Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

30 September 2015

GOYANG 35 – GARUDA ASIA VI

7:14 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
Sukhoi 35 & Mig 35 (by galm11)
Sukhoi 35 & Mig 35 (by galm11)
ANALIS:(DM) - Goyang Dua Lima…..Dua Lima….. yah begitulah sepenggal lirik lagu yang lagi trend di tanah air saat ini. Namun dalam dunia Alutsista angka 25 jelas sudah ketinggalan jaman. Saat ini yang lagi ngetrend ya angka 35. Bagi pengamat militer jelas sudah paham secara garis besar seluk beluk pengadaan Alutsista sejatinya tidak terlepas dari permainan Intelijen. Saat pemerintahan Presiden SBY hendak membeli kapal selam Kilo Class maka pihak Australia tak ketinggalan pasang alat sadap untuk mencari tahu jenis Lontong yang dipesan Indonesia.
Untuk menyenangkan pihak Aliansi Barat maka dipilihlah pembelian pesawat bekas F16 C/D blok 25 yang kemudian disulap menjadi blok 52id. Taiwan saja yang telah memesan pesawat F16 blok C/D hingga sekarang belum juga dikirim oleh Amerika masih harus menunggu 1 Oktober 2015 karena faktor politis kedekatan AS dengan Beijing. Nah lantas dengan telah ditetapkannya pembelian Sukhoi SU-35 sebagai pengganti F5 Tiger maka tentu menciptakan Bargaining Power bagi pemerintah RI dengan pihak Amerika.
Bukan rahasia umum lagi bilamana Indonesia membeli Alutsista dari Amerika maka selalu diberi versi export yang spesifikasinya selalu berada dibawah yang dimiliki standar militer Amerika. Program Pembuatan pesawat KFX/IFX ternyata juga mengalami kendala diantaranya pihak pemerintah Amerika tidak mengijinkan dilakukannya ToT terhadap 4 jenis teknologi strategis.
Kalau Obama menginginkan Indonesia lebih dekat ke Aliansi Barat ketimbang condong ke Rusia dan Cina maka Amerika harus bersedia menjual F16 Blok 60 dengan standar militer Amerika. Pengadaan pesawat Super Tucano pun juga mengalami kendala dimana Brazil ngambek sebagai dampak warganya dieksekusi karena tersangkut peredaran Narkoba.
Dalam pengadaan Alutsista TNI AU tentulah TNI dan Pemerintah telah memiliki rencana penggantian. Pesawat Hawk MK-53 telah diganti TA 50i Golden Eagle dan Pesawat OV-10 Bronco telah digantikan dengan Super Tucano. Tarik ulur permasalahan Tot (Transfer of Technology) pada akhirnya memunculkan sistem penjualan dengan cara “Bundling” atau sistem paket seperti kasus pembelian disertai ToT antara Indonesia dengan Korea yang meliputi kapal LPD, Kapal selam, TA 50i Golden Eagle, KFX/IFX dan juga meriam.
Pada masa KASAU dijabat oleh Marsekal Imam Sufaat, TNI AU telah menyeleksi empat jenis pesawat sebagai pengganti Hawk Mk-53. Keempat tipe pesawat yang lolos ke seleksi tahap akhir adalah Yakovlev Yak-130 buatan Rusia, FTC2000 (Guizhou JL-9) buatan China, Aero L-159 buatan Ceko dan yang terakhir T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Akhirnya T-50i menggantikan keberadaan dan peran Hawk MK-53. Pesawat tempur lainnya yang telah memasuki masa pensiun seperti Hawk 100/200 milik TNI AU dan juga Super Tucano yang bermasalah dalam pengadaannya sudah saatnya diganti dengan skadron type pesawat terbaru untuk menghadapi memanasnya konflik Laut Cina Selatan.
Membeli Alutsista dari Rusia memang relatif mudah bahkan disediakan fasilitas Soft Loan dan tanpa embel-embel pernah melakukan kejahatan HAM atau dilarang untuk digunakan memerangi Teroris/pemberontakan di dalam negeri. Untuk memperoleh ijin ToT dari pemerintah Rusia tentunya juga tidak akan diberikan bilamana membeli dalam jumlah ketengan/sedikit. Maka belajar dari kasus pengadaan Alutsista dari Korea sebaiknya TNI AU dan pemerintah mempertimbangkan sebagai pendamping SU-35 juga dilakukan pembelian MIG-35 sebagai pengganti Skadron Hawk 100/200. Apabila hal ini dilakukan maka akan menambah point Bargaining Power pemerintah Indonesia kepada pemerintah Amerika dan belum lagi kalo pemerintah mempertimbangkan pembelian MBT T-14 Armata yang saat ini konon lagi musim SUPER SALE 50% Discount !
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment