Subscribe:

03 August 2013

Pembelian Kapal Selam Kilo Rusia

Kapal Selam Kilo Rusia (photo:Dispenal)
Kapal Selam Kilo Rusia (photo:Dispenal)

JAKARTA:(DM) - Tahun 2006 disebutkan telah ditandatangani kesepakatan antara Presiden Vladimir Putin dengan Presiden SBY di Moskow tentang pengadaan sejumlah alutsista dengan skema pinjaman selama 5 tahun: allows Indonesia to buy 2 Kilo-class submarines, 20 amphibioustanks, five Mi-35 assault helicopters, ten Mi-17 personnel helicopters and other equipment. Semua barang yang disebutkan telah datang, terlihat fisiknya, kecuali 2 kapal selam Kilo yang belum pernah terpantau oleh publik.

Publik pun bertanya-tanya, jadikah kapal selam itu dibeli ?. Ada kabar yang memang belum bisa diferivikasi kebenarannya, bahwa Indonesia membatalkan pembelian 2 kapal selam Rusia pada tahun 2007, karena alasan krisis ekonomi?. Apakah pernyataan itu baru sebatas wacana, atau memang telah ditetapkan sebagai kebijakan ? Atau hanya sekedar pengalihan isu, agar negara tetangga yang mempertanyakan pembelian kapal selam kilo, tidak gundah gulana. Pihak Jepang sempat mempertanyakan untuk apa Indonesia membeli kapal selam Kilo dari Rusia. Pertanyaan Jepang itu, sempat diberitakan oleh VOA (voice of America).Australia juga menyatakan pembelian itu akan menjadi ancaman yang nyata bagi armada kapal perang mereka.


Sekarang mari kita lihat kondisi geopolitik Indonesia tahun 2004. Saat itu Indonesia sempat bersitegang dengan Malaysia dalam Kasus Ambalat. Bahkan kapal perang kedua negara sudah terlibat adu fisik: Bertabrakan di laut. Pesawat terbang intai TUDM Malaysia juga terbang/ passing di laut Ambalat. Bahkan ketika Presiden SBY melakukan tinjauan lewat kapal laut ke Ambalat.
Suasana ini membuat Indonesia sedikit panik dan tersadar, betapa alutsista Indonesia telah lemah, terlambat disadari.

Sukhoi SU 27/30 milik Indonesia belum bisa digunakan karena masih ompong alias tidak memiliki senjata. Posisi pangkalannya pun tidak cocok. Dalam keadaan darurat itu, F-16 Indonesia akhirnya dipindahkan dari Madiun ke Lanud Supadio, untuk mengantisipasi, jika pecah konflik.

Peristiwa Konflik Ambalat, akhirnya membuat Indonesia tersadar. Pangkalan SU 27/30 Indonesia dipindahkan dari Madiun, Jawa Timur ke Makassar, Sulawesi Selatan. Pemindahan Sukhoi ke Makassar memiliki nilai strategis yang sangat tinggi ke wilayah Ambalat, jika konflik kembali terjadi. Dengan home base di Makassar, Sukhoi Indonesia bisa menjangkau laut Ambalat dan kembali ke pangkalannya di Makassar. Hal ini tidak bisa dilakukan jika Sukhoi masih berada di Madiun. Setelah terbang dari Madiun dan bertempur di laut Ambalat, Sukhoi itu harus mendarat di pangkalan lain, karena untuk kembali ke Madiun, bahan bakarnya tidak mencukupi.

Dengan demikian akan sangat lucu, jika ada yang masih mempertanyakan apakah Sukhoi kita sudah dipersenjatai atau masih ompong ?. Sukhoi dipindahkan ke Makassar, agar bisa melakukan operasi tempur di laut Ambalat. Apakah Sukhoi telah memiliki senjata atau tidak, tidak perlu dipertanyakan lagi.
Faktor lain yang menunjukkan Indonesia serius menggarap isu keamanan di laut Ambalat adalah dengan pembangunan Pangkapan kapal Selam di Palu, Sulawesi Tengah. Posisi Pangkalan Kapal selam di Palu, untuk memudahkan korps hiu kencana menjangkau laut Ambalat.

Sekarang kita kembali ke pengadaan kapal selam yang perjanjiannya telah ditandatangani oleh Presiden SBY dan Presiden Vladimir Putin pada tahun 2006. Semua alutsista yang ada di listing pembelian, sudah kita lihat fisiknya. Pertanyaannya, apakah kapal Selam Kilo jadi dibeli ?.

Indonesia memiliki trauma dengan Konflik Ambalat pada tahun 2004. Trauma ini diperparah dengan lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan yang beralih kepemilikan ke Malaysia. Dalam situasi tertekan seperti itu, apakah mungkin Indonesia membatalkan pembelian dua kapal selam Kilo tersebut ?. Kalau mengikuti akal sehat, opsi itu sangat tidak mungkin. Yang ada dibenak TNI saat itu, tentu bagaimana memperkuat Alutsistanya secepat mungkin, bukan membatalkan alutsista yang justru memiliki deteren yang besar.
Coba kita lihat, apa yang terjadi di matra darat, pasca konflik Ambalat tahun 2004. Indonesia membeli MLRS Astros II yang memiliki jangkauan hingga 300 km. Hal ini untuk memberikan efek deteren di perbatasan kedua negara, termasuk pengadaan MBT Leopard II.

Semua berjalan dengan mulus: Pangkalan Sukhoi dipindahkan ke Makassar dan dilengkapi senjata/rudal. Pangkalan kapal selam digeser/dibangun di Palu didekatkan ke Ambalat. MBT Leopard 2 dan MLRS Astros II dipasang di perbatasan.

Bagaimana dengan pengadaan kapal selam kilo dari Rusia tersebut ?.
Kita tidak usah menjawabnya, karena telah dijawab oleh Wakil Menteri Pertahanan Malaysia, Datuk Abdul Rahim Bakri: “Baru-baru ini, Vietnam juga bercadang membeli enam buah kapal selam dan Indonesia telah memiliki dua buah kapal selam yang dibekalkan Rusia”. Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) memerlukan sekurang-kurangnya enam buah kapal selam bagi membentuk angkatan yang berupaya mengawal sempadan maritim negara secara berkesan.

Wakil Menteri Pertahanan Malaysia inipun tampaknya tidak membuka semua informasi. Yang jelas dia seperti panik. Apakah dia terlambat tahu, atau benar-benar salah perhitungan ?. Yang jelas laut Ambalat kini tenang, tidak ada yang mengganggu.

(JKGR)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...