Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, melihat menggunakan teropong di
lokasi yang tidak disebutkan dalam foto yang diambil dari rekaman video
oleh televisi milik negara KRT, Jumat (8/3). Korea Utara mengancam
Amerika Serikat dengan serangan nuklir pendahuluan Kamis kemarin,
menaikkan tingkat retorika sementara Dewan Keamanan Amerika Serikat
memikirkan sanksi baru terhadap negara tertutup itu. (REUTERS/KRT via
Reuters TV)... Kami harus tegas...
Washington:(DM) - Pyongyang menanggapi pemberlakuan sanksi keempat PBB terkait program nuklir dan peluru kendali balistik lintas benuanya dengan menempuh jalan perang. Amerika Serikat, Sabtu, menyesalkan keputusan Korea Utara itu.
Pyongyang sebelumnya mengekspresikan kemarahannya atas pemberlakuan sanksi baru PBB itu, Jumat, dengan membatalkan semua pakta unilateral non-agresi bersama Korea Selatan. Ini berarti perang kembali dengan Korea Selatan di Semenanjung Korea itu.
"Tindakan itu semacam retorika provokatif yang tidak memberikan perbaikan nasib bagi rakyat Korea Utara," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Victoria Nuland, kepada sejumlah reporter di Washington.
"Mereka hanya ingin meningkatkan tensi hubungan dan sangat disesalkan," kata dia.
Nuland menegaskan, sanksi kepada Pyongyang itu merupakan langkah menekan Pyongyang secara langsung dan memperingatkan kepada mereka bahwa telah salah mengambil langkah.
"Jika kami tidak memberlakukan sanksi melalui PBB maka sama saja Amerika Serikat memberikan jalan bagi Korea Utara terus mengembangkan senjata nuklirnya. Kami harus tegas," kata Nuland.
Bahkan
sekutu ideologis terdekat Korea Utara, China, juga meresti pemberlakuan
sanksi keempat PBB itu. China telah cukup lama gerah atas agresivitas
Korea Utara tentang program nuklirnya.
Ancaman Korea Utara, Jumat, melalui pernyataannya mengindikasikan akan terjadi perang kembali setelah Perang Korea selesai pada 1953. Dengan kata lain, ancaman nuklir semakin menghantui Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Secara resmi dan teknis, Korea
Selatan dan Korea Utara masih dalam keadaan perang. Mereka tidak pernah
menandatangani pakta perdamaian pengakhiran Perang Korea, melainkan
hanya berupa pakta gencatan senjata bilateral.
(ANTARA News)
0 komentar:
Post a Comment