbatasan Rusia, telah dipotong oleh pasukan pro-Kremlin.

"Garis pasokan juga dipotong" untuk tentara Ukraina, katanya.

Pejabat itu memperingatkan bahwa peristiwa terbaru di Ukraina "telah membuat jelas bahwa paradigma keamanan di Eropa telah berubah secara mendasar" dalam menghadapi "Rusia yang sangat agresif".

Dia mengatakan beberapa pekan terakhir telah melihat "kebangkitan nyata dalam kegiatan Rusia" di wilayah titik-api itu, termasuk pasokan senjata, amunisi, pelatihan pasukan khusus, intelijen dan dukungan logistik.

Duta Besar Ukraina untuk Uni Eropa pada Kamis menyerukan bantuan militer Barat dalam "skala besar" saat muncul laporan-laporan bahwa tentara Rusia telah membantu membuka front baru di Ukraina tenggara.

Para pemimpin Uni Eropa akan membahas perkembangan itu pada pertemuan puncak Sabtu, terutama mengenai tugas utama Uni Eropa.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia Kamis membantah klaim Amerika Serikat dan Kiev bahwa pasukannya terlibat langsung dalam eskalasi pertempuran antara pasukan Ukraina dan pemberontak separatis pro-Kremlin di timur.

Juru bicara Kementerian Igor Konashenkov kepada kantor-kantor berita Rusia mengatakan bahwa "Informasi itu tidak ada hubungannya dengan kenyataan" dan bahwa satuan tentara yang diyakini oleh Washington telah menyeberang ke Ukraina itu sedang melakukan "pelatihan taktis mereka sendiri dan di daerah terpencil."

Komentar-komentar itu adalah yang pertama dikeluarkan oleh seorang pejabat senior Rusia di Moskow sejak duta besar AS untuk Kiev menuduh Moskow, menyediakan sistem pertahanan udara untuk para pemberontak dan menjadi "terlibat langsung dalam pertempuran".

Juru bicara kementerian pertahanan mengatakan, tentara dan pasukan penerjun payung Rusia "memang mampu berhasil melakukan tugas yang terkait dengan perlindungan bersenjata teritorial negara tidak dapat diganggu gugat."

Dia menambahkan bahwa seri yang berkelanjutan Rusia untuk misi pelatihan di daerah yang termasuk dekat Ukraina "adalah tugas normal tentara apapun".

Antara
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment