Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

06 November 2015

Akhir Konflik Laut China Selatan – Naga Asia III

12:23 AM Posted by Ikh Sanudin No comments
Ilustrasi Ledakan Bom Nuklir - (hipertextual.com)
Ilustrasi Ledakan Bom Nuklir – (hipertextual.com)
LCS:(DM) - Pelan tapi pasti Konflik Laut China Selatan pasti akan berakhir dengan perang. Perang memang merupakan cara terakhir untuk mengakhiri perselisihan/konflik yakni dengan cara kekerasan militer. Sekalipun perang dilalui dengan cara brutal dan pasti akan menelan korban jiwa baik dikalangan sipil maupun militer namun masing-masing pihak selalu memancing dan menunggu pihak mana yang akan memulai duluan. Secara hukum seolah-olah pihak yang diserang akan dianggap benar karena melakukan aksi bela diri (Self Defence) sementara pihak yang terlebih dahulu menembak akan disebut si penyerang/pembuat onar (Aggressor). Dengan pertimbangan hal seperti itu maka diplomasi militer yang dilakukan adalah dengan menggelar Operasi Patroli sekaligus melakukan Aksi Intelijen mengumpulkan peta/medan pertempuran, data kekuatan dan kelemahan lawan dan kalaupun bertemu dengan pihak lawan biasanya hanya akan melakukan “aksi trabakan kapal tak sengaja” dengan alasan kerusakan sistem navigasi.
Klaim sepihak China atas wilayah Laut China Selatan yang ditandai dengan sembilan garis putus-putus (Nine Dash Lines) dikabarkan telah diajarkan di sekolah-sekolah China sejak tahun 1940an. Penyelesaian konflik Klaim Laut China Selatan ini pihak China dengan tegas menolak diselesaikan melalui peradilan Arbritase Internasional. Belajar dari kesalahan fatal yang dilakukan Indonesia dalam penyelesaian sengketa pulau Sipadan dan Ligitan yang dibawa ke peradilan Arbritase Internasional dimana pihak Indonesia dikalahkan secara licik oleh Malaysia dan tentu saja dengan dukungan Five Power Defence Arrangements (FPDA).
Cara yang dilakukan Malaysia tatkala pihak Indonesia menganggap Status Quo pulau Sipadan dan Ligitan harus tidak boleh dihuni/dikosongkan karena masih dalam status sengketa sementara pihak Malaysia secara diam-diam membangun Resort yang sangat bagus, membangun pelestarian taman laut dan tempat wisata air lainnya dan juga memasukkan kedua wilayah pulau itu kedalam peta nasional Malaysia secara sepihak. Akhirnya peradilan Arbritase International memutuskan bahwa Malaysia sebagai pemilik yang sah atas pulau Sipadan dan Ligitan dengan alasan pihak Malaysia memiliki perhatian atas pengelolaan pulau dimaksud.
Dengan strategi yang sama tatkala China kini semakin kuat maka serta merta mereklamasi dan membangun pos serta pangkalan militer di karang (rocks or reef), daratan yang menyembul (low tide elevation) hingga pulau tak berpenghuni (Inhabited Islands) sekalipun berada pada jarak yang terlampau jauh dari ketentuuan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 nm atau kurang lebih 370km yang ditetapkan UNCLOS. Diarea yang diklaim China dengan batas 9 garis putus-putus jelas terkandung kekayaan alam yang melimpah baik kandungan minyak, gas hingga sumber daya hayati. Pulau Natuna tidak berani diklaim masuk 9 Dash Line karena secara de facto dihuni oleh penduduk Indonesia sehingga secara hukum UNCLOS jelas milik Indonesia. Negara-negara yang justru dekat dengan “Pijakan Daratan” yang diperebutkan tentu saja meradang namun sudah pasti mereka akan kalah secara militer dengan China.
Industri Militer China bukan saja mampu memproduksi peralatan perang namun juga mampu melakukan “kloning” atas teknologi militer terkini yang dimiliki musuh. Sesungguhnya militer China saat ini belum memiliki daya gebug yang mumpuni secara konvensional namun secara paralel langsung membangun pos dan pangkalan militer diarea yang dipersengkatan dengan melakukan reklamasi. Amerika kini baru saja sadar bahwa negara adidaya yang selalu bergaya Cowboy dan menjadi Sheriff ternyata telah kecolongan oleh langkah China. Maka demi memperebutkan kekayaan alam yang tak terbarukan pihak Amerika mencoba menggalang kekuatan dengan negara-negara yang bersengketa dengan China atas konflik laut China Selatan. Kekuatan militer Amerika yang sebelumnya banyak disebar di negara timur tengah kini mulai dilakukan rotasi ke wilayah konflik Laut China Selatan (US Rebalance to Asia Pacifik).
Izumo Class dan Hyuga Class – LHD Jepang (defence.pk)
Izumo Class dan Hyuga Class – LHD Jepang (defence.pk)
Pada akhirnya perang atas konflik Laut China Selatan (LCS) melibatkan China (+Rusia) melawan aliansi Amerika Jepang, Filipina, Thailand dan negara-negara FPDA (Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura). Amerika memang memiliki perjanjian militer dengan Jepang dan Filipina. Posisi Rusia secara tidak tampak terang-terangan jelas membela China khususnya melalui Armada Kapal Selamnya. Sementara Indonesia yang menjalankan politik bebas aktif juga bertindak Non-Block dan tidak mau terlibat secara militer kedalam konflik terlebih setelah merasakan dipecundangi kasus lepasnya Sipadan-Ligitan, Timor Leste dan juga Sabah&Sarawak. Brunei dan Timor Leste menarik diri dari konflik LCS dan memilih bergabung dengan Indonesia.
Pada akhirnya konflik Laut China Selatan akan diselesaikan melalui perang. Dan kali ini perang yang terjadi diperkirakan diluar perhitungan dan membawa dampak yang luar biasa. Latar belakang yang menguatkan dilakukannya tindakan militer bukan saja karena rebutan wilayah kekayaan alam namun juga menguatnya pertumbuhan Industri militer China, hutang AS terhadap China yang semakin membengkak dan perang US Dollar Vs Yuan.
Konvoi Kapal Perang China (worldbulletin.net)
Konvoi Kapal Perang China (worldbulletin.net)
Aksi provokasi yang dilakukan AS secara tidak sengaja akan memicu perang. Perang yang terjadi melibatkan peralatan canggih, modern dan mematikan. Apabila China kalah maka bukan saja harus melepaskan wilayah klaim namun bisa jadi akan diminta untuk membayar biaya perang hingga menghapuskan hutang AS kepada China. Sadar akan hal ini maka bagai pepatah “Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu” akan dilakukan perang nuklir. Medan pertempuran sebagian besar akan terjadi di Teater Laut China Selatan yang melibatkan Kapal Selam, Kapal Permukaan, Pesawat dan helikopter. Menurut prediksi perang LCS akan meletus kurang lebih 13 tahun dari sekarang dan berlangsung selama kurang lebih 1 tahun. Perang perebutan Laut China Selatan akan menelan korban tenggelammnya kapal induk (Aircraft/Helicopter Carrier) China (-3), Amerika (-2), Australia (-4), Jepang (-3), Singapura (-2), Thailand (-1). Belum lagi jumlah kapal perang permukaan, kapal selam, pesawat dan helikopter. Dan hal yang paling mengerikan adalah jatuhnya korban bom/rudal nuklir di negara China, Amerika, Jepang, Australia, Inggris, Malaysia, Singapura, Vietnam, Philipina, Thailand, Papua Nugini, dan New Zealand,
Indonesia boleh saja menjadi penonton pada saat itu namun perlu dicermati dan dimitigasi risiko efek bom nuklir khususnya di daerah dekat Singapura dan Malaysia. Kalo jumlah pengungsi Suriah saja sudah membingungkan negara-negara Eropa lantas bagaimana pada saat itu pengungsi dari negara tetangga masuk secara bergelombang ke NKRI. Untuk mempersiapkan situasi Chaos sebagai akibat eskalasi konflik Laut China Selatan maka anggaran militer NKRI minimal harus sebesar 5% dari PDB. Keserakahan manusia dalam memperebutkan wilayah dan sumber daya alam yang terbatas pada akhirnya dapat membawa umat manusia ke jurang kesengsaraan. Semoga pihak-pihak yang bertikai dapat mengendalikan emosinya dan lebih bijaksana dalam berdiplomasi sehingga perang laut China Selatan dapat dihindarkan.
Diposkan : Suhu Ayoeng – Biro Semarang  JKGR
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment