Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

07 June 2015

Haruskah China Masuk Jalur Hitam Jet Vertikal?

6:50 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
Ilustrasi
BEIJING:(DM) - China telah memperkenalkan senjata baru berteknologi tinggi dengan kecepatan yang berbahaya karena untuk mengejar militer AS. Dari tank, kapal, pesawat, dan perangkat keras lain yang Beijing tidak bisa menemukan sendiri, cenderung untuk menyalin dari Amerika, Rusia, Eropa, atau desain Israel.

China tidak bisa membantah dengan kenyataan ini. Kadang-kadang dengan hukum lisensi mereka. Kadang-kadang dengan mengakuisisi beberapa contoh di pasar gelap dan reverse-engineering mereka. Juga dengan  hacking dari perusahaan asing atau pemerintah dan mengambil cetak biru.

Itulah kenapa  pesawat J-10 China mirip dengan prototipe Lavi Israel dan mengapa J-11 adalah identik dengan Su-27 Rusia. Dan mengapa helikopter serangan Z-10 dikemas dengan komponen yang dirancang Prancis.

Sekarang China bekerja untuk membangun pesawat  melayang  baru yang bisa lepas landas dari dan mendarat di kapal perang kecil atau landasan terbang pulau kecil.


Pesawat yang konon akan diberi nama  J-18 memiliki kemampuan lepas landas pendek, dan mendarat vertical atau short-takeoff, vertical-landing (STOVL). Dari gambar yang dirilis pesawat memiliki kemiripan yang mencolok dengan F-35B Amerika.

Bukan rahasia lagi Amerika kerap mengeluh tentang pencurian data China dan bahkan kadang-kadang menuntut mata-mata China. Tetapi lepas dari semua itu apakah China memang mampu membangun J-18?

F-35B
Petaka F-35B

Sebagai gambaran F-35B adalah pesawat yang sangat rumit, terlalu berat, terlalu lambat dan lamban untuk bertahan hidup dalam pertempuran, dan biaya yang sangat mahal hingga Pentagon nyaris bangkrut untuk membangun pesawat ini dan mengakibatkan mereka tak mampu belanja pesawat dalam jumlah banyak.

Perencanaan dan pengembangan F-35 telah menguras dana hingga US$ 400 miliar atau sekitar Rp5,2 biliun. Sementara pesawat yang tercipta harganya tidak kurang dari US$ 150 juta (sekitar Rp1,95 trilun). Pentagon ingin memiliki 420 F-35B ditambah 2.000 F-35A yang bisa lepas landas dan mendarat secara konvensional dan F-35C untuk varian kapal induk

Auditor pemerintah memperkirakan bahwa mengembangkan, membeli, dan menebangkan 2.500 F-35 bisa menghabiskan biaya lebih dari satu triliun dolar selama 50 tahun ke depan. Benar-benar angka yang sangat fantastis dan hampir tidak masuk akal.

Dalam situasi seperti ini apakah melakukan kloning F-35B justru tidak membawa China ke risiko bunuh diri?  “Silakan, Beijing  copy pesawat perang crappiest kami. Jika Amerika Serikat dengan anggaran pertahanan tahunan US$600 miliar  hampir tidak mampu membangun F-35B, maka China yang menghabiskan hanya US$130 milia tahun-tidak bisa membelinya sama sekali, dan bisa  menyakiti diri sendiri dalam upaya sebuah copy- paste teknologi,” demikian ditulis The Daily Beast, media politik dan pertahanan Amerika dalam laporannya Sabtu 6 Juni 2015.

AV- 8B Harrier II milik Marinir AS


Rumor bahwa Beijing ingin membangun jet tempur STOVL telah beredar selama bertahun-tahun. Richard Fisher, seorang analis International Assessment and Strategy Center sebuah think tank di Virginia, mengaku mendengar kabar tentang J-18 pada awal tahun 2005.

Menurut Fisher, China awalnya ingin model J-18 didasarkan pada pesawat Yak-141 Soviet yang juga menggunakan teknologi ini. Memang, ada laporan Beijing telah memperoleh data teknis pada mesin turbofan Yak-141 R-79 dan bekerja pada salinan.

Tapi program Yak-141 tidak pernah melewati tahap prototipe. Antara 2009 dan 2013 kemudian dikabarkan hacker China mampu mendapakan data F-35 dari server kontraktor AS yang membangun pesawat siluman itu.

Tidak lama kemudian PLA Daily, corong resmi militer China, mengumumkan peluncuran resmi program jet STVOL pada bulan Maret 2015, karya seni tidak resmi yang menyertai pengumuman tampak hampir persis F-35B, dengan hanya terlihat beberapa perubahan. Yang berarti J-18 dapat mewarisi secara massal teknologi F-35.

Sebenarnya semua jet melompat secara konseptual cacat. Pesawat-pesawat tempur harus ringan untuk terbang cepat, jauh dan membawa beban senjata yang berguna. Tapi pesawat STOVL perlu add-on hardware, kadang-kadang bahkan ekstra mesin pendorong di bawah pesawat untuk peluncuran dan mendarat secara vertikal. Pesawat model ini kompleks dan berat. Kompleksitas ini pasti menambah biaya. Berat berarti lambat. Dalam pertempuran udara, lambat berarti fatal.

Jet melompat atau STVOL dikembangkan sebagai solusi untuk masalah yang hampir sama. Pada tahun 1950, NATO sangat khawatir Soviet akan mampu membawa senjata nukli dari pangkalan udara keluar. Aliansi kemudian bergegas untuk mengembangkan pesawat yang tidak perlu landasan pacu-dan normal bisa bertahan dari serangan atom.

Jerman mencoba dan gagal untuk menghasilkan pesawat tempur STOVL, tapi Inggris berhasil yang kemudian melahirkan Harrier. Ini adalah sebuah pesawat tempur kecil dengan mesin besar dan nozel berputar ke bawah untuk daya angkat vertikal. Secara teori, penerbang bisa menyelipkan Harrier ke gua atau hanggar tersembunyi, naik dari pemboman atom, kemudian meluncurkan jet kecil dari jalan atau lapangan kecil di hutan yang baru dibuka.

Diadopsi oleh Angkatan Udara Inggris dan Royal Navy, Korps Marinir AS, dan angkatan laut Italia, Spanyol, India, dan Thailand, Harrier untungnya tidak pernah membuktikan kemampuan pasca-apokaliptik nya. Sebaliknya, mendirikan niche utama di laut, terbang dari geladak penerbangan dari kapal serbu amfibi dan operator helikopter, kapal yang terlalu kecil untuk jet tempur tradisional.

Tapi Harrier adalah sebuah Widowmaker, menabrak pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari pesawat lain. Dengan nozel yang berputar mengarahkan dorong di arah yang berbeda, itu jelas sulit untuk terbang. “Harrier karena sifat unik membutuhkan keterampilan yang berbeda sekali,” kata Lon Nordeen, yang bekerja pada program STVOL jet di Boeing setelah perusahaan yang berlisensi desain dari Inggris dan telah menulis beberapa buku tentang Harrier.

Marinir AS kehilangan sepertiga dari kira-kira 300 Harrier mereka, dan 45 pilot tewas, hanya dalam tiga dekade pertama penggunaan yang berakhir pada tahun 2002, seperti dilaporkan Los Angeles Times. Sejak itu, lebih Harrier telah makin sering jatuh dan lebih banyak pilot tewas meskipun upgrade terbaru telah mengurangi tingkat kecelakaan.

Dan bahkan ketika Harrier tidak mendapat masalah seringnya jatuh pesawat ini tetap menderita kendala serius dibandingkan dengan jet konvensional. Dimensi kecil pesawat dan batas berat lepas landas vertical menentukan berapa banyak bahan bakar dan persenjataan yang dapat membawa. Dan mesin besar Harrier ini berjalan ekstra panas, membuat pesawat tempur ini menjadi mangsa empuk rudal pencari panas.

“Harrier didasarkan pada kebohongan yang lengkap,” kata Pierre Sprey, seorang insinyur tempur berpengalaman terlibat dalam sejumlah desain pesawat termasuk F-16 dan A-10. Kebohongan yang dia maksudkan adalah pernyataan bahwa jet tempur dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal dan juga terbang dan seperti pesawat tempur normal.

yak 141

Dalam situasi putus asa yang sama, pada tahun 1976 Soviet memperkenalkan jet melompat mereka sendiri. Seperti Harrier, Yak-38 memiliki mesin besar dengan nozel berputar untuk angkat vertikal. Tidak seperti Harrier, jet Soviet STOVL juga mengemas dua mesin tambahan kecil di bawah untuk tinggal landas.

Terbang dari operator kecil angkatan laut Soviet, Yak-38 bahkan lebih berbahaya daripada Harrier. Sebanyak setengah jet jatuh sebelum Moskow kemudian memilih langkah bijaksana dengan mempensiunnya pada tahun 1991. Perusahaan yang sama merancang dan membangun Yak-38 yang didasarkan dari Yak-141 yang dihentikan karena keburu Uni Soviet runtuh.

Akhirnya Harrier sebagai satu-satunya jet melompat yang masih hidup sampai saat ini. Dan pada awal tahun 2000, Lockheed Martin mulai mengembangkan F-35B untuk menggantikan Harrier. Seperti Yaks, F-35B memiliki fitur tambahan mesin menghadap bawah untuk operasi vertikal.

f-35b-03

Menurut media China, J-18 akan terbang dari kapal serbu baru yang sedang dalam pembangunan untuk angkatan laut China. Tapi itu prospek untuk operasi berbasis tanah kemungkinan juga besar untuk digerakkan di Pasifik. Jeffrey Lin, seorang analis perusahaan konsultan Noetic Corporation, Washington, D.C memperkirakan J-18 akan didasarkan di pulau-pulau kecil sebagai dukungan udara organic jika pecah konflik.

“Setidaknya beberapa pulau yang diperebutkan diklaim oleh China mungkin tidak dapat mendukung landasan pacu besar atau bahkan jika mereka lakukan, landasan pacu bisa menjadi rentan terhadap serangan musuh,” kata Eric Wertheim, seorang ahli angkatan laut independen dan penulis Combat Fleets of the World. “Kapasitas STOVL mungkin bisa memungkinkan pesawat tempur China untuk beroperasi dari fasilitas atau lokasi tesembunyi.”

Dengan skuadron J-18 mereka, pulau-pulau buatan manusia China bisa seperti kapal induk yang tidak dapat tenggelam dan berpatroli permanen di perairan Pasifik Barat yang disengketakan.

Tetapi lagi-lagi The Daily Beast menyebut ini ide yang memabukkan untuk-China dan membantu menjelaskan mengapa Beijing begitu bersemangat untuk menyalin pesawat dengan kemampuan STOVL yang sangat mahal. “Tampaknya konflik Laut China Selatan membuat Partai Komunis China putus asa,” tulis media itu.

Kondisi makin jelas ketika PLA mengumumkan di bulan Maret bahwa insinyur di Chengdu Aircraft Industry Group bekerja pada jet melompat, apa itu benar-benar berarti adalah bahwa mereka bekerja pada mesin untuk STOV? menurut Lin. “Ini hanya sebuah proyek penelitian,” katanya. Dia memperkirakan bahwa Chengdu akan membutuhkan 10 sampai 15 tahun untuk bekerja merakit pesawat STOVL, untuk apa pun yang layak.

Ini tidak akan murah. “Berapa banyak miliaran dolar yang dibutuhkan bagi kita untuk sampai ke tempat kita sekarang [dengan Harrier]?” tambah Nordeen.

Untuk memahami mengapa China akan mengikuti Jerman, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet menuruni jalan yang mahal dan sering seringnya fatal untuk mampu membuat pesawat STVOL yang jauh tidak lebih mampu dibandingkan jet tempur konvensional adalah konflik Laut China Selatan.

“Kau harus mulai berpikir dalam hal proyeksi kekuatan dan pengaruh,” Nordeen menjelaskan. Jika ditelaah lebih dalam pernyataan Nordeen itu bisa diartikan bahwa Beijing tidak keberatan menghabiskan banyak uang dan mungkin mengorbankan banyak pilot untuk pesawat perang model ini. Seperti setiap jet melompat yang pernah dibuat dengan biaya sangat mahal tetapi rentan dan tidak bekerja dengan baik.

jejaktapak
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment