Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

19 November 2014

Pelajaran dari Gripen

7:18 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
http://www.strategypage.com/gallery/images/Gripen-NG-and-Gripen-D-11-2011.jpgGripen NG dan Gripen D 

Gripen:(DM) - Swedia baru baru ini mengumumkan pelanggan ekspor baru untuk pesawat tempur JAS 39E Gripen. Dan negara ini adalah Brasil, yang memesan 36 unit. Ini pesanan ekspor terbesar untuk pesawat tempur Gripen. Hampir semua dari kelima penerima lain pesawat tempur pesawat ini hanya berjumlah 14 pesawat, dan lebih sering bertransaksi secara leasing, bukan membeli. Brasil membeli Gripen dengan harga $ 150 juta / unit (termasuk suku cadang, pelatihan dan dukungan). Penjualan kepada Brasil masih ada kemungkinan untuk dibatalkan, tetapi kemungkinan tersebut kecil terjadi. Dan beberapa pilot asal Brasil sudah dalam perjalanan ke Swedia untuk pelatihan. Dikarenakan JAS 39E belum memasuki masa tugas hingga 2018, Brasil akan melakukan leasing untuk delapan unit JAS 39C sebagai pelatihan. Penjualan terakhir (2013) sejumlah 22 Gripen dibatalkan.

Ini sesuatu yang mengecewakan karena penjualan ini terjadi setelah melalui kompetisi yang sangat ketat dan mahal melibatkan Gripen, Rafale Perancis, dan Eurofighter Inggris-Jerman. Hampir semua evaluasi yang bersifat rahasia atas ketiga pesawat tempur ini bocor ke media dan member gambaran yang menarik atas ketiga pesawat tempur tersebut. Gripen memenangkan kompetisi bukan karena sebagai pesawat terbaik melainkan karena OK dalam semua syarat, dan termurah. Fakta bahwa Swedia, seperti Swiss, sebagai negara Eropa yang berpolitik netral juga membantu.


Tetapi penjualan ini mengalami kesulitan di Swiss, dimana banyak pihak di Swiss merasa bahwa mereka tidak memerlukan pesawat dengan performa tinggi. Awal 2014, isu ini diangkat kedalam pemungutan suara secara nasional, dan 54 persen menolak membelinya. Tetapi Swedia, dan banyak pembeli potensial, mendapatkan data evaluasinya. Evaluasi ini membuktikan Rafale sebagai pesawat terbaik. Sebenarnya, ketiganya memenuhi persyaratan dasar yang diinginkan oleh Swiss.

Gripen hanya bagus pada pembiayaan awal dan jangka panjang (life cycle). Eurofighter paling mahal dan memerlukan banyak waktu dalam memelihara. Apa yang membuat Swiss kagum tentang Rafale adalah bagaimana bagusnya semua sensor aktif dan pasif terintegrasi sehingga memberikan sang pilot gambaran nyata yang komplit diluar sana. Rafale dan Eurofighter keduanya menggunakan dua mesin, dan memberikan sedikit keunggulan dibanding Gripen yang bermesin satu. Tetapi Swiss bukanlah negara besar dan pesawat bermesin satu mempunyai jarak yang cukup untuk bertugas diudara negara tersebut. Apalagi, Gripen yang berbadan lebih kecil lebih cocok untuk lanud dan fasilitas milik Swiss, yang berdasarkan pesawat pesawat tempur lama yang lebih besar dari ukuran Gripen. Banyak negara, seperti Brasil, menggunakan criteria yang sama dengan Swiss. Persaingan di Brasil berlangsung selama 6 tahun, dan Gripen akhirnya terpilih dengan alasan yang sama ketika menang di Swiss.

Swedia harus selalu kelimpungan dalam menjual Gripen dimana kompetisi sangat ketat dari pesawat pesawat baru dan lama milik Amerika (terutama F-16 bekas), Rusia dan pesawat tempur negara Eropa. EADS, pabrik pembuat Eurofighter, mengancam kesepakatan Gripen Swiss dengan menawarkan 22 unit Eurofighter bekas dengan setengah harga JAS 39E baru. Penawaran ini dapat terjadi dikarenakan beberapa negara membatalkan pemesanan pesawat tempur Eurofighter, pesawat yang didisain pada akhir era Perang Dingin. Dengan tumbangnya Uni Soviet, pesanan Eurofighter diciutkan dan terus diciutkan. Hal ini mengakibatkan ada pasar baru untuk pesawat tempur Eurofighter bekas, yang berkompetisi langsung dengan F-16 bekas. Walaupun mungkin Gripen baru lebih cocok untuk kebutuhan negara Swiss, 50 persen diskon adalah sesuatu yang sangat menarik. Swedia harus memberikan paket pembelian yang lebih ok untuk mengatasi penawaran menggiurkan Eurofighter bekas tersebut.

Tadinya dikenal dengan Pesawat tempur Gripen NG (Next Generation), dan JAS 39E lebih berat (17 ton) daripada 39C, mempunyai elektronik yang lebih baik, mengangkut lebih banyak (lebih dari 4 ton), dan mempunyai versi dua kursi yang dapat menangani tugas perang elektronik dan serangan darat lebih baik. Angkatan udara Swedia sudah mengoperasikan 134 JAS 39C, dan prospek pemotongan anggaran mengakibatkan rencana pembelian 60 Gripen NG (dengan nilai sekitar $ 5 Milyar) kelihatannya mustahil. Tetapi JAS 39E menarik beberapa calon pembeli dan ini membuat perbedaan. Swedia menyebut 39E sebagai “pesawat baru” dibanding model JAS 39 terdahulu. Ada kebenaran disitu, dimana 39E sedikit lebih panjang dan berat tetapi bentuknya tetap seperti Gripen. 38E lebih mahal, lebih mampu dan berisi lebih banyak elektronik, dimana ini semua tidak dapat dilihat. 39E pertama akan mulai beroperasi 2018. Gripen sudah melakukan satu upgrade besar pada model JAS 39C.

 Peningkatan ini termasuk didalamnya inflight refuel, elektronik yang lebih canggih, dan peningkatan kemampuan serang darat. Model C sudah mengikuti standar pesawat tempur NATO. Syarat ini keharusan untuk penjualan ekspor. Ada pula model D kursi dua untuk pesawat latih. JAS-39C berbobot 14 ton hampir dapat dibandingkan dengan F-16 versi terakhir. Gripen kecil tetapi dapat mengangkut senjata hingga 3,6 ton. Dengan peningkatan penggunaan bom-bom pintar, ini sudah cukup. Sering dianggap sebagai salah satu “pesawat jet tempur modern”, Gripen Swedia ini membuktikan bahwa dia dapat bersaing dengan pesawat-pesawat pabrikan besar (F-16, F-18, F-35, Eurofighter, Rafale, MiG-29, dan Su-27). Gampangnya, Gripen melakukan banyak hal kecil (tapi penting) secara benar dan hanya setengah biayanya (sekitar $ 35 juta / unit) dibanding yang lain. Lebih penting lagi, Gripen lebih murah dari segi per flight hour dalam pengoperasian.

 Akibatnya, Gripen memberikan kesan kuat dan murah seperti pespur Rusia dengan kualitas tinggi dan dapat diandalkan seperti pesawat tempur Barat. Untuk banyak negara ini kombinasi yang menarik. Gripen sangat mudah dioperasikan (baik oleh pilot maupun kru didarat), dan cukup mampu melakukan semua tugas pesawat tempur (pertahanan udara, dukungan darat, dan pengamatan). JAS 39 mulai operasional ditahun 1997, dan mengalami kesulitan dalam penjualan ekspor.

Swedia tidak mempunyai hambatan diplomatic dengan para pesaing, sehingga mereka harus meningkatkan kualitas dan servis. Pesawat tempur Swedia dan produk-produk yang lain secara umum mempunyai reputasi yang baik dalam kedua kategori itu. Dan Gripen dipastikan akan kalah dalam beberapa kompetisi penjualan hanya karena politik yang dikedepankan atas performa.

 strategypage
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment