![]() |
| Presiden Rusia Vladimir Putin di atas kapal nuklir Arkhangelsk, 2004. Foto : AP |
ARTILERI:(DM) - Setelah sekian lama, akhirnya Angkatan Laut Rusia akan menggelar latihan perang
terbesarnya, mungkin yang terbesar sejak sebelum pecahnya Uni Soviet.
Latihan perang ini tentu saja akan menjadi ajang bagi Presiden Vladimir
Putin untuk memamerkan kekuatan militernya. Selain itu, latihan ini juga
dapat menjadi peringatan kecil bagi Amerika Serikat: "Jauhi perairan
yang sejak dulu berada di ruang lingkup pengaruh Rusia."
Ini pertama kalinya dalam beberapa dekade Kementerian Pertahanan Rusia
mengumumkan untuk mengadakan latihan perang dalam skala besar. "Latihan
perang ini akan melibatkan seluruh armada Rusia; Armada Utara, Baltik,
laut Hitam dan Pasifik," menurut pernyataan Kementerian Pertahanan.
Latihan ini dilaporkan akan digelar pada akhir Januari nanti, dengan
pendaratan amfibi di Kaukasus dan latihan angkatan laut di Mediterania.
Putin telah menumpuk anggaran sebesar US$ 659 miliar untuk belanja
alutsista sampai 2020. Kementerian Pertahanan di Moskow juga mengumumkan
skala peningkatan berkelanjutan bagi angkatan laut. Pada tahun 2016,
Kementerian Pertahanan mencatat, Angkatan Laut Rusia akan memiliki 18
kapal perang baru, dan juga 30 kapal misi khusus dan kapal
kontra-subversi, disamping enam kapal selam baru. Salah satu kapal selam
nuklir strategis, yaitu Yuri Dolgoruky yang merupakan kapal selam rudal balistik kelas Borei, sudah bergabung dengan armada minggu lalu.
Apa yang aneh dari latihan perang Rusia kali ini, yaitu pemilihan lokasi
dan waktu. Pemilihan Laut Hitam dan Mediterania telah menyebabkan
spekulasi bahwa latihan tersebut untuk menutupi evakuasi warga Rusia
dari Suriah, dengan perkiraan sekitar 9.000 sampai 30.000 orang. Bisa
jadi, karena perang sipil di Suriah semakin parah. Namun Rusia memiliki
alasan yang lebih praktis untuk menggelar latihan perang di kawasan tersebut. Karena sejauh yang dipantau Moskow, Laut Hitam kini berada dalam "ancaman".
Pada bulan November 2012, Anna Glazova, seorang analis militer di
Institut Studi Strategis Rusia, menulis dalam majalah pertahanan Rusia
"National Defence" bahwa AS sedang berusaha mengambil alih kendali
militer di wilayah Laut Hitam. Washington telah memindahkan dan memasang
sistem pertahanan rudal Patriot di Turki dan Rumania. Seolah-olah untuk
mengamankan Turki dari serangan Suriah atau untuk menembak jatuh
rudal-rudal Iran, namun niatan Amerika ini terlihat ditujukan kepada
Rusia. Rumania dan Bulgaria juga bergabung dengan NATO pada tahun 2004,
yang di mata Moskow, berarti Amerika benar-benar berusaha mengambil alih
kendali militer di pantai barat Laut Hitam, seperti yang ditulis
Glazova.
Indikasi ini cukup kuat. Pergerakan AS telah dibatasi oleh perjanjian
1936 dalam hal jumlah kapal perang yang bisa berlayar melalui Selat
Borporus Turki. Di sisi lain, selama kurun dua tahun terakhir, kapal
penjelajah AS telah megunjungi pelabuhan di Ukraina dan Georgia.
Diantaranya termasuk kapal penjelajah Vella Gulf, Philippine Sea dan
Monterrey, yang masing-masing dilengkapi dengan sistem pertahanan rudal balistik Aegis.
Merebut Laut Hitam bukan perkara mudah, AS membutuhkan skenario besar,
karena secara historis, Laut Hitam berada di belakang Rusia. Namun AS
tidak akan mengirimkan kapal induk ke Laut ini untuk membantu Georgia
dalam hal perang. Selama perang 2008 antara Georgia dan Rusia, Pentagon
berencana untuk mengirimkan dua kapal rumah sakit ke Laut Hitam, namun
ditentang dan dihadang oleh Turki. Istanbul tidak mengizinkan kapal
perang dengan bobot lebih dari 45.000 ton berada di Laut Hitam. Namun
penurunan pengaruh Rusia atas kawasan ini sudah cukup menempatkan AS
untuk mengambil alih wilayah ini.
Menurut Jim Holmes, seorang profesor strategi di Naval War College,
latihan perang Rusia ini untuk menunjukkan bahwa kekuatan Angkatan Laut
Rusia tetap menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan.
Kita lihat saja sejauh mana latihan perang Rusia pada akhir bulan ini. Pasti akan menarik, kejutan-kejutan apa saja yang akan ditunjukkan oleh Putin. (FS)

0 komentar:
Post a Comment