Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

26 November 2015

“If They Dare to Mess With Us, We Will Kick Their Butt”

7:31 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
MATADOR (Man-portable Anti-Tank, Anti-DOoR)
MATADOR (Man-portable Anti-Tank, Anti-DOoR) Singapura
BATAM:(DM) - Singapura merupakan negara tetangga Indonesia, negara kota yang berada di semenanjung dengan letak strategisnya sebagai salah satu daerah jalur perdagangan tersibuk di dunia. Negara ini sudah lama berkaca dari kekuatan dan kemandirian Israel. Singapura yang makmur kemudian meniru secara total bagaimana Israel menempatkan kemampuan militernya sebagai salah satu sarat mempertahankan eksistensi. Dijejali dengan banyak persenjataan mutakhir dari US, Israel dan NATO dengan teknologi yang berbeda dari varian standarnya. Mulai dari pesawat tempur, helikopter, kapal perang, kapal selam, tank, sistem komunikasi terpandu yang modern dan juga didukung oleh satelit mata-mata kerjasama Israel-Singapura. Tapi, negara kecil tetaplah negara kecil.
Negara ini phobia akan datangnya ancaman dan serangan dari luar. Di mana kemudian ke-phobian ini seiring perjalanan waktu berubah menjadi suatu kebiasaan dalam mendikte demi mengamankan posisinya dan melakukan suatu kebijakan serta cara licik di kawasan yang banyak merugikan negara tetangganya. Contoh, Malaysia dengan Singapura terkait kasus suplai air bersihnya yang sempat akan saling serang dan juga Singapura-Indonesia terkait aktivitas mereka dalam memberikan kerjasama dengan negara-negara tertentu untuk memata-matai Indonesia. Belum lagi masalah FIR, ektradisi koruptor, reklamasi dan kebijakan luar negeri Indonesia dan banyak lagi.
Negara dengan jumlah penduduk sekitar 6 juta ini begitu risih dengan adanya tetangga besar yang kelak di dalam suatu kesempatan dapat membahayakannya di bidang ekonomi dan keberlangsungan eksistansinya sebagai sebuah negara kota seluas 716 km persegi.
Bagaimana tidak, negara ini menyadari potensi Indonesia di masa depan. Suatu kepastian yang nyata bahwa tanpa adanya intervensi asing yang bersifat ancaman dalam hal kestabilan politik, ekonomi dan diplomasi negara dan jika dalam perjalanannya negara ini tidak terlibat konflik konvensional skala-skala panjang maka pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara ekonomi terkuat ke 5 di dunia. Itu hanya dari sudut ekonomi, dari sudut pandang militer, negara dengan 350.000 pria yang bertugas sebagai serdadu cadangan dan 72.500 pria lainnya membentuk pasukan nasional dan korps reguler ini bukanlah tandingan bagi postur TNI di masa depan dengan kemungkinan di tingkatkannya jumlah pasukan reguler yang mencapai 1 juta jiwa.
Itulah sebabnya Singapura terus berusaha mengganggu kestabilan Indonesia dalam hal politik, ekonomi dan isu yang menyangkut keamanan. Ingat, mereka selalu menjadi negara yang terdepan dalam berkomentar sinis dan tidak berusaha untuk tidak terlampau membesar-besarkan berita ini kepada komunitas internasional menyangkut isu-isu keamanan, kebakaran hutan, kebijakan hukuman, terorisme di Indonesia dan juga menyangkut keamanan laut di Selat Malaka . Intinya mereka ingin Indonesia dikucilkan, dianggap tidak aman, negara dengan pejabat terkorup, negara yang membiarkan terorisme tumbuh subur dan hal-hal lain, yang dapat menjatuhkan image Indonesia. Sejatinya walaupun hal ini juga dilakukan banyak tetangga Indonesia, tapi yang paling berbahaya adalah Singapura.
Karena alasan inilah salah satu pemimpin Indonesia saat itu jengah dan sadar bahwa jika ini dibiarkan terus-menerus maka ini akan berdampak tidak baik ke depannya bagi masa depan kestabilan Indonesia. Berasal dari militer dengan pengalaman yang matang mengenai taktik dan srategi, beliau menjawab tantangannya dengan diplomasi gun boat.
Awal diplomasi gun boat Indonesia diawali dengan mencari alasan paling masuk akal untuk melaksanakan diplomasi ini. Apakah itu? Ingat kejadian Sipadan dan Ligitan. Tentang bagaimana Indonesia kehilangan pulau-pulau terluarnya dikarenakan kalah di mahkamah internasional dengan Malaysia karena adanya bangunan peninggalan Inggris di pulau itu. Walaupun menurut perjanjian Belanda-Inggris pulau itu sudah di serahkan Inggris kepada Belanda.
Menyadari bahwa Malaysia berniat mengklaim pulau-pulau dan wilayah terluar RI, maka dipikirkanlah cara yang masuk akal yang dapat dijadikan alasan bahwa INDONESIA membutuhkan peremajaan alutistanya dikarenakan terlalu lemah setelah diembargo untuk menjaga kedaulatannya. Lantas dimulailah Suatu cara dengan melakukan “keributan-keributan kecil”. Hal ini dilakukan untuk memancing pihak Malaysia yang orogan. Makian melalui alat komunikasi radio lautpun acap kali sering dilancarkan bila secara kebetulan kedua kapal itu berdekatan di area perbatasan. Dan tebak saja, Malaysia yang pongah yang menganggap dirinya lebih hebat dari Indonesia membalas, mereka berpikir kekuatan militer mereka dan posisi negaranya pasca perebutan 2 pulau tadi berada di atas angin. Padahal hal yang diharapkan Indonesia sendiri, mereka menunjukkan keberaniannya dengan menerobos batas wilayah Indonesia, maka mulailah gesekan tadi menjadi gesekan yang sebenarnya yang dilakoni oleh KRI. Tedong Naga dan Kapal Diraja Malaysia.
Lantas berita di dalam negeri mulai ramai memberitakan bahwa begitu ironisnya KRI Tedong naga yang merupakan kapal dari fiber melawan kapal malaysia yang terbuat dari besi. Ironis, hal ini memancing rasa nasiolisme dan jiwa patriotik masyarakat di Indonesia. Gayungpun bersambut, atas dasar keinginan rakyat untuk memperkuat kembali otot militer Indonesia, pemerintah mempunyai alasan mengemukan MEF di kawasan. Jadi bukanlah keinginan melakukan perlombaan senjata. Tetapi lebih kepada kemauan rakyat Indonesia untuk memperkuat kembali militernya untuk menjaga kedaulatannya.
Hal pertama terpikirkan adalah membeli korvet untuk memberikan deterant efek pada Malaysia dan kemudian setelah dirasakan memberikan efek jera, pemerintah mengalihkan perhatiannya kepada Singapura.
Maka dibentuklah KCR 40 yang dibuat oleh galangan lokal Pelindo.
Banyak orang menertawakan hal ini, termasuk orang Indonesia . Bahkan kabarnya di kalangan prajurit TNI pun ada. Mereka berpikir bahwa adalah perbuatan sia-sia membangun kapal kecil untuk menjamin keamanan dan stabilitas Indonesia di kawasan. Bayangkan negara tetangga dengan segala peralatan militer mutakhirnya dilawan dengan persenjataan yang bisa dikatakan “bikin sakit mata” Tapi, strategi militer tetaplah strategi militer. Mereka yang tidak tahu, tentu hanya menggerutu. Tapi,bagaimanapun itu karena mereka memang tidak tahu.
Pemimpin ini menyadari betapa negara-negara seperti Singapura adalah musuh nyata. Menyangkut Singapura sendiri kelak kemungkinan konflik dengan mereka sangat besar. Lebih besar dari negara-negara tetangga lainnya. Maka wajar, sebelum terjadi konflik maka negara inilah yang harus diantisipasi sejak awal sebagai pengganggu.
Bila terjadi konflik dengan Singapura, Batam adalah benteng pertama yang akan menghambat kekuatan udara dan laut Singapura dan juga merupakan daerah pertama dan penentu langkah kemenangan RI atas konflik ini. Tetapi, apa daya. Dengan kekuatan militer pada masa pemerintahannya itu tidak mungkin. Hampir tidak ada Alutista yang bisa memberikan Indonesia keunggulan dalam konflik ini. Menepatkan Astros adalah suatu kesalahan besar, karena Astros berada di pulau Jawa, saat terjadi konflik kemungkinan besar MLRS Astros tidak sempat dikirimkan ke sana karena Batam keburu dikuasai. Hal sulit lainya adalah apabila pada masa damai seperti sekarang Indonesia menempatkan MLRS Astros di sana ini akan memancing reaksi Singapura dan membawa masalah ini ke hadapan komunitas international dengan dalih kemungkinan Indonesia ingin menganakstesi Singapura dengan menepatkan unit artileri di sepanjang garis pantai Batam yang mengarah ke Singapura. Ini hal yang sulit.
Maka lahirlah ide untuk menciptakan sistem altileri berbasis laut yang disamarkan sebagai KAPAL CEPAT RUDAL. Mengapa mesti kapal yang dijadikan platformnya, yah jelas untuk mendapatkan kemukinan hit yang besar karena kapal sendiri bersifat mobile platform dan juga agar kelak bila terjadi chaos kita tidak perlu mendatangkan Astros yang jelas akan sangat terlambat dalam perjalanannya.
Ada yang merasa aneh???
Baiklah, ini cluenya.
1.Mari kita ketahui dahulu berapa unit rencananya kapal ini akan dibangun. Karena bila berbicara artileri yang anda butuhkan adalah jumlah dan daya hancur. Merunut dari perhitungan MEF tersiar kabar bahwa, “jumlah kapal ini akan berkisar 20 puluhan unit. Belum terhitung lagi dengan KCR 60 dan 80 m. KCR 40 membawa dua tabung peluncur pada tiap kapalnya”
2. Di manakah kapal-kapal ini akan ditempatkan??? Pembaca dari Batam dan Riau tentu tahu jawabannya bukan. Ya, tepatnya di sekitar Batu Ampar dan Sekupang.
Kenapa tidak di luar Batam?
“Seperti penjelasan di atas, kapal ini tidak dirancang untuk tujuan lain dan hal yang pasti pada masa pembuatannya kapal ini tidak dirancang untuk melayari lautan dengan tidak lebih dari sea level 3. Karena fungsinya bukan untuk itu mereka difokuskan pada pelayaran pesisir pantai”. Walaupun di berita Anda ketahui ditulis beda, silahkan bayangkan sendiri, kapal 40 meter anda hadapkan pada laut dengan gelombang setinggi 3 meter. Maka yang terjadi adalah NASI DIMAKAN KELUARNYA BUBUR.
THE IMPORTANT THING
3. ADAKAH YANG TAHU JENIS RUDAL APA YANG DI\ BAWA KCR 40 INI???
Mari, perkenalkan…
Rudal permukaan untuk serangan darat C705KD
C-705KD
A land attack version of C-705 designated as C-705KD made its public debut in the 9th Zhuhai Airshow in November 2012. [6] The radar seeker of the anti-ship version of C-705 is replaced by either a TV seeker or imaging infrared (IIR) seeker on C-705KD. [7] In addition, a data link is also incorporated to enable the operator to change the target after the missile is launched when needed, though the fire-and-forgot mode is still available at the same time. [8] C-705KD and C-705 are interchangeable on the same hardpoint “
Sekarang coba ingat-ingat kapan informasi perjanjian TOT untuk rudal C705 mengemuka. Ya, benar sekitar awal 2013. Sekarang coba cek kapan 9th zuhai airshow dibuka dan Kapan polemik pelanggaran perbatasan Malaysia Indonesia mengemuka.
Satu tabung Peluncur KCR 40 berisi 1 unit C705
Dan 1 tabungnya lagi berisi C705KD, sebuah hal yang sulit untuk membedakan kedua jenis rudal ini. Karena yang berbeda adalah hanya bagian radar seeker yang diganti TV seeker atau IR seeker. Di mana rudal ini dimaksudkan akan dipandu oleh piranti luar yang bertugas memasok posisi targetnya. Adapun data-data ini akan dimasukkan pada sistem SEWACO KCR 40. Itulah sebabnya kemarin berita seputar SEWACO ini senter terdengar. By the way… ada yang tahu kelak piranti pemantau apa yang akan diletakkan di Ranai?? Jangan berpikir itu adalah *** ********. Karena piranti ini memiliki kemampuan melebihi Aerostar walaupun sama-sama besutan ******. Benda ini juga dimiliki Singapura.
Jadi ceritanya benda ini akan memasok informasi sasarannya saat ia ******* di area ***** Indonesia. Ia tidak akan terdeteksi karena dia selama berada di wilayah kita. Tetapi kemampuan pengindaraannya dapat memantau Singapura dari daerah di sekitar pulau Batam. Sehingga saat konflik benda ini mengirimkan informasi daerah mana yang harus disasar C705KD (yang jelas bandara dan pelabuhan militer dan komersial tentunya).
Sekarang, kalian bangga bukan dengan kemampuan awal penangkal kita di semenanjung Malaka?
Jangan bangga dulu, INI MASIH AWAL.
Bonus buat semuanya.
Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Wakil PM Singapura Teo Chee Hean di Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi menegaskan Indonesia siap mengambil alih pengelolaan navigasi udara atau FlightInformation Region (FIR) di atas Kepulauan Natuna dari Singapura. “Presiden menyampaikan akan mengambil FIR yang sekarang masih dikendalikan Singapura.
Sumber http://m.metrotvnews.com/read/2015/11/24/453928/jokowi-tegaskan-ri-ambil-alih-navigasi-udara-natuna-dar
Oleh B Stepanus jkgr
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment