Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

15 November 2015

Alternatif Pengembangan Pesawat IFX

7:01 AM Posted by Ikh Sanudin No comments
skad
(Photo: Pesawat MIG Indonesia di era Tahun 60-an )
jakarta moscow:(DM) -Kalau kita mengingat ke masa lalu sungguh indah negeri ini dengan segala alutsista yang menggetarkan Asia, bahkan dunia. Dengan peralatan perang tercanggih di masanya terutama TNI AU, Indonesia menjadi macan di Asia. Yang menarik adalah keberadaan sederetan pesawat tempur seri MIG  yang lengkap dan menjadi andalan di udara NKRI yang kita cintai. Era tahun 60-an adalah era kehebatan angkatan udara Indonesia dengan lebih dari 120 pesawat tempur MIG seri mulai dari MIG 15, MIG 17, MIG 19 dan yang paling tercanggih pada masanya MIG 21 bersama puluhan pesawat pembom kelas berat made in Uni Soviet (Rusia).
Setelah jatuhnya rezim Soekarno (Orde Lama), digantikan dengan rezim baru Soeharto (orde baru), pelan-pelan taring macan tersebut mulai tumpul bahkan menjadi macan ompong. Saat orde baru haluan alutsista kita lebih menjorok ke barat, alusista made in Uni soviet (Rusia) diberangus habis tak tersisa seiring dengan memburuknya hubungan bilateral Indonesia – Soviet. Sampai saat ini kehebatan persenjataan matra udara kita belum mampu memecahkan rekor kehebatan di tahun 60-an.
Perlahan tapi pasti setelah jatuhnya rezim Soeharto (orde baru ) hubungan bilateral dengan Rusia mulai diperbaiki dengan diawali pembelian 4 sukhoi SU 27/30. Rasa optimis untuk mengencangkan otot matra udara kita semakin menguat dengan keadaan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik.
Indonesia mulai menata kembali persenjataan segala matra terutama matra udara dengan memperbaharui dan melengkapi pesawat tempurnya dengan menambah pesawat SU 27/30 menjadi 1 Skuadron, pembelian pesawat latih Grob dan TA/FA50i, pesawat anti gerilya, pesawat angkut dan yang paling menghebohkan kawasan adalah rencana Indonesia untuk bisa mandiri dalam mebuat pesawat tempur dengan melakukan kerjasama dengan Korea Selatan dengan Program IFX/KFX.
image003
Belum lama ini kita mendengar beberapa isu mengenai pesawat KFX/IFX hasil kerjasama Indonesia dengan Korea Selatan di mana dalam perjalanannya mengalami beberapa hambatan. Yang terakhir mengenai isu gagalnya Transfer Of Technology ( TOT ) LM untuk 4 teknologi inti yang dapat menghambat program IFX/KFX dan membuat Korea Selatan berpikir keras untuk mendapatkan 4 teknologi inti: radar AESA , Infrared Search and Track System, Electronic Optics Targeting Pod dan Radio Frequency Jammer. Ssebagai solusinya Korea Selatan mencoba menjalin kerjasama dengan negara pihak ketiga yang mau berbagi teknologi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pesawat IFX/KFX . Keterikatan Korea Selatan dan Amerika Serikat sebagai salah satu sekutu dekatnya di Asia akan mempersulit Korea Selatan bekerjasama dengan perusahaan dari negara lain selain LM dan Boeing.
Di sinilah peran Indonesia dibutuhkan, Indonesia sebagai negara Non Blok kemungkinan masih dengan bebas bisa memilih kerjasama dengan pihak ketiga dalam hal pengembangan teknologi pesawat tempur dengan dalih untuk mengganti pesawat tempur yang sudah lawas dengan syarat TOT. Sejauh ini yang secara vulgar dan terang-terangan siap berbagi teknologi pesawat tempur baru adalah Typhoon dan Gripen NG. Akan tetapi yang jadi pertanyaan, apakah TOT yang diberikan bisa menutupi kekurangan dalam program IFX/KFX. Apabila kesulitannya adalah dana ada baiknya pemerintah melobi Korea Selatan dan membuat perjanjian tertutup dimana Korea selatan untuk ikut sharing dana agar indonesia mendapatkan TOT yang dibutuhkan, kemudian berbagi ilmu dengan Korea Selatan dari hasil TOT tersebut untuk digunakan dalam pengembangan pesawat IFX.
Dengan semakin membaiknya hubungan Indonesia – Rusia tidak ada salahnya pemerintah melalui Kemenhan dan TNI AU sebagai User mencoba alternatif lain dari Rusia dengan melakukan pembelian pesawat tempur secara G to G untuk pengembangan Pesawat Tempur IFX. Yaitu dengan mengakusisi Sukhoi SU 35 dan MIG 35 dengan perbandingan 1 berbanding 2 dalam pembeliannya misalkan dengan 1 Skuadron SU 35 dan 2 Skuadron MIG 35 di mana syarat transfer teknologi harus diberikan MIG 35 jika pihak sukhoi tidak bisa memberikan TOT yang dibutuhkan Indonesia. Karena dua pesawat tersebut dari kelas yang berbeda maka TNI/Kemenhan harus mengakusisi dua pesawat tersebut untuk bisa saling melengkapi satu sama lain dan dari segi harga juga MIG 35 Lebih murah dibanding SU 35. Dimana pesawat tempur SU 35 sebagai pengganti Pesawat F-5E yang sudah uzur sedangkan MIG 35 sebagai penambahan Skuadron baru.
Dengan harga MIG 35 yang terbilang murah (± USD 35 – 40 Juta) kita bisa mendapatkan 2 Skuadron sekaligus sebagai penambahan skuadron baru, di mana pemerintah Indonesia dalam program MEF nya sampai 2024 akan ada penambahan skuadron baru. Pesawat multirole yang mampu terbang di landasan pendek, berkecepatan tinggi, bermanuver dengan baik, berkemampuan tempur BVR dan punya daya jelajah yang jauh.
Saat ini yang tersemat dalam teknologi Pesawat MIG 35 bisa menjadi alternatif karena karakteristik pesawatnya hampir sama dengan karakter pesawat IFX yang sedang dikembangkan Indonesia. Seperti halnya SU 35, pesawat MIG 35 hanyalah jembatan menuju pesawat generasi 5 dan masih ada kemungkinan dikembangkan bersama dengan PT DI jika pemerintah serius ingin membangun industri pesawat tempur. Mengingat MIG sendiri sedang membutuhkan dana untuk program pesawat selanjutnya. Jumlah pesawat di atas juga masih ada kemungkinan bertambah hingga tahun 2024 yaitu sekitar 180 pesawat tempur seperti yang tercanang hingga program MEF 3 selesai.
image007
 Belum lama ini pemerintah Rusia pun telah menyatakan siap untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam bidang pertahanan, baik melalui lisensi produk pertahanan atau bekerjasama dalam pengembangan produk pertahanan terbaru. Jika pemerintah Indonesia jeli dan peka dalam menyambut sikap Rusia terhadap sistem pertahanan Indonesia, maka akan menjadi langkah positif dan kemajuan tersendiri dalam teknologi di bidang pertahanan udara dan kedirgantaraan negara kita. Bukan tidak mungkin pada tahun 2030 nanti era kejayaan kita pada tahun 60-an akan terulang kembali menjadi Macan Asia.
Posted by: Bung AL  jkgr
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment