Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) adalah rencana pembangunan infrastruktur besar-besaran di Indonesia. Pembangunan itu memerlukan baja yang dihasilkan oleh indutri baja yang berkualitas.
Cilegon (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan pembangunan industri baja bisa mempercepat proses industrialisasi di Indonesia.
"Ini bagian dari MP3EI untuk mempercepat industrialisasi di Indonesia," kata Yudhoyono saat meninjau proyek pembangunan pabrik Krakatau Posco di Cilegon, Banten, Rabu.
Presiden Yudhoyono menjelaskan, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) adalah rencana pembangunan infrastruktur besar-besaran di Indonesia. Pembangunan itu memerlukan baja yang dihasilkan oleh indutri baja yang berkualitas.
Selain itu, katanya, pembangunan industri baja bisa menopang penguatan sektor pertahanan nasional. Industri persenjataan dan alat pertahanan lain sangat tergantung pada pasokan baja dari industri yang ada.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninjau proyek pembangunan pabrik baja PT Krakatau Posco di Cilegon, Banten.
Presiden tiba di lokasi proyek bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono dan didampingi sejumlah menteri antara lain Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
Sebelum meninjau proyek, Presiden Yudhoyono mendengarkan paparan dari Presiden Direktur PT Krakatau Posco Kim Dong-ho tentang operasional pabrik hasil patungan antara Indonesia dan Korea Selatan itu.
Kepala Negara dan Ani Yudhoyono sempat menaiki tangga menara untuk memantau pembangunan pabrik tersebut dari ketinggian.
Presiden bahkan menjawab pertanyaan wartawan tentang kondisi fisiknya setelah menaiki tangga menara setinggi sekitar 15 meter itu.
"Masih (kuat-red) dong. Kalau tidak kuat, pembangunan terganggu," katanya sambil tertawa.
PT Krakatau Steel (KS) dan Pohang Steel and Iron Coorporation (Posco) dari Korea Selatan resmi mendirikan PT Krakatau Posco, sebuah perusahaan patungan industri baja terpadu di Indonesia, dengan investasi sekitar enam miliar dolar AS atau sekitar Rp54 triliun.
Pada komposisi awal, Posco memiliki perusahaan patungan itu sebesar 70 persen dan KS sebesar 30 persen. Selanjutnya, setelah satu tahun pembentukan perusahaan patungan, porsi saham KS akan bertambah menjadi 45 persen, sedangkan Posco menguasai 55 persen.
Nilai investasi proyek yang akan beroperasi pada 2014 tersebut sebesar Rp38 triliun pada masa konstruksi dan Rp31 triliun pada tahap produksi.
Dirut PT Krakatau Steel Fazwar Bujang menyatakan, kapasitas produksi Krakatau Steel saat ini mencapai 3,15 juta ton per tahun. Dia memperkirakan, kapasitas produksi itu bisa ditingkatkan menjadi 4,52 juta ton per tahun.
Perusahaan patungan Krakatau Posco bisa menghasilkan produk baja sebanyak 3 juta ton per tahun. Pada tahap investasi berikutnya, kapasitas itu diperkirakan meningkat hingga 6 juta ton per tahun.
(F008)
Editor: Ella Syafputri antaranews.com

0 komentar:
Post a Comment