Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

24 November 2015

MiG : Antara Sejarah, Mimpi dan Kenyataan Pahit

8:19 AM Posted by Ikh Sanudin No comments
image001
MOSCOW:(DM) - Pada akhir 1930-an, Angkatan Udara Uni Soviet telah kaya akan pengalaman pertempuran udara. Pilot Soviet bertempur di Spanyol melawan pilot Luftwaffe yang paling berpengalaman, dan sengketa perbatasan dengan Jepang pada 1938-1939.Pada periode tersebut, pakar Soviet familiar dengan pesawat-pesawat terbaik Jerman dan jelas bahwa masa kejayaan pesawat lambat yang terbang rendah sudah hampir usai: Masa depan jelas menjadi milik pesawat tempur generasi terbaru yang dapat terbang dengan kecepatan beberapa ratus mil per jam. Soviet belum memproduksi pesawat semacam itu, kemudian memutuskan untuk menjadikan pabrik pesawat Moskow sebagai landasan desain untuk menciptakan pesawat baru. Sampai sekarang kecepatan menjadi ciri khas utama pesawat-pesawat tempur Rusia.
Biro tersebut terdiri dari sejumlah insinyur dan dikepalai oleh insinyur Artyom Mikoyan, dengan Mikhail Gurevich sebagai wakilnya. Keduanya sebelumnya bekerja di salah satu biro desain terkemuka Soviet yang diketuai Nikolai Polikarpov, dan staf utama pabrik baru ini juga diambil dari biro tersebut.
(Photo : Pesawat I-200)
(Photo : Pesawat I-200)
Polikarpov dan timnya sudah mulai mengembangkan pesawat tempur terbaru Soviet menggunakan desain I-200. Mikoyan dan Gurevich harus mengombinasikan pencapaian-pencapaian sebelumnya, memodernisasi tampilan pesawat yang sudah ada dan menawarkan hal yang benar-benar berbeda dengan pesawat yang sudah diproduksi oleh kompleks industri militer Soviet.
Mereka menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat dan pesawat tempur yang mereka ciptakan mengudara pada April 1940, tampil dengan mengesankan dalam misi pertamanya. Setelah beberapa perbaikan pada Desember 1940, pesawat tersebut kemudian diproduksi dengan nama baru, MiG, akronim dari huruf pertama kepala biro desain tersebut.
(Photo : MiG 3)
(Photo : MiG 3)
 Gambar : MiG InfoGrafik
Gambar : MiG InfoGrafik
Dalam beberapa bulan, MiG-1 digantikan oleh MiG-3, model yang lebih cepat dengan jangkauan lebih tinggi. Pada tahun-tahun awal Perang Dunia II, pesawat tersebut merupakan pesawat tempur tercanggih dan berjangkauan terluas milik Soviet, dibanding pesawat generasi terbaru lain. Lebih dari tiga ribu pesawat MiG-3 diproduksi pada 1942. Namun, produksi tersebut terhenti tahun itu karena Uni Soviet mengalami kerugian berat di medan tempur sehingga membuat industri tersebut tak dapat memproduksi mesin canggih MiG dengan jumlah yang layak.
Pabrik di Moskow kemudian dievakuasi ke kota Kuibyshev, Volga (kini disebut Samara), namun tak mampu mereproduksi seluruh rantai produksi komplek MiG  (ini baru terjadi setelah perusahaan tersebut direlokasi kembali ke Moskow). Perancang Soviet segera mendapat tugas baru dalam pertempuran melawan Luftwaffe, jelas bahwa langkah selanjutnya ialah mengembangkan mesin jet yang dapat meningkatkan kecepatan pesawat secara signifikan. Pembuatan mesin diserahkan pada Mikoyan dan Gurevich, dan pesawat MiG-9 berhasil menampilkan keunggulannya dan menjadi pesawat jet pertama Soviet pada 1946.
Setahun kemudian, perancang tersebut menciptakan jet baru, MiG-15, yang pertama kali terbang dengan kecepatan seribu kilometer per jam. MiG-15 ditakdirkan menjadi jet yang paling banyak diproduksi sepanjang sejarah, dengan 15.500 pesawat dibuat dalam jangka waktu sepuluh tahun. Hebatnya, pesawat terakhir bertahan hingga 2006 di Angkatan Udara Albania.
Pada tahun 1950-an, Mikoyan menyempurnakan modelnya yang tersohor. MiG-17 dan MiG-19 muncul untuk mendobrak batasan suara, dan MiG-19 dapat terbang dengan kecepatan 1.500 kilometer per jam. Namun terobosan sesungguhnya muncul dua dekade kemudian. Saat MiG-21 mengudara dan menjadi pesawat supersonik yang paling banyak diproduksi dalam sejarah, dibedakan dengan karakteristik konfigurasi triangular pada sayapnya. Selama bertahun-tahun, lebih dari 60 negara menjadi lahan penerbangan MiG-21.
(Photo : F 22 dan MiG 35)
(Photo : F 22 dan MiG 35)
Pada akhir 1960-an, insinyur Soviet bertekad menciptakan rival pesawat terbaru AS. Pesawat Soviet model lama lebih inferior dari desain AS dari segi jarak dan persenjataan, namun MiG-29 berhasil mengejar ketertinggalan tersebut pada 1980-an, dengan sebuah desain pesawat pembom yang dapat mengangkut lebih dari dua ton kargo dan juga mampu mengangkut hulu ledak nuklir. Namun MiG-29 juga tetap menjadi pesawat tempur, mampu terbang di ketinggian 18 kilometer dan dengan kecepatan 2.400 kilometer per jam, dengan jangkauan 1.400 kilometer.
Pada masa Soviet, cakupan produk MiG sangat luas, termasuk proyek tentatif MiG-105. Pertama kali muncul pada akhir 1960-an, pesawat antariksa tersebut kemudian terus dikembangkan hingga 1970, sebagai respon atas program AS, namun kemudian dibatalkan karena Soviet lebih memilih menjalankan program antariksa Buran.
Superioritas pesawat MiG perlahan sirna diawali dengan runtuhnya era komunis ( Soviet ) ditahun 1990-an. Dimana di masa sebelumnya sukhoi dan MiG bisa jalan bersamaan dan saling melengkapi berdasarkan fungsi dan tugas sehingga memiliki karakter tersendiri dari masing-masing pesawat. Di era 1990-an ( Rusia ) popularitas MiG perlahan-lahan memudar. Tanpa adanya dukungan dari pemerintah, MiG semakin sulit untuk mengembangkan riset pesawat terbaru yang sesuai dengan kebuuhan Angkatan Udara Rusia.
Biro desain tersohor ini mempertaruhkan pengalaman mereka, brand awareness, dan fakta bahwa, menurut Korotkov “pasar global untuk jet tempur ini cukup besar”. MiG memutuskan untuk mengikuti jejak kompetitornya, Sukhoi, yang dilakukan pada 1990-an. Langkah tersebut melibatkan perubahan target pasar pada pasar global dan menarik investasi asing untuk menciptakan pengembangan baru. Bedanya, kali ini MiG harus melakukan upaya tersebut tanpa kehadiran kontrak pertahanan.
(MiG 1.44 : Pesawat Generasi 5 MiG)
Sejak tahun 2000, negara menjadikan pengembangan yang dibuat Biro Desain Eksperimental Sukhoi sebagai prioritas. Hal tersebut karena perusahaan itu berhasil bertahan di tengah situasi sulit berkat kehadiran pesanan dari luar negeri dan membuktikan efektivitasnya. Di saat yang sama, proyek pesawat generasi kelima diambil dari Biro Desain Eksperimental MiG dan prioritas diberikan untuk proyek S-37 Sukhoi. Bahkan pada 1999, MiG 1.44 telah melakukan penerbangan pertamanya (prototipe pertama pesawat tempur generasi kelima MiG 1.44, atau Multifunctional Frontline Fighter/MFF).Pada akhirnya, meski negara siap menampung pesawat yang dibuat oleh MiG, pemerintah memilih untuk memprioritaskan pendanaan bagi proyek Sukhoi. Bahkan setelah jelas bahwa S-37 ditakdirkan untuk hanya menjadi model eksperimen, proyek MiG tetap diabaikan, dan pemerintah lebih memilih mengembangkan PAK FA, yang baru dimulai pada 2002, dan terbang untuk pertama kali pada 2010.
Pengembangan MiG 1.44 dimulai pada awal 1980-an, dan ketika Uni Soviet runtuh, desain awal dan model pesawat tersebut sudah siap, sehingga ia sangat layak untuk dikembangkan menjadi jet tempur generasi kelima. Pada tahun 1990-an, bahkan tanpa kehadiran dana, tim MiG membawa proyek ini ke tahap pengembangan sampel terbang pertama. Namun, sepertinya pemerintah tak membutuhkan hasil dari upaya tersebut.
Pada 2006, MiG menjadi bagian dari United Aircraft Corporation (UAC), yang kemudian mengurangi independensi dan prospek promosi bagi proyek biro desain eksperimental tersebut. Menurut Ovanes Mikoyan, putra dari pendiri MiG di era Soviet dan kini menjadi perancang pesawat di Biro Desain Eksperimental Mikoyan, pesawat generasi kelima yang dibuat oleh Mikoyan telah ‘hancur’. Menurut Mikoyan, dalam sistem industri aviasi Rusia saat ini, ia yang punya lebih banyak uang dan pengaruh akan bertahan. Sedangkan menurut veteran aviasi Soviet dan Rusia, MiG dan Sukhoi selalu mengembangkan pesawat tempur dengan tipe berbeda (MiG mengembangkan pesawat ringan, Sukhoi mengembangkan pesawat berat), sementara kompetisi baru dimulai saat ‘kepentingan pendanaan mereka mulai bertabrakan’. Sederhananya, MiG kalah dalam perebutan pendanaan dari pemerintah.
Saat ini, perusahaan MiG tak punya pesanan. Kontrak besar terakhir untuk memasok pesawat tempur MiG-29K bagi Angkatan Laut Rusia dan India telah selesai. MiG kalah dalam tender untuk memasok pesawat tempur ringan untuk India, yang dimenangkan oleh perusahaan Rafale Prancis. Proyek desain UAV yang ditawarkan oleh MiG tak mendapat pendanaan pemerintah. Sehingga, kini manajemen perusahaan harus mencari kesempatan untuk memperbaiki portofolio pesanan, termasuk mencari mitra atau pembeli bagi pesawat tempur generasi kelima. Ini tak akan mudah dilakukan tanpa produk yang sudah ditangan, dan perusahaan kini harus membuat setidaknya prototipe terbang atau demonstrasi teknologi.
Melihat sejarah MiG sudah pasti tidak diragukan lagi dalam pembuatan pesawat tempur, setiap pesawat yang dibuat selalu melahirkan maha karya yang luar biasa di erannya. Tanpa adanya dukungan pemerintah membuat MiG tidak mampu berbuat banyak dalam pengembangan pesawat tempur dalam jangka waktu yang lama. Dalam keterbatasan tersebut, MiG bersusah payah tetap melakukan Riset untuk menghasilkan maha karya walaupun tanpa dukungan dari pemerintah rusia. Disaat keterpurukan MiG ditambah lagi ketiadaan pembeli semakin membuat sesak keuangan perusahaan. Kini peluang yang ada didepan mata bisa diambil pemerintah Indonesia untuk pengembangan bersama MiG sebagai alternatif Pengambangan pesawat IFX/LFX.
Jelas sekali ketertarikan MiG untuk mengembangkan pesawat Gen 5 sangat tinggi dan sesuai dengan Visi dari Program IFX untuk mengembangkan IFX yang lebih Stealth. Dengan pengalaman dan Maha Karyanya yang telah dibuat MiG, Indonesia tidak perlu ragu terhadap program dan produk MiG. Blue print pesawat Gen 5 sudah ada ditangan MiG, Prototipe sudah dibuat, hanya terbentur tahap pengembangan selanjutnya. Inovasi dan teknologi terobosan yang dilakukan MiG sebenarnya jauh diatas sukhoi dalam pengembangan pesawat Gen 5.
Salah satu contohnya, mesin pesawat yang dipakai di MiG 1.44, saturn AL 41F dan bobot pesawat ini yang ringan yang menjadi acuan pesawat Pakfa saat ini. Dan bukan tidak mungkin kalau Mesin AL 41F1A / 117S bisa dipasang di pesawat IFX/LFX kita. Hanya karena ketiadaan dukungan pemerintah Rusia, Pesawat MiG generasi kelima saat ini hanya menjadi sebatas Prototipe. Kurangnya dukungan dari pemerintah Rusia bisa kita manfaatkan untuk mengambil simpatik MiG dalam pengembangan bersama pesawat generasi kelima untuk mendapatkan teknologinya.
Hampir adanya Kesamaan desain IFX C 200 ( blok II ) dan MiG 1.44 yang sama-sama memakai canard akan memudahkan MiG dan PT DI/Lapan untuk menyatukan Visi Misi menjadi mitra bagi pesawat tempur generasi kelima. Dimana IFX blok II, indonesia sudah diberi kebebasan untuk mengembangkan pesawat masa depannya sendiri. Keuntungan kerjasama PT DI dan MiG, yaitu bisa mengembangkan pesawat rasa barat dan timur yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan TNI AU.
Keunikan sistem Avionik yang di gadang-gadang bisa dicangkokan dengan teknologi barat bisa jadi pertimbangan pemerintah Indonesia. Mengenai kebenaran pihak MiG mengklaim jika MiG 35 bisa dicangkokan dengan sistem barat, pasti MiG sudah melakukan Riset and Development sebelum mengeluarkan pernyataan tersebut.
Mengenai persenjataan yang akan dibawa bisa disesuaikan dengan perkembangan suhu politik dikawasan. Selama tidak ada masalah dengan rusia persenjataan yang digotong masih standar MiG dari Rusia. Dan sejauh ini hubungan bilateral kita dengan Rusia atau Eropa masih terjalin baik. Sistem avionik barat yang bisa dicangkokan di MiG dari Israel dan Prancis. Mengingat tidak ada hubungan bilateral antara Israel dan Indonesia, kemungkinan yang paling cocok dari sistem avionik prancis. Karena sebagian radar yang dipasang di negara kita saat ini adalah Thales Prancis.  
Selama bangsa ini serius dalam pembuatan Pesawat tempur pasti ada jalan untuk mewujudkan pesawatt IFX. Jalan selalu ada, mengenai jalan mana yang akan dipilih kita serahkan kepada pemerintah. Semoga pembuatan pesawat IFX yang selama ini diharapkan rakyat Indonesia tetap terwujud. Dengan adanya alternatif pengembangan bersama MiG jika program KFX gagal, bukan hal yang tidak mungkin kalau sejarah masa lalu tentang teknologi pesawat MiG yang superior bisa disematkan di IFX/LFX.
Posted by : AL jkgr
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment