Kondisi di Suriah (Foto: AP)
CANBERRA - Australia memastikan pihaknya siap
berdiskusi untuk melakukan intervensi militer ke Suriah, seperti halnya
yang diutarakan oleh Prancis. Namun, Negeri Kangguru memperingatkan
tantangan mengenai perang di Suriah.
Sebelumnya Australia memimpin kekuatan Barat yang mengusir diplomat Suriah keluar dari negara mereka. Pengusiran tersebut merupakan bentuk protes dari pembantaian yang terjadi di Kota Houla, oleh pasukan Pemerintah Suriah.
Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr mengatakan, Australia akan berbicara dengan Prancis mengenai usulan untuk mengerahkan pasukan ke Suriah.
"Tetapi hal ini membutuhkan dukungan penuh dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan tentunya kita harus memperhatikan kritikan dari China dan Rusia," ujar Bob Carr, seperti dikutip AFP, Rabu (30/5/2012).
Selanjutnya Carr menambahkan, mempersenjatai oposisi Suriah memang bisa menjadi pilihan alternatif. Namun hal tersebut bisa menimbulkan kesulitan karena Presiden Bashar al-Assad bisa menginterpretasikannya sebagai pembenaran untuk membantai lebih banyak warga lainnya.
Carr juga melihat masalah logistik menjadi perhatian utamanya saat ini. Kendati demikian, dirinya tidak meninggalkan pilihan serangan udara seperti halnya yang dilakukan terhadap Libya.
Menjadi permasalahan lain adalah resolusi DK PBB terhadap Suriah yang kemungkinan besar bisa ditolak oleh China dan Rusia. Ini seperti halnya yang terjadi di Libya, dimana kedua negara itu menentang keras aksi militer yang pada akhirnya menggulingkan kekuasaan Moammar Khadafi.
(faj)
Sebelumnya Australia memimpin kekuatan Barat yang mengusir diplomat Suriah keluar dari negara mereka. Pengusiran tersebut merupakan bentuk protes dari pembantaian yang terjadi di Kota Houla, oleh pasukan Pemerintah Suriah.
Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr mengatakan, Australia akan berbicara dengan Prancis mengenai usulan untuk mengerahkan pasukan ke Suriah.
"Tetapi hal ini membutuhkan dukungan penuh dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan tentunya kita harus memperhatikan kritikan dari China dan Rusia," ujar Bob Carr, seperti dikutip AFP, Rabu (30/5/2012).
Selanjutnya Carr menambahkan, mempersenjatai oposisi Suriah memang bisa menjadi pilihan alternatif. Namun hal tersebut bisa menimbulkan kesulitan karena Presiden Bashar al-Assad bisa menginterpretasikannya sebagai pembenaran untuk membantai lebih banyak warga lainnya.
Carr juga melihat masalah logistik menjadi perhatian utamanya saat ini. Kendati demikian, dirinya tidak meninggalkan pilihan serangan udara seperti halnya yang dilakukan terhadap Libya.
Menjadi permasalahan lain adalah resolusi DK PBB terhadap Suriah yang kemungkinan besar bisa ditolak oleh China dan Rusia. Ini seperti halnya yang terjadi di Libya, dimana kedua negara itu menentang keras aksi militer yang pada akhirnya menggulingkan kekuasaan Moammar Khadafi.

0 komentar:
Post a Comment