Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

01 December 2015

F-18 Super Hornet Masih Mengincar Pasar di Asia

4:39 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
WASHINGTON:(DM) - The Diplomat.com mencatat, saat ini Asia-Pasifik telah menjadi pasar yang menggiurkan bagi pesawat militer modern. Produsen pesawat tempur dari Perancis, Swedia, Rusia, dan China berlomba-lomba untuk menjual pesawat mereka ke berbagai negara di wilayah ini. Beberapa negara, seperti Indonesia, Malaysia dan India, sedang merencanakan atau sedang dalam proses untuk membeli jet tempur modern.
Perusahaan-perusahaan AS memiliki posisi kuat dan lama di pasar ini, walau sebagian untuk tujuan politik. Selama Perang Dingin, banyak negara membeli persenjataan dari Amerika.
Perusahaan pertahanan AS masih pemasok pesawat tempur di angkatan udara kawasan Asia. Saat ini, pertimbangan kemampuan ekonomi menjadi semakin penting dikarenakan peralatan militer AS yang mahal. Ada dua kategori pesawat tempur yang dipasarkan produsen AS, yakni pesawat tempur “generasi kelima” dan pesawat tempur “generasi keempat”.
Untuk kategori pertama (generasi kelima), AS masih memegang keuntungan penting. Pesawat tempur kontroversial F-35 Joint Strike Fighter telah menarik pembeli potensial di Pasifik, seperti Australia, Singapura, Jepang dan Korea Selatan. (Meskipun Jepang dan Korea sedang mengembangkan sendiri pesawat tempur generasi maju, Mitsubishi ATD-X Shinshin dan KF-X.)
Untuk kategori kedua (generasi keempat), pesawat AS menghadapi persaingan yang sengit. Jet tempur Rusia modern seperti Su-35, pesawat tempur “Eurocanards” Eurofighter Typhoon, Saab Gripen, dan Dassault Rafale, dan bahkan JF-17 Thunder Pakistan merupakan pesaing ketat pesawat tempur AS.
Salah satu andalan utama pesawat tempur AS untuk pasar ini adalah Boeing F/A-18E Super Hornet. Awalnya dikerahkan kembali pada tahun 1999, Super Hornet saat ini menjadi andalan kedua Angkatan Laut AS dan Angkatan Udara Australia, dengan lebih dari 500 pesawat yang saat ini masih beroperasi.
Boeing telah secara agresif berusaha untuk memasarkan Super Hornet, sejauh ini dengan hasil yang beragam. India dan Brazil keduanya didekati oleh Boeing untuk menggantikan armada mereka . Walau akhirnya New Delhi memilih Rafale Perancis dan Brasil memilih Gripen Swedia, sebagian karena ketegangan diplomatik menyusul pembocoran dokumen rahasia Snowden. Di sisi lain, Finlandia, Polandia, dan mungkin Kuwait, masih mempertimbangkan Super Hornet untuk program pengganti pesawat tempur.
Pesanan terakhir Super Hornet disampaikan ke Canberra pada tahun 2011. Sejak pengiriman itu, varian Super Hornet baru telah diproduksi terutama sebagai pengganti untuk pesawat yang ada di AS dan persenjataan Australia. Selain itu, pembelian Super Hornet dimaksudkan sebagai tindakan sementara sampai Australia menerima F-35 yang terus tertunda. Meskipun Canberra telah memesan beberapa varian Super Hornet peperangan elektronik, EA-18G Growler hingga tahun 2017, namun ini tidak akan menjadi solusi yang layak dalam jangka panjang.
Di Pasifik, ada dua negara yang mungkin merupakan pembeli potensial untuk Super Hornet. Malaysia saat ini sedang mencari pengganti 10 pesawat MiG-29 era-Soviet . Karena harga F-35 di luar jangkauan Kuala Lumpur, beberapa pesawat yang diincar Malaysia diantaranya Dassault Rafale, Eurofighter Typhoon, Saab Gripen dan Boeing F-18E Super Hornet. Ada rumor bahwa Gripen sat ini yang paling berpotensi, walau mematok harga tinggi namun dua negara, Brazil dan Thailand sudah mengakuisisi Gripen.
Menurut AviationWeek, saat ini bukan waktu yang tepat untuk penjualan Super Hornet. Tidak ada keputusan pembelian pesawat tempur Malaysia setidaknya dalam satu tahun ini, tapi Manajer Program Super Hornet, Dan Gillan, sebelumnya mengatakan bahwa perusahaan harus mendapatkan pembeli untuk mendukung kelanjutan produksi Super Hornet segera. Dengan kata lain, saat menunggu keputusan pembelian dari Malaysia, Super Hornet membutuhkan pesanan lebih lanjut dari tempat lain.
Super Hornet masih sangat berpotensi untuk bersaing dengan pesawat tempur lain. Howard Berry, Wakil Presiden untuk penjualan Super Hornet, menekankan kemampuan muatan senjata dan daya jangkau Super Hornet dua kali lebih besar dari Gripen C / D. Angkatan Udara Malaysia juga memiliki keuntungan lain karena telah terbiasa mengoperasikan F-18D Hornet (Super Hornet merupakan turunan yang diperbesar).
Calon pembeli potensial lain adalah Kanada. Pemerintah Liberal Justin Trudeau telah menyatakan bahwa Kanada akan membatalkan keikutsertaannya dalam proyek F-35 Lockheed-Martin dan telah beralih ke sumber lain untuk pembelian armada pesawat tempur baru. Kanada saat ini mengoperasikan Hornet (varian domestik CF-18), Boeing berharap keakraban pilot Kanada dengan jet tempur Hornet, interoperabilitas dengan armada yang lama, dan hubungan militer yang kuat antara AS dan Kanada akan membuat pilihan yang menguntungkan Boeing.
Boeing masih pembuat pesawat tempur terbaik saat ini. Baik Hornet dan Super Hornet dalah pesawat tempur yang sudah sangat teruji, dan telah memberikan layanan operasional yang baik. Namun, dengan pesaing Lockheed-Martin yang mengklaim penguasa pesawat tempur di pasar internasional dengan pesawat siluman F-35 nya, dan produsen pesawat asing yang menawarkan pesawat yang sebanding dengan Super Hornet, Boeing saat ini harus berjuang keras untuk tetap kompetitif.
Thediplomat/jkgr
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment