Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

29 August 2015

Indonesia Prioritaskan Tank, bukan Proyek KFX

5:51 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
KFX-C103-iA.
Ada pernyataan menarik yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, atas pertemuannya dengan Perdana Menteri Korea Selatan. menurut JK, Korea Selatan justru yang meminta agar kapal selam dan pesawat tempur yangbdikerjasamakan. Namun menurut Wapres, Indonesia ingin prioritaskan pengembangan Tank. Simak keterangan selengkapnya, Jusuf Kalla kepada Antara.
Seoul:(DM) – Wakil Presiden HM Jusuf Kalla mengatakan akan memprioritaskan kerja sama di bidang persenjataan militer dengan mengacu kepada jumlah unit yang dibutuhkan.
“Dia minta kapal selam, pesawat tempur (untuk dikerjasamakan). Ya kita ingin kembangkan tank dulu, bertahap dulu,” kata JK terkait pertemuannya dengan Perdana Menteri Korea Selatan Hwang Kyo-ahn pada Kamis siang di Seoul.
Menurut JK, kerja sama pengembangan persenjataan militer akan diprioritaskan kepada alat utama sistem senjata yang lebih banyak diperlukan oleh TNI.
Wapres mengatakan perkembangan teknologi pembuatan pesawat tempur maupun kapal selam sangat cepat berganti.
Sementara itu, terkait pengembangan pesawat tempur KF/IFX, Duta Besar Indonesia untuk Korsel John A Prasetio mengatakan kerja sama dua pemerintahan dalam bidang militer dapat dikaji ulang.
“Tapi saya kira memang pada waktu itu Kementerian Pertahanan kita memikirkan secara jangka panjang apa yang diperlukan,” kata John.
Dubes mengatakan kedua tim pengembang pesawat tempur KFX-IFX dari Korsel dan Indonesia akan membicarakan lebih lanjut proyek kerja sama itu.
Program KFX/IFX yang digagas Presiden Korea Selatan (saat itu), Kim Dae-jung, pada 2001, pada 2014 masih dalam tahap pengembangan walau kesepakatan komposisi pembiayaan antara Indonesia dan Korea Selatan sudah ditentukan, yaitu 20 berbanding 80.
Berdasarkan perundingan kedua pemerintahan sebelumnya, akan dibuat 120 unit pesawat tempur KFX/IFX.

27 August 2015

Nasib Proyek Pesawat Tempur RI-Korsel, JK: Kita Evaluasi

11:53 PM Posted by Ikh Sanudin No comments

SeouI:(DM) -Program kerjasama pengembangan pesawat tempur KFX/IFX antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) dievaluasi oleh pemerintahan Presiden Jokowi-JK. Indonesia memilih mengembangkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang lebih diprioritaskan seperti tank dan senjata.

"Ya dia (PM Korsel-Hwang Kyo Ahn) juga minta (dilanjutkan). Walaupun kita sudah evaluasi di kabinet ya kita lebih lanjutkan yang dibutuhkan banyak," ujar JK di Lotte Hotel, Seoul, Korea Selatan, Kamis (27/8/2015).

Salah satu alasan proyek ini dievaluasi karena pemerintah Indonesia fokus pada pengadaan alutsista selain pengembangan pesawat tempur. Selain itu, untuk membangun sebuah jet tempur membutuhkan teknologi tinggi, padahal dalam setiap waktu mudah berubah sejalan dengan perkembangan teknologi.

"Padahal kita butuh tank, senjata, butuh banyak. Jadi kita memberikan prioritas dulu yang kita butuhkan lebih banyak," terangnya.

Indonesia dan Korea Selatan sepakat mengembangkan jet tempur canggih. Kedua negara sepakat merancang burung besi canggih untuk keperluan perang. Pesawat tersebut masuk generasi 4,5.

Program tersebut bernama Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX). Seri KFX/IFX sendiri setara dengan jet tempur tipe F-18 Super Hornet, Eurofighter Typhoon, hingga Dessault Rafale. Pesawat generasi 4.5 mulai dikembangkan pada dekade 1990-an. Pesawat generasi 4.5 ini masih diproduksi hingga kini, meskipun pengembangan jet tempur telah memasuki generasi 5 dan 6.

Untuk versi Indonesia atau IFX, prototype rencananya akan diluncurkan pada tahun 2020. Selanjutnya 2 tahun berikutnya atau tahun 2022, IFX akan diproduksi secara massal di Indonesia. Produksi pesawat disesuaikan dengan kebutuhan TNI dan kondisi geografis TNI.

Pada 2014, PTDI bersama Kementerian Pertahanan RI dan Korea Selatan memasuki tahap Engineering Manufacturing Development pesawat tersebut. Proses EMD dimulai tahun lalu dan berlangsung hingga 10 tahun ke depan. Proses akhir EMD ini adalah sertifikasi pesawat Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX).

23 August 2015

Tidak Sekedar Buat Garasi

7:49 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
ANALISIS:(DM) - Berita enak tapi masih perlu dikunyah adalah ketika militer Indonesia mengabarkan bahwa mereka sudah meningkatkan status pangkalan AL di Tarakan, Pontianak dan Sorong Agustus 2015 ini menjadi pangkalan utama TNI AL. Artinya dengan status peningkatan itu maka pangkalan garis depan itu bertanggung jawab penuh terhadap keamanan dan kewibawaan teritori di wilayahnya sekaligus memperpendek rentang kendali dan kecepatan reaksi tempur.

Dengan tambahan itu berarti saat ini angkatan laut Indonesia memiliki 14 pangkalan utama TNI AL yang harus mampu memberikan dukungan logistik dan amunisi alias bekal ulang untuk berbagai kapal perang termasuk ketersediaan alutsista pertahanan pangkalan dari serangan pihak lawan. Yang jelas bukan sekedar menampung jenjang karir laksamana pertama yang menjadi komandannya. Seperti kita ketahui pangkalan utama AL harus dijaga 1 batalyon pasukan marinir berikut sejumlah alutsita anti serangan udara dan anti serangan bawah air.


Membuat garasi adalah bagian dari mengelola infrastruktur agar kendaraan yang diparkir tuan rumah aman, nyaman dan terpelihara. Demikian juga dengan pembangunan infrastruktur militer dengan maksud untuk memperkuat logistik dan kecepatan reaksi militer. Bisa dibayangkan jika terjadi sebuah krisis militer di pulau Sebatik dan Ambalat jika masih harus mendatangkan kapal perang dari Makassar dan Surabaya berapa lama waktu tempuh untuk sampai di tujuan. Maka dilihat dari sisi ini tujuan peningkatan pangkalan AL itu tepat waktu.

Pertanyaannya adalah apakah sudah sepadan sebaran alutsista KRI di 14 Lantamal itu. Pangkalan utama AL Surabaya dalam pandangan kita harus mampu membagi beban persebaran alutsista matra laut. Sangat berbahaya jika hanya menumpuk alutsista di satu titik. Sebuah serangan udara mematikan yang tak terlacak radar dipastikan akan melumpuhkan angkatan laut Indonesia manakala Surabaya di hujani peluru kendali udara darat dan bom-bom pintar dari sebuah kekuatan yang punya senjata itu.

Pangkalan AL di Belawan, Padang, Tanjung Pinang sangat pantas diberikan korvet bukan sekedar LST. Aliran patroli juga diperkuat dan diperbanyak di pantai barat Sumatera dan selatan Jawa karena prediksi kita dari sini lah aliran kapal perang akan bermulai ketika konflik besar di Laut Cina Selatan pecah. Jelas kita masih kurang dalam soal kuantitas dan kualitas KRI striking force semacam korvet dan fregat. Maka untuk mengisi alutsista di 14 pangkalan itu tentu harus diperbanyak korvet dan fregat atau bahkan destroyer, tidak sekedar memperbanyak KCR.

Pangkalan AL Tarakan misalnya, dia punya tugas berat untuk mengamankan wilayah Ambalat. Maka ketersediaan minimal 3 korvet, 2 fregat dan 4 kapal patroli dengan dukungan 1 flight jet tempur merupakan menu wajib yang harus ada sepanjang tahun disana. Sudah siapkah, atau masih tetap Surabaya centris atau Makassar centris yang jarak tempuhnya cukup panjang. Pengalaman selama 8 bulan ini menunjukkan jika kita lengah atau kurangi patroli maka tetangga sebelah itu curi-curi kesempatan, berlagak gagah dan jaguh.


Membangunkuatkan angkatan laut dan udara membutuhkan dana besar, itulah konsekuensi kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Maka percepatan pembangunkuatkan itu multak harus ada. Kemenhan sebagai pengambil keputusan strategis tidak perlu melontarkan statemen di wilayah abu-abu tetapi jelas harus statemen merah putih. Misalnya ungkapan tidak perlu Wamenhan mestinya dengan mengedepankan argumen yang obyektif. Menjaga dan mewibawakan merah putih tentu dengan berkonsentrasi penuh terhadap pemenuhan kebutuhan asupan gizi alutsista TNI dengan program yang terang benderang.

Purnomo, Menhan sipil periode yang lalu, mampu membangkitkan semangat beralutsista dengan pernyataan-pernyataannya yang lugas, terang benderang meski kadang tidak selalu harus pas. Misalnya pernyataan kebutuhan 10 skuadron Sukhoi alias 180 pesawat, padahal maksudnya 10 skuadron jet tempur berbagai jenis. Atau pernyataan gegap gempitanya tentang rencana akuisisi 10 kapal selam kilo dari Rusia ternyata hanya untuk mengecoh Australia agar segera memutuskan membeli Poseidon.

Isian garasi tentu harus segera diisi. Jangan sampai seperti Biak, ketika semua sudah tersedia apakah itu kualitas pangkalan, paskhas TNI AU, satuan Radar, markas Kosek tetapi skuadron tempur inap dan menetap yang diinginkan belum hadir sampai saat ini. Belum ada skuadron tempur rawat inap disana. Yang ada flight rawat jalan, sesekali berkunjung sekalian merawat jalan landasan dan kesiapan infrastruktur.

Kita menginginkan kekuatan laut yang sepadan dengan luasnya wilayah perairan. Maka pengembangan 3 armada tempur laut, 3 divisi pasukan marinir sebagai bagian dari persebaran kekuatan angkatan laut harus disertai dengan percepatan pemenuhan kebutuhan kapal perang, kapal selam dan alutsista pendukung. Tiga armada laut itu minimal harus diperkuat dengan 170 KRI berbagai jenis dengan teknologi terkini dan berusia tiga puluh tahun kebawah termasuk minimal 12 kapal selam.

Dengan kekuatan 170 KRI dan 12 kapal selam maka dipastikan isian garasi untuk 14 pangkalan AL terpenuhi. Sebenarnya kebutuhan 170 KRI itu sudah kita penuhi saat ini tetapi jika melihat masa pakai KRI itu lebih sepertiganya sudah berusia diatas 30 tahun. Untuk urusan kapal selam mulai akhir tahun depan kita mendapatkan 1 kapal selam baru dari Korsel. Dan seterusnya setiap tahun kita akan mendapatkan 1 kapal selam baru apalagi jika infrastruktur pabrik kapal selam PT PAL selesai tahun depan maka produksi kapal selam minimal 1 unit per tahun terpenuhi.

Garasi demi garasi yang dibuat saat ini dimaksudkan sebagai rumah pertahanan alutsista. Kita berharap isian perabot didalamnya dapat terpenuhi dalam waktu dekat karena gelagat cuaca di kawasan ini tidak selalu baik untuk keamanan dan kenyamanan berteritori. Gengsi berteritori adalah ketika kita mampu menunjukkan kehadiran alutsista berteknologi di sempadan sekalian untuk menunjukkan pada pihak sana bahwa kita siap berkelahi.  ****

Jagarin Pane / 22 Agustus 2015

22 August 2015

Penerima Penghargaan Achmad Bakrie Ingin Bangun Kapal Selam

11:27 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
JAKARTA:(DM) - Rencana pembelian alutsista tidak hanya di sektor laut saja, pembangunan pertahanan akan menyeluruh darat, laut dan udara. Kehadiran kapal selam Changbogo ini, tentunya akan mendukung progam kemaritiman pemerintahan Joko Widodo. Namun perlu dicermati pentingnya kemandirian Indonesia untuk dapat membangun alutsista sendiri. [wikipedia.com] ○

Penerima Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2015 bidang teknologi, Kaharuddin Djenod, menyatakan mampu dan siap membangun kapal selam untuk Indonesia. Hal tersebut disampaikan Kaharuddin di hadapan Ketua DPR Setya Novanto dan sejumlah tamu undangan PAB di Djakarta Theatre, Jumat, 21 Agustus 2015.

"Saya siapkan desain kapal selam 30 meter, jika Indonesia mau buat dan jalankan itu dengan tenaga kita sendiri, saya siap untuk membangunnya," ujar ilmuwan yang telah menimba ilmu perkapalan di Jepang selama 15 tahun tersebut.

Kaharuddin Djenod memiliki harapan agar bangsa Indonesia mampu mandiri dalam bidang maritim. Dirinya juga menyatakan terinspirasi salah satu pesan mantan Presiden Sukarno tentang kedaulatan maritim.

"Sebagai putra bangsa, saya ingin realisasikan pesan Bung Karno pada Januari 1950, hendaknya Indonesia membangun industri maritim dan dirgantara jika ingin memperkuat pertahanan," ucapnya.

Kaharuddin Djenod menerima PAB di bidang teknologi karena dianggap sebagai penopang pengembangan industri maritim Indonesia melalui inovasi teknologi. Kaharuddin mengembangkan sistem dan metode mutakhir desain kapal laut dalam negeri yang mampu bersaing di dunia internasional.

PAB diberikan oleh Yayasan Achmad Bakrie kepada para tokoh terbaik bangsa yang dinilai telah memberikan sumbangan besar dan berharga bagi pembangunan nasional.

Tahun ini, PAB memberikan penghargaan kepada Azyumardi Azra, bidang ilmu sosial; Ahmad Tohari, bidang kesusastraan; Tigor Silaban, bidang kedokteran/kesehatan; Suryadi Ismadji, bidang sains; Kaharuddin Djenod, bidang teknologi; dan Suharyo Sumowidagdo, ilmuwan muda berprestasi. Hingga penyelenggaraan ke 13 pada tahun ini, PAB telah menganugerahi 51 tokoh nasional dari berbagai latar belakang keilmuan.

Tempo

Barang Tiruan Tiongkok Merajalela, Ancam Ekspor Rusia

11:17 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
Pesawat J-20 China
BEIJING:(DM) - Ekspor senjata ke Tiongkok memberi sejumlah keuntungan strategis. Selain memberi pasokan dana segar bagi Rusia, senjata Rusia juga dapat mengimbangi kekuatan militer AS di Asia. Gairah Beijing untuk memiliki senjata canggih membuat industri pertahanan Rusia bisa terus berdenyut dan membuat AS kini harus membagi fokus dengan memantau aktivitas Rusia sekaligus Tiongkok, mengurangi tekanan terhadap Rusia seorang.
Namun, ekspor senjata Rusia ke Tiongkok punya sisi buruk. Tiongkok kerap membeli senjata dengan jumlah terbatas, membongkarnya, kemudian menciptakan senjata serupa versi mereka sendiri. Mereka dapat membuat barang tiruan yang lebih murah, mengancam kelangsungan ekspor senjata Rusia. Industri pertahanan Tiongkok terus merangkak naik, dan Moskow melihat pasarnya mulai terancam.
Dalam dunia perdagangan senjata, semua pihak saling meniru satu sama lain. Insinyur Rusia membongkar pesawat pembom B-29 dan kemudian menciptakan Tu-4, yang sulit dibedakan dari pesawat asli versi Amerika. Jerman meniru tank lapis baja Rusia T-34, tank Perang Dunia II terbaik yang pernah ada. Sementara, misil Amerika versi Awal merupakan tiruan dari roket Jerman V-2 yang pernah membumi-hanguskan London.
Pakar: Kesepakatan Militer AS-Tiongkok Akan Mengancam Kepentingan Rusia Pakar: Kesepakatan Militer AS-Tiongkok Akan Mengancam Kepentingan Rusia
Pakar: Kesepakatan Militer AS-Tiongkok Akan Mengancam Kepentingan Rusia
Namun, Tiongkok sangat canggih dalam hal tiru-meniru. Mereka telah meniru kereta Jerman Maglev dan kini menawarkannya untuk India. Peretas Tiongkok mencuri cetak biru TGV Prancis. Pesawat tempur Tiongkok J-20 dan J-30 berbasis teknologi dari perusahaan Amerika yang mengembangkan F-5 dan F-22. Pada dasarnya, semua misil, tank, sistem artileri, dan senapan yang digunakan oleh militer Tiongkok adalah tiruan dari senjata Rusia.
Ambil contoh senapan mesin AK-47. Pada tahun 1950-an, Rusia mengizinkan Tiongkok membuat versi tiruan dari senapan tersebut. Namun setelah kesepakatan lisensi berakhir, Beijing—sama seperti Hungaria, Slowakia, dan AS—mulai memproduksi AK ilegal. Senapan AK asli Rusia dibanderol hingga 1.500 dolar AS di pasar AS, sementara versi Tiongkok dapat dimiliki dengan merogoh kocek 400 dolar AS saja.
Pesawat Flanker Tiruan
Kalashnikov tiruan murah tak terlalu dipusingkan Moskow. Namun, Rusia lebih khawatir dengan tiruan Tiongkok yang lebih canggih, seperti pesawat tempur pembom Su-27 Flanker, jet pengangkut pesawat berbasis Su-33, sistem pertahanan udara S-300, dan sistem anti-pesawat Smerch yang tersohor. Menariknya, Rusia belum mengekspor Su-33 atau Smerch pada Tiongkok. Mereka berhasil mencuri data mengenai senjata tersebut dari pihak ketiga, salah satunya Ukraina.
Tiongkok sendiri menyangkal mereka meniru teknologi dari negara lain. Terkait Maglev, TGC, atau Flanker, mereka mengaku telah memodifikasi desain dasar asli dan perangkat kerasnya.
Angkatan Laut Rusia Dapatkan Kapal Pengintai untuk Pantau Sistem Pertahanan Rudal AS Angkatan Laut Rusia Dapatkan Kapal Pengintai untuk Pantau Sistem Pertahanan Rudal AS
Angkatan Laut Rusia Dapatkan Kapal Pengintai untuk Pantau Sistem Pertahanan Rudal AS
Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok Geng Yansheng merespon tuduhan ini pada November 2012 lalu dengan menyampaikan, “Hubungan militer dunia bertujuan saling mengembangkan. Banyak senjata yang menggunakan prinsip desain yang sama, komando yang sama, bahkan metode perlindungan yang sama. Namun, sungguh tak profesional menuduh Tiongkok meniru teknologi pengangkut pesawat yang dimiliki negara lain hanya dengan membandingkan pesawat tersebut.”
Namun, para pakar tak sepakat. Tak diragukan bahwa pesawat tempur J11B dan J15 merupakan tiruan dari Su-27 dan Su-33. Menurut Flight Global, Tiongkok tak mengerti—atau tak peduli—mengenai konsep perlindungan hak intelektual. “Mereka hanya mengubah sedikit desain Su-33, namun pada dasarnya itu tetap pesawat yang sama. Mereka memperbaiki desain setelah mencuri kekayaan intelektual pihak lain, dan tentu itu bukan desain yang asli,” terang lembaga tersebut.
Dampak Terhadap Rusia 
Setelah meniru selama bertahun-tahun, Tiongkok kini dapat merebut pasar ekspor Rusia. Dan sama seperti Rusia, Tiongkok dapat memanfaatkan pemasukan dari ekspor untuk menawarkan syarat pasokan senjata yang lebih menarik bagi negara-negara dengan pendapatan rendah, seperti Pakistan.
“Hasilnya tak hanya menurunkan jumlah penjualan dari Rusia ke Tiongkok, tapi Rusia juga kehilangan pasar karena kini beberapa negara mulai membeli senjata buatan Tiongkok,” kata Nikolas Gvosdev dan Christopher Marsh dalam Russian Foreign Policy: Interests, Vectors and Sectors. “Hal ini merugikan Rusia karena Tiongkok tak hanya meniru kekayaan intelektual perancang senjata Rusia secara ilegal, tapi juga membuat Rusia merugi secara ekonomi, karena kehilangan pasar untuk ekspor senjata ke pihak ketiga. Rusia menghadapi dilema, mereka dapat duduk dan menerima serangan itu, atau mereka dapat menjual senjata yang lebih canggih untuk Tiongkok dan menggerakkan angka perdagangan senjata dalam periode singkat (dengan risiko Tiongkok akan meniru desain tersebut dan mengimpornya ke negara lain).”
Faktanya, Tiongkok mulai percaya diri atau nakal. Pada Mei lalu, perusahaan Tiongkok Norinco, yang membuat tank VT-4, melirik tank T-14 Armata, tank terbaru Rusia yang dianggap sebagai senjata revolusioner oleh pakar di seluruh dunia. Media sosial resmi Norinco menulis: “Transmisi T-14 tak dikembangkan dengan baik, karena kami melihat kegagalan fungsi tank pada gladi resik sebelum parade 9 Mei. VT-4 tak pernah menemui masalah semacam itu. Tank kami juga memiliki sistem kontrol tembakan kelas dunia, sementara Rusia masih berjuang untuk menyainginya.”
Rusia Butuh Ekspor
Industri pertahanan bekas Uni Soviet sungguh besar, sehingga Rusia belum bisa mempertahankan segala pabrik. Bahkan sektor pertahanan Rusia kini mengalami penurunan—meski masih lebih besar dibanding gabungan industri Tiongkok dan India—tetapi tak bisa bertahan lama tanpa pesanan ekspor.
“Rusia harus menjual senjata agar industri militernya bisa tetap berdenyut dan mereka bisa tetap menghasilkan senjata militer generasi terbaru. Bagaimanapun, Rusia harus menjual senjata, dan Tiongkok merupakan pasar potensial yang terbesar bagi Rusia,” terang Gvosdev dan Marsh.
Setelah Uni Soviet bubar, pasar Tiongkok menjadi sumber penghidupan bagi Rusia. Pada 1993, industri pertahanan Rusia hanya mengoperasikan sepuluh persen dari kapasitas mereka, sebut Andrew T.H. Tan dalam The Global Arms Trade: A Handbook. “Separuh dari industri pertahanan harus gulung tikar karena bangkrut,” kata Tan.
Rusia Perbaharui Peluncuran Misil Balistik Antarbenua Satan Rusia Perbaharui Peluncuran Misil Balistik Antarbenua Satan
Rusia Perbaharui Peluncuran Misil Balistik Antarbenua Satan
Pesanan internasional tak terpenuhi—karena kacaunya rantai pasokan baku. Pasokan dana dari Tiongkok sangat berpengaruh terhadap kehidupan industri tersebut. Tan menyatakan bahwa selama dekade tersebut, Tiongkok memberi pemasukan separuh dari jumlah keseluruhan dana yang diraih Rusia dalam industri pertahanan. Penjualan senjata ke Tiongkok tak bisa disebut sebagai upaya bunuh diri bagi Rusia.
Sama dengan India yang pernah sangat tergantung pada senjata Rusia namun kini mereka bisa membeli senjata Amerika seharga miliaran dolar untuk meningkatkan hubungan strategis dengan AS, Rusia harus benar-benar memperhitungkan setiap penjualan.
Membangun Kepercayaan
Menurut Tan, sejak 2002 baik Rusia maupun Tiongkok sama-sama berupaya menciptakan kepercayaan dalam bisnis senjata mereka. “Salah satu inisiatif terbesar adalah menandatangani kesepakatan kekayaan intelektual untuk melindungi kepentingan Rusia dan mempersempit area abu-abu dalam transfer teknologi.”
Sebagai contoh, lanjut Tan, saat Tiongkok mendapat lisensi untuk merakit Su-27, tak dijelaskan apakah mesin pesawat yang diproduksi Tiongkok di bawah kesepakatan tersebut boleh digunakan untuk pesawat Tiongkok. Hal tersebut memicu persengketaan rumit dalam perdagangan senjata Rusia-Tiongkok.
“Pada Desember 2008, kedua negara akhirnya menandatangani kesepakatan hak kekayaan intelektual yang membatasi Tiongkok untuk mengekspor senjata yang berbasis dari model Rusia. Namun hal tersebut tak bisa mencegah Tiongkok memproduksi senjata untuk keperluan mereka sendiri. Kesepakatan tersebut menciptakan kekhawatiran bahwa Tiongkok bisa saja meniru senjata Rusia tanpa izin dan perangkat militer Tiongkok bisa membanjiri pasar global, merebut pasar senjata Rusia”.
Moskow dan Beijing Harus Belajar Bicarakan Masalah
Kesepakatan tersebut—bersamaan dengan keputusan Presiden Vladimir Putin—mengungkapkan tantangan utama untuk merajut hubungan kerja sama militer antara kedua negara. Awalnya, pihak Rusia menolak untuk menjual sistem pertahanan udara terbaru S-400 dan pesawat tempur multiperan Su-35. Beijing tertarik memiliki mesin AL-41 milik Su-35, yang memiliki masa hidup empat ribu jam, jauh lebih panjang dibanding mesin AL-31 (1.500 jam) yang dimiliki Su-27 dan Su-30.
Namun, rumitnya mesin pesawat canggih Rusia menyulitkan industri tiruan Tiongkok. Hal ini, bersama dengan penandatanganan kesepakatan perlindungan kekayaan intelektual yang lebih kuat—meyakinkan Moskow untuk menjual senjata canggih pada Tiongkok.
Wakil Direktur Sukhoi Sergey Sergeyev merangkum hal tersebut dengan menyatakan, “Mereka bisa saja meniru sendok buatan kita, tapi tentu meniru pesawat adalah hal yang lain.”
Pada 2013, Putin menerangkan kondisi terkait penjualan S-400 dan Su-35. Platform tersebut akan membantu Tiongkok untuk merebut pesawat siluman Amerika F-22 dan F-35, hingga pesawat siluman buatan mereka sendiri selesai dibuat pada dekade mendatang.
Selain itu, sanksi ekonomi yang dihadapi Rusia membuat Rusia berharap Tiongkok akan memasok teknologi mikro-elektronik dan teknologi canggih lain yang tak dimiliki Rusia.
Rencana untuk Pinjamkan Lahan Pertanian Siberia pada Perusahaan Tiongkok Picu Perdebatan
Sindrom Rusia Tiongkok
Meski selalu ada risiko dalam mengekspor senjata untuk Tiongkok, terdapat keuntungan yang menarik perhatian Moskow.
Menurut Tan, pengaruh Rusia di Tiongkok dalam penjualan senjata tak terbatas dalam kontrol terkait pasokan suku cadang dan perangkat penting. “Setiap tahunnya, PLA mengirim 800 pegawai ke Rusia untuk mempelajari ilmu militer Rusia dan memahami bagaimana mengoperasikan senjata Rusia yang telah mereka beli. Wajar jika kita berasumsi beberapa alumni PLA akan menciptakan sentimen pro-Rusia terkait transformasi model militer Rusia berbanding Barat. Hal ini mungkin memengaruhi kepribadian komandan PLA saat belajar di Rusia. Jenderal Liu Huaquing dan Cao Gangchun (Menteri Pertahanan 2002-07), yang belajar di Rusia selalu mendorong Tiongkok untuk mengimpor lebih banyak senjata Rusia. Pengalaman belajar di Rusia berguna untuk mempromosikan produk buatan Rusia.”
Perdagangan senjata membuat Rusia dan Tiongkok mempereat hubungannya pada abad ke-21. Kedua negara saling membutuhkan. Tiongkok masih butuh setidaknya dua dekade untuk mengejar teknologi senjata Barat dan hanya bisa mencapainya dengan bantuan Rusia. Rusia didukung oleh Tiongkok, yang kini merupakan mitra untuk uang kas, pasar, dan kenyamanan diplomatik. Namun, meski jika penjualan perangkat militer dan ikatan tersebut semakin erat, Moskow harus mengawasi baik-baik barang tiruan Tiongkok.

Pangkalan TNI AL Sorong Menjadi Pangkalan Utama

11:13 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
pangkalan tni al
Sorong:(DM) – Pangkalan TNI AL (Lanal) Sorong naik status dari Pangkalan Kelas B menjadi Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) XIV.
Upacara penaikkan status tersebut dipimpin langsung Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi di Mako Lantamal XIV Jalan Bubara no 1 Sorong Kota, Papua Barat, Jumat (21/8).
Peningkatan status itu sebagai rangkaian pelaksanaan Validasi Organisasi yang tertuang pada Peraturan Panglima TNI No.12 tahun 2015 tanggal 9 Juni 2015 tentang Pengesahan Validasi Organisasi dan Tugas Lantamal XII Pontianak, Lantamal XIII Tarakan, dan Lantamal XIV Sorong.
Peningkatan kelas itu juga didasari Peraturan Kasal Nomor 5 tahun 2015 tanggal 30 Juni 2015 tentang Peningkatan Pangkalan TNI Angkatan Laut Kelas B Sorong Menjadi Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut XIV.
Peresmian ditandai dengan pembukaan tirai papan nama Lantamal XIV Sorong oleh Kasal. Kemudian dilanjutkan serah terima jabatan antara Danlanal Sorong Kolonel Laut (P) Kunto Tjahjono dengan Danlantamal XIV Kolonel Laut (P) Samsudin Safari Panjaitan.
Upacara dimeriahkan dengan demonstrasi kolone senapan, tarian adat daerah, serta pengukuhan secara adat Danlantamal XIV Kolonel Laut (P) Samsudin Safari Panjaitan sebagai warga kehormatan Papua Barat. Hadir pada acara tersebut Gubernur Papua Barat Abraham Octavianus Atururi, Wali Kota Sorong Lambert Jitmau, Para tokoh adat dan tokoh masyarakat Papua Barat.
Selanjutnya, para pejabat utama Mabesal dan para pemimpin Kotama TNI Angkatan Laut, Pangarmatim Laksda TNI Darwanto, Danrem 171/PVT Brigjen TNI Purnawan Widi Andaru, Kapolda Papua Barat Brigjen Royke Lumowa, Ketua Umum Jalasensatri Ny. Endah Ade Supandi, serta segenap pejabat instansi sipil dan militer di Provinsi Papua Barat.
Dalam sambutanya, Ade menyampaikan bahwa peningkatan status Lanal Sorong menjadi Lantamal XIV diharapkan dapat mewujudkan gelar pangkalan TNI Angkatan Laut (AL) yang ideal guna meningkatkan dukungan logistik dan administrasi bagi unsur-unsur TNI Angkatan Laut yang beroperasi di Perairan Wilayah Timur Indonesia khususnya di Wilayah Provinsi Papua Barat.
Salah satu faktor yang mendasari perubahan status Lanal Sorong menjadi pangkalan utama adalah konsep gelar pangkalan TNI Angkatan Laut, di mana gelar kekuatan diarahkan di daerah-daerah perbatasan dan rawan konflik.
Dalam konteks ini, Wilayah Papua yang berbatasan langsung dengan Negara Palau, Australia dan Papua Nugini, memerlukan peningkatan kemampuan Pangkalan TNI Angkatan Laut untuk menciptakan keamanan perairan perbatasan.
Perairan Sorong pun berdekatan dengan keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III, merupakan salah satu alur pelayaran internasional yang memiliki potensi kerawanan tinggi terhadap kemungkinan terjadinya berbagai gangguan keamanan di laut, sehingga perlu pengawasan maksimal, terus menerus dan intensif.
“Ditinjau dari aspek geopolitik dan geostrategi, pengembangan lantamal XIV Sorong merupakan bentuk komitmen TNI Angkatan Laut dalam mendukung Visi Poros Maritim Dunia,” kata Ade.
Hal ini menjadi lebih penting karena ke depan Pelabuhan Sorong akan dikembangkan menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia, sebagai bagian dari jalur utama tol laut yang akan menjadi salah satu pusat distribusi logistik dan perdagangan di wilayah timur.
Menurut Ade, berbagai kerawanan yang terjadi di wilayah perairan, bukan semata-mata diakibatkan oleh tindak pidana di laut, namun juga dapat disebabkan oleh berbagai akses yang merupakan kelanjutan dari aktivitas di darat.
Upaya pencegahan ini, memerlukan antisipasi dan kewaspadaan yang tinggi, serta koordinasi dan kerja sama yang baik antar aparat keamanan, pemerintah dan masyarakat.
Suara Pembaruan

21 August 2015

Korut ultimatum Korsel, dalam 48 jam akan gelar serangan militer

10:21 PM Posted by Ikh Sanudin 1 comment
Korut ultimatum Korsel, dalam 48 jam akan gelar serangan militer
Korea Utara pamer kekuatan militer. ©AFP PHOTO/Ed Jones

PHYONGYANG:(DM) - Pemerintah Korea Utara memberi ultimatum kepada Korea Selatan agar menghentikan provokasi di kawasan perbatasan. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, maka militer negara sosialis paling tertutup sedunia itu segera menggelar serangan lebih serius ke wilayah Negeri Ginseng.

Ancaman ini dikeluarkan Pyongyang setelah beberapa jam usai tentara kedua negara terlibat tembak menembak di kawasan zona demiliterisasi (DMZ) di Gyeonggi, Kamis (20/8) siang waktu setempat. Warga sipil langsung diperintahkan menutup toko atau meninggalkan rumah, menuju bunker. Korut menembakkan beberapa rudal kecil berukuran 155 mm.
Surat tuntutan dari Korut sudah diterima Kementerian Pertahanan Korsel. Provokasi yang dimaksud adalah siaran propaganda bernada menghina Korut yang diputar pengeras suara di area tentara Korsel yang sedang menjaga perbatasan.
"Rekaman yang diputar itu jelas wujud tantangan pada kedaulatan Korea Utara. Bila siaran ini tidak dihentikan dalam jangka 48 jam, maka militer kami akan mengambil tindakan serius," tulis pernyataan Korut seperti dilansir the Washington Post, Jumat (21/8).
Tembak menembak kemarin merupakan insiden pertama kalinya setelah lima tahun yang relatif damai. Rekaman dan speaker yang jadi biang kerok itu diputar pada pukul 07.00 waktu setempat.
Merasa terhina dengan siaran propaganda Korsel, beberapa tentara Korut melancarkan tembakan ke arah negara tetangganya. Sebagian laporan menyatakan rudal kecil, sekelas bazoka, ikut ditembakkan ke wilayah Korsel.
Terpancing, tentara Korea Selatan balas menembak ke wilayah utara beberapa kali dengan senapan mesin. Belum ada laporan jatuhnya korban maupun kerusakan berarti di antara kedua kubu. Panasnya Semenanjung Korea mengkhawatirkan negara lain di Asia Timur. Apalagi Korut yang miskin bisa bertindak nekat dengan rudal berhulu ledak nuklir yang mereka miliki.
Kemarin sore, Presiden Korsel Park Geun-hye menyatakan akan menindak tegas Korut jika ada manuver militer yang membahayakan warga Korea Selatan.
Konflik kali ini sudah terpicu sejak pekan lalu, Korsel mengumumkan akan menggelar latihan perang bersama Amerika Serikat pada 28 Agustus mendatang. Latihan diberi sandi 'Ulchi Freedom' itu, menurut media Korut, sebagai provokasi serius terhadap stabilitas semenanjung Korea. Ada 50 ribu tentara Korsel terlibat di dalamnya, bersama 30 ribu pasukan AS.
Korut dan Korsel, walaupun sebagian warganya saling bersaudara dan berasal dari etnis yang sama, terpisah akibat Perang Korea pada 1950-1953. Selepas agresor Jepang angkat kaki dari Semenanjung Korea usai Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet berebut pengaruh.
Hasilnya, warga sisi utara membentuk negara sosialis di bawah komando Kim Il-sung, kakek dari Kim Jong-un yang kini berkuasa sebagai pemimpin absolut Korut. Sedangkan warga belahan selatan membentuk republik demokratis, dipimpin I Seungman.
Kedua negara secara de facto masih dalam situasi perang. Itu sebabnya seluruh warga laki-laki Korsel yang beranjak dewasa mengikuti wajib militer, demikian pula sebaliknya di Korut.
[ard] Merdeka