Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

26 October 2012

Kesatuan Eropa Terancam Pecah

12:21 AM Posted by Unknown No comments

Meningkatnya krisis ekonomi di Eropa menyebabkan negara-negara anggota Uni Eropa menghadapi berbagai masalah besar mulai dari gejolak sosial hingga gerakan pro-kemerdekaan khususnya di negara-negara yang mengalami kesenjangan ekonomi parah dan terbentuk dari beberapa ras dan bahasa.

Dalam dekade sebelumnya, wilayah Balkan dianggap sebagai pusat separatisme dan gerakan pro-kemerdekaan, namun saat ini gerakan seperti itu telah menyebar dari wilayah selatan Eropa hingga barat.

Peningkatan gerakan pro-kemerdekaan di Eropa akhir-akhir ini lebih banyak dipengaruhi oleh krisis ekonomi Eropa. Berdasarkan evaluasi para pakar, dalam beberapa dekade mendatang diperkirakan akan terbentuk 10 negara baru di benua Eropa.

Kurang dari tiga pekan, tiga wilayah di Eropa menyatakan ingin memisahkan diri.Flemish(Vlaams/Flandira) Nasionalis di Belgia yang dalam pemilu lokal di negara ini meraih kemenangan mutlak ingin memisahkan diri dari pemerintah pusat. Partai Aliansi Flemish Baru (N-VA) adalah partai nasionalis berbahasa belanda di Belgia. Para pemimpin partai ini menuntut Flandira yang berbahasa Belanda dapat merdeka dari pemerintah negara federal Belgia dan terpisah dari mereka yang berbahasa Perancis.


Dalam pemilu lokal tersebut, Partai N-VA meraih sekitar 36 persen suara di kota pelabuhan Antwerp, kota terbesar di Flandira.Pemimpin Partai N-VA, Bart De Wever, terpilih menjadi walikota Antwerp yang merupakan kota terbesar kedua di Belgia. Sebelum pemilu lokal digelar, De Wever berjanji akan meraih jabatan ini sebelum pemilu parlemen tahun 2014 dan menggunakan kedudukan tersebut untuk menantang pemerintah pusat  Elio Di Rupo, Perdana Menteri Belgia, yang berasal dari kubu sosialis dan berbahasa Perancis.

Penduduk Belgia terbentuk dari masyarakat berbahasa Perancis dan Belanda. Warga Belgia berbahasa Belanda tinggal di Flandira, sebelah utara negara ini.  Sementara mereka yang berbahasa Perancis tinggal di wilayah selatan Belgia yaitu di Wallonia. Kondisi ekonomi Flandira jauh lebih baik dibandingkan ekonomi di wilayah Wallonia. Namun Flandira diperlakukan berbeda oleh pemerintah pusat Belgia padahal hasil pajak warga Flandira terus dikucurkan untuk membantu Wallonia yang miskin. Sikap pemerintah Belgia tersebut menuai kecaman dan protes dari warga Flandira, bahkan mereka menuntut pemisahan antara warga yang berbahasa Belanda dan Perancis.

Posisi Partai N-VA pada pemilu parlemen tahun 2010 menyebabkan krisis politik hebat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis itu berlangsung selama 18 bulan. Namun akhirnya krisis tersebut berakhir setelah tercapainya kesepakatan di antara partai-partai moderat berbahasa Belanda dan Perancis untuk membentuk sebuah pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh Pemimpin Partai Sosialis berbahasa Perancis,Elio DiRupo.

Kemenangan Partai N-VA dalam pemilu lokal menjadi tanda bahwa Belgia kembali berada di gerbang krisis politik.Bart De Wever, Walikota Baru Antwerp, mengenai kemenangan partainya mengatakan, "Sayap penyeru perubahan menang dalam pemilu lokal dan kami akan melanjutkan aktivitas kami. Kami ingin menawarkan kepada warga Flandira tentang sebuah pemerintahan sementara di semua bidang. Oleh karena itu saya meminta Elio Di Rupo untuk melaksanakan tanggung jawabnya dan  menyiapkan dirinya untuk perubahan global."
  
Pemimpin Partai Aliansi Flemish Baru kepada Di Rupo menambahkan, "Pemerintah Anda tidak mendukung Flandira." De Wever juga menegaskan bahwa dalam pemilu parlemen yang akan digelar pada tahun 2014, ia akan berupaya meraih berbagai prestasi untuk kemerdekaan Flandira. Walikota baru Antwerp itu ketika memprotes perlakuan tidak adil pemerintah pusat, menandaskan, "Cukup sudah Flandira diperlakukan seperti sapi yang diperah susunya."

Gerakan pro-kemerdekaan di Eropa yang baru-baru ini hangat diberitakan adalah separatisme di wilayah Catalonia dan Basque di Spanyol yang tengah dilanda krisis ekonomi. Pemerintah Spanyol terpaksa menerapkan kebijakan pengetatan ekonomi akibat besarnya defisit anggaran dan tingginya utang. Kebijakan tersebut menuai kecaman dan protes luas dari rakyat. Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat telah memperkuat tekad untuk memisahkan diri dari pemerintah.

Pemilu lokal di wilayah Catalonia dan Basque pada tanggal 20 Oktober berubah menjadi ajang kekuatan partai-partai pro-kemerdekaan. Partai Rakyat Konservatif di Catalonia meraih mayoritas kursi parlemen. Kemenangan ini telah menguatkan  kecenderungan nasionalisme di wilayah ini. Nasionalis Catalonia sebulan lalu menggelar demonstrasi akbar di hari nasional wilayah ini. Unjuk rasa itu sebagai "pamer" kekuatan dalam memobilisasi rakyat Catalonia untuk menentang pemerintah pusat.

Sementara itu, kubu nasionalis di Basque meraih kemenangan besar dalam pemilu di wilayah ini. Partai Nasionalis Basque meraih 27 kursi. Sementara itu, koalisi bernama Bildu berada di posisi kedua. Diperkirakan dua partai pro-kemerdekaan Basque ini akan berkoalisi. Ketua Koalisi Bildu, Laura Mintegi, kepada para pendukungnya mengatakan, "Waktunya telah tiba bagi warga Basque untuk berpikir sebagai sebuah bangsa." Ditambahkannya bahwa instruksi dan perintah dari Madrid ke Basque harus dihentikan.

Pemilu lokal di Basque adalah pemilu pertama di wilayah ini pasca diumumkannya gencatan senjata oleh gerakan kemerdekaan nasional Basque (ETA). Keistimewaan pemilu ini adalah keikutsertaan para aktivis anggota ETA yang telah dibebaskan dari penjara. Mereka bergabung dalam kampanye dan meminta warga untuk memilih partai Bildu.

Meski  pemerintah pusat Spanyol tidak menyambut gencatan senjata tersebut. Namun ETA tetap komitmen dengan gencatan senjata yang telah diumumkannya dan tidak pernah mengangkat senjata lagi. ETA kemudian mengalihkan perjuangannya melalui jalur politik untuk memerdekakan Basque.

Krisis di Eropa juga menguatkan tekad para kubu penuntut kemerdekaan di Inggris khususnya di wilayah Skotlandia selama satu tahun ini. Gerakan mereka menyebabkan kekhawatiran para pejabat London. Partai Nasionalis Skotlandia setelah meraih mayoritas kursi parlemen di wilayah ini pada pemilu bulan Mei 2011 dan berkuasa di Skotlandia menyatakan bahwa referendum kemerdekaan Skotlandia akan digelar pada musim gugur tahun 2014 bertepatan dengan hari ulang tahun perangBannockburnke-700 dan kemenangan pasukan nasional Skotlandia dalam melawan militer Inggris.

Sebulan lalu, Partai Nasionalis Skotlandia secara resmi meluncurkan kampanye sosial-politik terbesar untuk menggapai tujuan kemerdekaan dan menyelenggarakan referendum dua tahun mendatang dengan nama "Iya, untuk kemerdekaan Skotlandia." Slogan yang diusung oleh partai ini adalah "Masa depan Skotlandia berada di tangan rakyat Skotlandia sendiri".

Pemerintah nasionalis Skotlandia menyatakan bahwa pihaknya akan terus menyiapkan segala hal yang diperlukan hingga musim gugur tahun 2014 guna menarik dukungan mayoritas rakyat demi kemerdekaan Skotlandia. Para pemimpin nasionalis Skotlandia meyakini bahwa konsekuensi krisis ekonomi di Inggris dan friksi di negara-negara Zona Euro akan menjadi faktor pendukung bagi terealisasinya tujuan-tujuan mereka.

Jika dalam referendum musim gugur tahun 2014 nanti mayoritas warga Skotlandia memilih opsi "Ya, untuk kemerdekaan Skotlandia", maka hal itu akan berubah menjadi masalah besar di tingkat internal, regional dan internasional bagi kerajaan Inggris dan membawa dampak berat bagi masa depan politik, ekonomi dan sosial London. Hal itu tentunya juga akan merugikan keamanan nasional Britania Raya dan mengancam keutuhannya.

Skotlandia memiliki penduduk 5,5 juta orang dan mempunyai ekonomi dan industri maju serta kapasitas teknik, ilmu dan riset yang tinggi. Selain itu, wilayah ini memiliki sumber-sumber minyak dan gas laut utara  yang melimpah dan merupakan pusat perdagangan terbesar setelah London. Skotlandia juga memiliki hubungan asing yang terorganisir dengan Amerika, Cina dan negara-negara utara Eropa.

Perdana Menteri Inggris David Cameron ketika mereaksi tuntutan Skotlandia berjanji akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk tetap menjaga Skotlandia agar tidak memisahkan diri dari Britania Raya. Ia mengatakan, "Saat ini perang untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar berharga tengah berkobar. Sesuatu yang berharga itu adalah masa depan Britania Raya."

Ia menambahkan bahwa pandangannya dalam hal ini 100 persen jelas yaitu akan menggunakan segala fasilitas yang dimiliki untuk menjaga keutuhan Britania Raya. PM Inggris juga menegaskan, "Bagi saya menjaga keutuhan Britania Raya dan mencegah pemisahan bukan sebatas pengambilan sebuah kebijakan, strategi atau  komputasi, tetapi pentingnya hal ini kembali kepada pikiran dan jiwa kita semua."

Italia adalah salah satu negara Eropa lain yang menghadapi kubu-kubu pro-kemerdekaan. Partai Sayap Kanan Liga Utara menentang pengalokasian dana hasil industri dan kekayaan di utara kepada bagian wilayah selatan Italia yang miskin. Mereka menuntut kemerdekaan dalam mengalokasikan hasil pajaknya. 

(IRIB Indonesia/RA/NA)

0 komentar:

Post a Comment