Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

25 May 2014

N219, Sejarah Baru Industri Pesawat Indonesia

11:55 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
http://images.detik.com/content/2014/05/24/1036/165825_halamandepanptdi.jpgJakarta:(DM) -PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) saat ini sedang mempersiapkan sejarah baru kebangkitan industri kedirgantaraan nasional.

Duet maut itu secara keroyokan mengembangkan prototype (purwarupa) hingga sertifikasi pesawat penumpang baling-baling dan bermesin ganda berkapasitas 19 orang.

Pesawat tersebut bernama N219. Jika lolos sertifikasi, maka Indonesia memasuki sejarah baru. Pasalnya pesawat pendahulnya yakni N250 belum memasuki tahap sertifikasi karena programnya terkena dampak krisis ekonomi 1998 dan diminta berhenti oleh International Monetary Fund (IMF).

Padahal saat itu, pesawat N250 berhasil menggedor perhatian dunia saat purwarupanya berhasil terbang perdana pada Agustus 1995 namun pesawat tersebut kini menjadi besi tua di apron atau parkir pesawat milik PTDI.

"Ini bersejarah, pertama kali bisa sertifikasi," kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN, Agus Aribowo pada diskusi Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta, Sabtu (24/5/2014).


Pasca krisis 1998, praktis tenaga ahli pesawat Indonesia yang jumlahnya ribuan bermigrasi ke pabrik pesawat dunia seperti Boeing hingga Airbus. Hingga puluhan tahun pasca krisis, PTDI belum melahirkan produk asli rancangannya karena kesulitan permodalan dan krisis tenaga ahli.

Namun kini PTDI dan LAPAN bersinergi melahirkan pesawat penumpang untuk keperluan penerbangan perintis yang melayani pelosok negeri. Meski mulai bangkit, perjalanan memperoleh dukungan pemerintah untuk mengembangkan dan memproduksi pesawat asli buatan Indonesia mengalami tantangan dan keraguan.

"Kepercayaan pemerintah belum ada, mereka trauma. Kita coba kembalikan ini. Ini proyek pertaruhan. Kalau ini berhasil, bisa berlanjut ke program N245 dan N270," jelasnya.

Program pengembangan mulai dilakukan tahun ini. Untuk pengembangan N219, LAPAN mengalokasikan anggaran Rp 400 miliar. Alokasi ini bersumber dari penganggaran tahun 2014 sebesar Rp 310 miliar dan tahun 2015 senilai Rp 90 miliar. Sedangkan PTDI berkontribusi membantu penyediaan tenaga ahli dan peralatan produksi N219.

"Total anggaran Rp 400 miliar. Tahun ini Rp 310 miliar, tahun depan Rp 90 miliar. PTDI investasi ke alat untuk perakitan," jelasnya.

Agus menjelaskan pesawat N219 akan terbang perdana pada Oktober 2015. Setelah terbang perdana, selanjutnya dilakukan pengujian prototype untuk memperoleh sertifikasi. Targetnya N219 telah memperoleh sertifikasi nasional dan mulai diproduksi massal pada akhir 2016.

"Type certificate dari CASR. Itu regulasi Indonesia. Pesawat itu kita bangun 2 unit, itu harus alami 630 jam uji terbang agar dapat sertifikasi. Satu pesawat terbang mendarat diberi alat uji dan bergantian terbang. Itu perlu satu tahun lebih untuk pengujian. Itu uji mesin, getaran, ketahahan. Kalau nggak ada masalah bulan Desember 2016 lolos sertifikasi," tegasnya.

Saat diperkenalkan ke publik dan terbang perdana pada Oktober 2015, para pembeli N219 bisa melanjutkan ke proses kontrak pembelian. Saat ini, ratusan N219 telah memperoleh komitmen untuk dibeli oleh maskapai lokal, militer, negara tetangga hingga pemerintah daerah.

"Lion 100 unit, NBA (Nusantara Buana Air) 30 unit, Papua 15 unit, Aceh 6 unit dalam nego, Sulawesi 6 unit, Riau 4 unit, Thailand minat 20 unit, TNI AL 15 unit. Semua baru letter of Intent (LoI)," paparnya.

detik
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment