Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

24 September 2015

Strategi Militer dan Akusisi Alutsista Indonesia

12:31 AM Posted by Ikh Sanudin No comments
ANALIS:(DM) - Saya agak awam, tapi rasa ingin ngasih sedikit catatan mengenai tulisan “Kesalahan Akuisisi Alutsista”
-Bagi Indonesia ajakan korsel adalah sebuah lompatan dan percepatan penguasaan teknologi yang mungkin 20-30 tahun ke depan baru bisa dijalankan, jika tidak ada negara yang menawarkan kerjasama.
Dengan karakteristik pembelian alutsista Indonesia yang max hanya 1 skadron, maka mustahil kita bisa seperti  India, atau China yang bisa punya bargain yang kuat dalam hal perakitan dan penguasaan teknologi pesawat tempur. Bahkan India yang sudah beli banyak alutsista dari Rusia, akhirnya mendaptkan teknologi jet Tejas dari Prancis (bentuk fisik tejas bahkan sangat mirip dengan mirage III perancis). Jadi tidak ada yang salah dengan ikutnya Indonesia dalam proyek kfx. Yang salah adalah karena proyek itu mandeg.

– Soal pesawat Super Tucano. Memang pesawat ini andalan dalam coin. Beberapa negara amerika latin mengandalkan helikopter dan super tucano dalam perang melawan para gerilyawan pemberontak dan sindikat narkoba. Superioritas tucano dalam menjalankan operasi coin tidak diragukan lagi.
Battle proven!! Karateristik hutan belantara amerika latin dengan karakteristik hutan di mana potensi pemberontak ada di wilayah Indonesia adalah sama. Sebut saja OPM di Papua misalnya. Jadi tidak ada yang salah dengan pembelian tucano. Memodifikasi pesawat Angkut seperti CN 235 menjadi lincah seperti tucano dalam menjalankan coin tentu sangat sulit dan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
N219 sampai 7-10 tahun ke depan belum tentu bisa operasional, itu pun masih versi komersilnya, belum lagi mengubah ke fungsi tempur coin, lebih masuk akal diubah ke fungsi angkut militer. Kalau sekedar mencantelkan senapan mesin sih mudah-mudah saja. Jadi memang dengan pensiunnya bronco, harus segera diisi dengan pesawat coin pengganti.
Mengandalkan pesawat tempur jet untuk menjalankan operasi coin tentu kemahalan dan tidak efektif. Coba bayangkan menerbangkan satu flght hawk cuma buat nembakin & menjatuhkan roket FFAR saja menghadapi pemberontak di hutan belantara, kan mubazir dan tidak efekif. Jadi tidak ada yang salah dengan pembelian tucano. Yang salah adalah keterlambatan delivery dan menghilangnya tucano dari penerbangan TNI AU kita.
Kemana tuh Tucano??
– F-16 yang katanya usang. Kenapa kita tiba-tiba beralih beli 24 f16 refurbish?? Tentu karena Tiongkok menjadi sangat agresif di LCS. Kalau kita lihat penempatan f-16 di Pekanbaru (skadron 16) , tentu tujuannya adalah dalam rangka menghadapi agresifitas Tiongkok di LCS, yang notabene juga bersinggungan dengan Natuna di Kepri. Kenapa f-16?? Kaena Tiongkok tidak mungkin dihadapi dengan pesawat teknologi Rusia.
Semua alat perang Tiongkok adalah alat perang Rusia, baik yang beli, yang setengah beli, yang nyontek, maupun yang nyolong. Itu semua teknologi Rusia. Makanya, berapa banyak pun Sukhoi Vietnam, berapa banyak pun kilo class Vietnam, berapa banyak pun steregushchy class Vietnam, Tiongkok tidak akan pernah takut dengan Vietnam.
Tiongkok tetap agresif berhadapan dengan Vietnam. Karena semua punya Vietnam itu, luar dalam, jeroan, kelemahan, cara menghadapinya Tiongkok tahu! Tapi f-16 Indonesia, biarpun refurbish dan (memang) digembar gemborkan setara block 52, Tiongkok merasa perlu berhati-hati. Apalagi jumlahnya 2 skadron.
F-16 itu memang tidak dimaksudkan untuk berhadapan dengan Australia atau pun Singapore. Diplomasi militer dengan Singapore adalah diplomasi hawk sebagai sinyal bahwa kita bersahabat dengan Singapore. Kalaupun Singapore menjadi agak berlebihan maka diplomasi ditingkatkan menjadi diplomasi Sukhoi. Diplomasi kita dengan Australia adalah diplomasi Sukhoi.
Itu sedikit catatan saya yang awam ini, mudah-mudahan mudeng.
oleh : Wartegfans  JKGR
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment