Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

23 November 2015

Kalau Mereka Tidak Memberikan, Jangan Khawatir Ada Orang Lain Menawarkan

3:42 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
KFX / IFX
Pertama-tama sebelum Anda mememahami bagaimana mengimplantasikan sebuah bus terminal data yang digabung dan koneksikan dengan suatu “device” yang berbeda sistem dan bahasa pemprogramannya (seperti pada sebuah pesawat tempur dengan menggunakan beberapa sistem ESM,ECM dan persenjataan yang bukan merupakan bagian dari standar programnya) ada baiknya teman-teman memahami informasi yang terdapat dalam link berikut. Ini hanya contoh penjelasan seberapa mungkin menggabungkan 2 teknologi berbeda menjadi satu kesatuan dengan menggunakan suatu “perintah yang bernama sourche code”
1. Baca artikel Swedia menawarkan paket pertahanan udara lengkap pada Indonesia. Termasuk di dalamnya sistem data link( kita bisa memiliki data link 16 dengan bergabung dalam slot access data link connection to the military satellite comunication yang mengelola link 16 tadi atas nama Swedia. Amerika tidak akan bisa berbuat apa-apa. Artinya system link 16 kita akan meminjam kemampuan yang Swedia miliki, alias berbagi server.
Dan setiap terminal procesing data bus yang dibuat Swedia atau Thales Prancis (bila terjadi kesepakatan) untuk setiap pesawat tempur IFX yang kita buat, akan mampu menerima “benda asing” yang ditanamkan kepadanya. Bila Thales tidak bisa, masih ada BAE system. Jadi, masalah selesai.
Bila Anda mulai mengerti, mari kita melangkah kepada akar masalahnya.
Tentang seberapa mungkinkah kita dapat menggabungkan 2 buah teknologi ke dalam sebuah pesawat tempur.
Seperti yang kita ketahui, US tidak mengijinkan 4 teknologi inti ditanam ke dalam KFX/IFX, agar pesawat F-35 tetap berada di singgasana superioritasnya. Melalui Lockheed Martin, US mengatakan bahwa 4 teknologi seperti: Targeting Pod, IRST, Jammer dan AESA Radar di-banned, tetapi, tidak dengan 21 teknologi lainnya.
KFX (photo: Chosun)
KFX (photo: Chosun)
Pertanyaannya apakah ke 21 teknologi ini membutuhkan source code ?  Jawabannya tidak.  Karena teknologi ini bukan teknologi yang dihubungkan dengan communication, command and tactical system secara terpadu, layaknya 4 teknologi inti tadi.  Artinya ke 21 teknologi ini adalah teknologi pesawat Amerika yang “biasa” seperti teknologi “pengaplikasian desain diamond cute pada sayap pesawat tempur yang dapat meningkatkan stealth pesawat tersebut” dan juga teknologi “weapon bay system” dan lain-lain yang terlaku panjang bila dijelaskan di sini.
Jadi, seberapa hebatkah 4 teknologi tadi mampu mengusung KFX/IFX menjadi pesawat Next Generation ?. Jawabannya mudah commrade.
4 TEKNOLOGI tadi adalah SYARAT MUTLAK sebuah PESAWAT GENARASI KE-5.  SEDANGKAN KE-21 TEKNOLOGI yang saya sebutkan tadi adalah SEGALA TEKNOLOGI yang MENDUKUNG SEBUAH PESAWAT MENJADI PESAWAT GENERASI KE-5.
Apa contohnya? TEKNOLOGI WEAPON BAY SYSTEM adalah suatu teknologi di mana persenjataan disembunyaikan di dalam pesawat. DIPADU DENGAN TEKNOLOGI DIAMOND SHAPE SAYAP KFX, maka jadilah RCS IFX yang dapat dibaca F-35 pada suatu pertempuran di jarak +90 adalah sebesar 0.1.Ini berbahaya karena F-35 memilik rcs terkecil saat ini, yaitu 0.01.
Karena hal ini, tentu saja KFX harus dapat mengendus F-35 dengan radarnya pada jarak +100 km untuk memastikan first shoot, first kill dengan menggunakan BVRAAM  seperti Meteor ( A beyond-visual-range missile (BVR) is an air-to-air missile (BVRAAM) atau missile BVRAAM buatan mereka sendiri yang mampu mencapai +132 km. Jadi solusinya adalah mendapatkan 1 teknologi yang bernama RADAR AESA yang mampu mengendus sebauh benda di radar yang memiliki rcs 0,01 pada jarak +100 km. Apakah ada ? Ada, ada beberapa negara yang menawarkannya ke Korea Selatan. Sekarang Semuanya jelas kawan.
Jadi, jika 4 teknologi inti tidak diberikan, sementara kamu memiliki puluhan pesawat pengembangan sebagai kelinci percobaan yang di dalamnya bisa kamu terapkan KANIBALISASI (jelas bisa. Karena ada perjanjian antara Indonesia dan Korea Selatan tentang beberapa spec yang boleh di-instal tergantung kemauan negara itu sendiri) dan juga sebuah cetak biru pesawat beserta kempuan yang didapat dalam belajar untuk membuat pesawat tempur ,apakah kamu diam saja dan tidak melakukan pengembangan?
(Berarti benarlah kata mereka, Indonesia punya segalanya tetapi manusia-manusia tak mampu mengolahnya. Terlena karena kekayaan alamnya dan menjadi manja. Bahkan tanahnya jika menggali beberapa puluh meter saja kamu akan menemukan sumber daya yang kamu butuhkan.
Tentang pertanyaan apakah Indonesia kelak akan memakai satellite mana, karena takut terkendala masalah penyatuan 2 teknologi tadi, maka itu tergantung user-lah. Tapi, ini clue untuk sedikit melihat dalam gelap :
AT – E is considered.
The Russian equivalent to the western JTIDS /Link 16 (Joint Tactical Information Distribution System) used with NATO air forces.
S- 112 aviation data communication system.
NKVS- 27 multi – channel voice / data communication system and AT – E data exchange terminal , connecting command and control centers with airborne aircraft .
radar
Sekarang coba bayangkan. Mana yang lebih laku di pasaran, pesawat IFX versi mutan dengan ijin custome pemesan atau pesawat KFX yang nantinya AS secara diam-diam akan memberikan versi downgrade dari 4 teknologi kunci kepada KFX. Di mana hal ini akan tetap menjadi rahasia Korea Selatan (KFX versi 4 teknologi yang walaupun down grade, tetap menjadi yang terbaik dari versi pesawat manapun yang dimiliki Korea Selatan) dan takkan menjualnya ke negara manapun, sebaliknya yang akan membuat korea selatan hanya menjual versi KFX standar yang tanpa 4 teknologi kunci. Lantas siapa yang akan pusing menambahkan F-15 sebagai pengawal tetap F-35 dalam setiap operasi tempurnya?
Apakah Indonesia merugi mengobral pesawat yang langka ini ke berbagai negara? Jelas tidak, karena kita punya program sendiri. Program yang sejatinya impian dasar kita. IFX bukan sepenuhnya milik kita, ada embel embel Korea di dalamnya. Kita perlu pengakuan dalam hal “made by”, karena itu pembelajaran mendalam tentang liku-liku yang bisa diterapkan dalam IFX harus dikuasai sepenuhnya seperti china dengan J-11 B nya.
Jadi, bukan suatu hal yang mustahil jika F-22 dengan F-35, maka berkhayallah ada LF-X yang bersandingkan IF-X.
By the way apa sih sebabnya LHD, korvet, kapal selam, pesawat angkut, helicopter, kendaraan lapis baja dan juga tank buatan luar dipaksakan dengan TOT yang paling tidak 30%? Kenapa ya ? Ooo ternyata untuk membuat Makassar class, Oooo ternyata ingin membuat Changbogo class versi Indonesia, Ooo ternyata ingin membuat PKR sendiri.
Ooo ternyata ingin mandiri, kuat dan bosan dilecehkan sambil memasang muka dua menunggu ekonomi membaik dan mengarahkan kepada tujuan prioritas sebagai negara maritim yang kuat yang ditopang oleh industri militer yang mampu di berbagai matra.
Oleh : Stepanus jkgr
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment