Politikindonesia - Pesawat
tanpa awak hasil riset Balitbang Kementerian Pertahanan dan BPPT diuji
coba. Uji coba terbang tersebut berlangsung di Bandara Halim
Perdanakusuma, Jakarta Timur. Pesawat tanpa awak itu dirancang untuk
melakukan misi pemantauan perbatasan dan bencana.
Ada 6 prototipe yang juga dipamerkan
dan dijejerkan. Pesawat itu diterbangkan dari hanggar dengan remote
control yang dikendalikan dari sebuah mobil yang telah dimodifikasi.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro terlihat memantau pesawat
tersebut dari kejauhan di kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur,
Kamis (11/10).
Perekayasa BPPT, Adrian Zulkifli
menerangkan, pesawat ini adalah prototipenya sebagai produk hasil
riset. “Semua sudah diuji terbang, dan semua auto pilot, mulai dari
Sriti, Gelatik dengan tempat peluncuran dan pendaratan yang terbatas,"
terang dia.
Selain itu, sambung dia, ada pesawat
Alap-alap yang didesain untuk jarak sedang. Pesawat ini dirancang untuk
memantau kondisi sekira 40 km di depan kita. “Berguna pengoperasiannya
untuk kapal perang,” ujar dia.
Ada juga pesawat besar untuk jarak
menengah dan jauh yakni Puna Gagak, Puna Pelatuk dan Puna Wulung.
“Jaraknya bisa mencapai 73 km. Tetapi ini belum menggunakan satelit.
Kalau memakai satelit, bisa jauh lagi. Untuk jarak 73 km menghabiskan
bahan bakar sebanyak 20 liter bensin atau pertamax," kata Adrian.
Adrian menyebut biaya pembuatan
pesawat tersebut diambil dari kantong dana DIPA. “Rp 2 miliar untuk satu
pesawat, engine diambil dari Jerman, kamera bisa pakai dari Taiwan.
Total biaya keseluruhan Rp7 hingga Rp8 miliar. Singapura dan Malaysia
juga sudah mengembangkan," kata Adrian.
(ss/rin/kap)Politikindonesia
0 komentar:
Post a Comment