Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

05 April 2014

Bicara di Telepon, 2 Dubes Rusia Bercanda soal Wilayah Mana Lagi yang Akan Dicaplok Rusia

2:02 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
LONDON:(DM) — Percakapan online antara dua duta besar Rusia bocor di dunia maya, dan diunggah lewat Youtube. Mereka berdua bercanda dengan menyebutkan, wilayah mana lagi di dunia yang akan dicaplok Rusia setelah Crimea di Ukraina.

Rekaman pembicaraan selama lima menit yang sarat dengan kata-kata kasar ini diklaim sebagai pembicaraan telepon antara Duta Besar Rusia untuk Eritrea, Igor Chubarov, serta Duta Besar Rusia untuk Zimbabwe dan Malawi, Sergei Bakharev. Belum ada konfirmasi dari keduanya.

"Kita dapatkan Crimea ... Pada masa mendatang, kita akan mengambil Catalonia dan Venesia, juga Skotlandia dan Alaska," kata suara yang disebut sebagai milik Chubarov. Dia kemudian menambahkan daftar negara-negara yang berbatasan dengan Rusia, yaitu Estonia, Romania, dan Bulgaria.











Dalam rekaman tersebut, Chubarov pun bercerita, Kepala Misi Uni Eropa untuk Eritrea berseloroh bahwa dia berharap Rusia mengambil kembali Romania dan Bulgaria. Kedua duta besar ini kemudian sependapat bahwa Rusia tak perlu mencaplok Bulgaria, Romania, dan "Baltic sh*t" di Uni Eropa.

Bakharev lalu mengatakan, akan lebih menarik jika mendapatkan California atau Miami, keduanya ada di Amerika Serikat. "Tepat," timpal Chubarov sembari menambahkan bahwa Rusia punya hak penuh menggelar referendum. Bakharev menyarankan pula agar Rusia mencaplok London.

Chubarov mengucapkan selamat kepada Bakharev untuk fakta bahwa Zimbabwe merupakan salah satu dari hanya 11 negara yang mendukung aneksasi Crimea oleh Rusia di PBB. Mereka menyebutkan kemungkinan Malawi tak mendukung langkah Moskwa.

Aksi balasan?

Muncul dugaan, bocornya rekaman pembicaraan ini merupakan balas dendam banjir kebocoran diskusi diplomatik tingkat tinggi negara-negara Barat tentang topik Ukraina. Salah satu rekaman yang bocor saat itu adalah pembicaraan antara Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Victoria Nuland, dan Duta Besar Amerika Serikat di Kiev, Ukraina.

Dalam rekaman tersebut, Nuland membahas saran strategi bagi pemimpin gerakan protes Ukraina. Saat dikonfirmasi soal keaslian rekaman, Nuland menjawab, "(Rekaman pembicaraan itu) tradecraft yang benar-benar mengesankan." Tradecraft adalah istilah yang kerap dipakai di kalangan mata-mata, terkait pengumpulan data intelijen.

Telah bocor pula rekaman percakapan antara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Cahterine Ashton dan Menteri Luar Negeri Estonia Urmas Paet. Mereka membahas teori bahwa pengunjuk rasa yang tewas dalam kerusuhan di Kiev lebih mungkin ditembak penembak jitu dari kubu oposisi daripada dari Pemerintah Ukraina saat itu.

Reaksi yang datang dari Moskwa soal rekaman pembicaraan dua duta besar itu lebih terkesan menganggap rekaman itu sebagai hiburan, dibanding kemarahan. Terlebih lagi, tingkat diplomatik dua pejabat ini jauh lebih rendah secara signifikan dibandingkan Nuland ataupun Ashton.

Sumber resmi Rusia mengatakan, Nuland tak hanya bersumpah dalam bahasa Inggris, tetapi sampai memamerkan kemampuannya memaki dalam bahasa Rusia. "Kalau (rekaman dua duta besar Rusia) ini adalah tanggapan atas ekspresi kuat Nuland, maka yakinlah bahwa tak ada duta besar Rusia yang bisa mengalahkannya (Nuland) saat memaki dalam bahasa Rusia."

Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menulis di laman Facebook bahwa dia tak mengenali suara yang ada dalam rekaman. Namun, dia mengatakan bahwa foto yang ditambahkan dalam video Youtube dan disebut sebagai Bakharev tidak mirip dengan lelaki itu.

Zakharova justru menyindir rekaman tersebut merupakan karya kikuk Amerika Serikat. Dia menyandingkan ini dengan insiden yang melibatkan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton. Bukannya tombol bertuliskan "reset", Hillary justru menampilkan tombol bertuliskan "overload" dalam bahasa Rusia kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Insiden di atas terjadi saat hubungan Amerika dan Rusia diharapkan dimulai kembali, yang diibaratkan tombol "reset". "Ini seperti (insiden) tombol 'overload'. Mereka seperti biasanya ingin tampil lebih baik, tetapi ternyata (kejadiannya) selalu seperti yang terjadi," tulis Zakharova.

Sejak krisis di Ukrania terjadi, perang kata-kata diplomatik yang diwarnai insiden kebocoran informasi terus terjadi di antara kedua negara. Pada Kamis (3/4/2014), terkait rekaman pembicaraan dua duta besar itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menuduh Amerika kekanak-kanakan.

"Apa yang bisa kami sarankan bagi rekan-rekan Amerika kita? Mereka harus mendapatkan udara yang lebih segar, melakukan yoga, makan sehat, dan mungkin menonton beberapa komedi situasi di televisi," kata Ryabkov, saat mengomentari rekaman ini sebagaimana dikutip dari kantor berita Interfax.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment