Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

09 January 2015

Mengenal F-15SG Strike Eagle RSAF

11:17 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
F-15SG Strike Eagle RSAF

JAKARTA:(DM) - 08/01/2015. Saat ini ancaman paling serius bagi Indonesia adalah F-15SG. Singapore belum membeli sampai ke tingkat Silent Eagle (waktu itu belum ada), tapi lebih ke F-15E Strike Eagle “biasa” yang memakai APG-63v3 AESA-radar, dan dua mesin GE F110-GE129 yang masing masing mempunyai daya dorong lebih kuat dibanding mesin P&W F100-200 seperti dipakai F-16 Indonesia.

Catatan kecil: Mesin F-15 dan F-16 sebenarnya memakai dua tipe yang sama GE F110 atau P&W F100. Tentu saja ada perbedaan sedikit, sub-variant mesin utk F-15 dikonfigurasi untuk pesawat tempur bermesin dua, dan sebaliknya untuk F-16 hanya bermesin tunggal.
## Availability rate & Jumlah F-15
——————————————-
Permasalahan utamanya adalah F-15SG tingkat “availability rate”-nya akan lebih tinggi dibandingkan Su-30MKM yang dipilih Malaysia atau Su-27/30 Indonesia sendiri.


Ini memang sudah biasa, karena pesawat tempur buatan Barat (US, atau Eropa) SELALU mempunyai kesiapan tempur yang lebih tinggi (sekitar 80 – 90%) dibandingkan buatan Russia, atau Chinese-copy-nya (sekitar 55% – 70%).

Ini artinya jika kita mengambil asumsi jumlah pesawat Malaysia, Singapore, dan Indonesia sama, Singapore akan dapat mengudarakan lebih banyak F-15SG setiap saat, dibanding Malaysia (Su-30MKM) dan Indonesia (Su-27/30).

Masalah kedua, tentu saja jumlah. F-15SG yang sudah dibeli Singapore (24 pesawat + 8 tambahan) jumlahnya sudah menyamai jumlah Sukhoi Indonesia dan Malaysia kalau digabung.
## Kemampuan radar, IRST, Aerial Networking, dan BVR Combat
———————————————————————————–
Singapore adalah customer export pertama di luar US, yang “berhasil” membeli F-15 Strike-Eagle variant yang diperlengkapi AESA radar (semua pembeli yang lain masih memakai APG-70).

Boleh dibilang, APG-63v3 AESA radar di F-15SG akan melebihi kemampuan radar semua pesawat tempur lain di seluruh Australia.

AESA radar di F-15 ukurannya besar — sekitar 1500 transmitter dibandingkan 1000 di APG-79 F-18F Super Hornet Australia.

Menurut laporan, APG-63v3 akan memberikan daya jangkau yang 2-3 lebih besar dibandingkan radar “lama” F-15E Strike Eagle — tipe pulse-doppler APG-70 (tipe ini sendiri sudah lebih unggul dibandingkan APG-66 atau APG-68 di F-16 Indonesia). Dan kelebihan radar AESA yang lain, seperti biasa, lebih sulit untuk “dikunci” atau di deteksi, maintenance juga lebih mudah dan murah dibanding radar pulse-doppler.
Dalam hal ini jelas, APG-63v3 AESA mengungguli semua radar pesawat tempur Indonesia manapun. Secara tehnis, F-15SG akan dapat melihat target lebih jauh, dan menembakkan AIM-120C7 AMRAAM dari jarak yang lebih jauh sebelum ada pesawat di seluruh kawasan ini yang bisa mendeteksi atau “lock” mereka.
Lebih parah lagi, F-15SG juga diperlengkapi IRST untuk deteksi air-to-air secara passive — tapi berbeda dgn pesawat buatan Eropa / Russia, IRST di pesawat buatan US tidak dipasang di depan cockpit, tapi dalam bentuk -pod yg dipasangkan dibawah pesawat.

Terakhir, tentu saja F-15SG juga sudah diperlengkapi standar dengan Link-16 Aerial Network NATO, memberikan kemampuan utk tipe ini saling berbagi lokasi target dgn semua fasilitas radar darat, AEW&C, dan pesawat tempur lain yang dimiliki Singapore.

F-15 E  Strike Eagle

## Kemampuan kinematis
——————————–
Diatas kertas, dari segi kemampuan kinematis, F-15SG akan sebanding dengan Su-30MK2. Mungkin Sukhoi bisa mengungguli F-15 didalam manuever, tapi perbedaannya tidak akan banyak, dan akan tergantung kepada latihan pilot. Dalam hal ini, kemungkinan besar juga Indonesia masih akan tertinggal dibanding Singapore.
Untuk WVR, F-15SG diperlengkapi JHMCS di cockpit dan AIM-9x Block-2.
## Kesimpulan
——————-
Secara teknis, menurut saya, walaupun platform-nya sendiri sebenarnya sudah berumur 40 tahun lebih, F-15SG bahkan lebih berbahaya dibandingkan F-35.

F-15 sudah “proven concept”, yang dapat terbang lebih tinggi, lebih cepat, dan bermanuever jauh lebih baik. Diperlengkapi dengan AESA radar, kemampuan deteksi F-15SG bahkan mungkin menyamai kemampuan radar APG-77 di F-22, menjadikannya jauh lebih berbahaya lagi.

Singapore (dan Australia) sudah mengambil lompatan yang cukup jauh dibandingkan banyak negara lain dengan menjadi yang pembeli AESA radar buatan US yang pertama. Bahkan negara- negara pembeli F-15 lain yang mempunyai kocek yang lebih tebal (Israel, Saudi Arabia, Jepang, dan Korea Selatan) saat ini belum mempunyai AESA radar di F-15 mereka. Tambahan lagi, Singapore masih berencana untuk meng-upgrade semua F-16 mereka juga dgn AESA radar.

Dari sudut pandang AESA ini saja sudah memaksa Indonesia untuk mulai memugar seluruh armada tempur TNI-AU. Belum lagi kalau menghitung di masalah Aerial networking. Entah kenapa, pembelian F-16 Block-52ID yang tempo hari itu seharusnya sangat menjanjikan, bahkan tidak disertai dengan Link-16 Network… Sedangkan TSK-2 aerial Network di Sukhoi Flanker — saat ini jangan berharap banyak bisa diintegrasikan sama seperti konsep Link-16 yg dipakai Australia dan Singapore.

Permasalahan utama kalau Indonesia mau menandingi Singapore, bukan hanya di masalah tipe pesawat tempur yang MANA yang dibutuhkan, tapi juga harus disertai jawaban dari pertanyaan berikut:
Apakah Indonesia dapat membuat program training pilot yang dapat bersaing dengan Singapore (atau Australia) ?

Kalau kita boleh membeli pesawat paling hebat sebagaimanapun juga (PAK-FA atau F-22) akan percuma hasilnya, kalau kemampuan pilot Indonesia tidak dapat menyamai / bersaing dengan negara2 tetangga kita yg sudah mempunyai standar yang lebih tinggi. (oleh: wipe out).

jkgr
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment