Subscribe:

18 November 2012

Batalyon Infanteri 500/Raider

Batalyon Infanteri 500/Raider merupakan satuan tempur dasar khusus dengan tugas pokok melaksanakan pertempuran di darat dan tugas-tugas lain yang diperintahkan oleh Komando Atas.


Awal pembentukan Batalyon Infanteri ini sekitar Bulan Oktober 1945. Batalyon ini berada di wilayah Jawa Timur. Selanjutnya, pada Bulan Mei 1946, Markas Batalyon 6040 beserta seluruh Kompi-kompinya dipindahkan dari kota Mojokerto ke Pabrik Gula di Brangkal Kec. Sooko Kab. Mojokerto. Berdasarkan Keputusan Panglima Divisi VI pada waktu itu, Batalyon 6040 berubah menjadi Depo Batalyon 6010.


Pada sekitar pertengahan tahun 1947 sesuai dengan Keputusan Panglima Divisi VI, Batalyon 6010 diadakan reformasi dan Kode Nomor Batalyon diubah menjadi Batalyon 131
dan dimasukkan Komando Resimen 34 Kediri. Pada awal tahun 1948 Batalyon 131 dirubah menjadi Batalyon 23 dan berkedudukan di Minggiran.


Pada tanggal 3 Maret 1949 Komandan Brigade “S” Letnan Kolonel Soerachmad mengeluarkan Keputusan yang intinya memberikan nama bagi batalyon-batalyon yang berada dibawah Komando “S” dengan kode nama Burung, sedangkan untuk Batalyon 23 diberi nama SIKATAN serta mendapatkan beban tugas operasinal di wilayah Kediri. Pada tahun 1951 berubah lagi menjadi Batalyon Infanteri 507/Sikatan Mahastra Yudha. Pada tahun 1964 Batalyon Infanteri 507/Sikatan Mahastra Yudha diubah menjadi Batalyon Infanteri 507/BS Sikatan.


Dalam rangka meningkatkan profesionalisme prajurit di jajaran TNI Angkatan Darat, seluruh personel Batalyon Infanteri 507/BS Sikatan mengikuti pelatihan pada tanggal 16 Juli s/d 09 November 2003, bertempat di daerah latihan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur guna menempuh kualifikasi RAIDER. Latihan yang dilaksanakan selama 6 bulan tersebut ditutup pada tanggal 09 Nopember 2003 oleh Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu. Dengan berakhirnya latihan di daerah latihan Ralasuntai Pantai Jangkar tersebut seluruh personel yang mengikuti latihan dan dinyatakan lulus berhak menggunakan baret dan tanda brevet raider.


Pada tanggal 22 Desember 2003 bertempat di lapangan Parkir Kemayoran Jakarta bersamaan dengan upacara peringatan Hari Juang Kartika dilaksanakan upacara pengukuhan 10 Batalyon Raider di seluruh Indonesia termasuk di dalamnya Batalyon Infanteri 507/BS Sikatan. Maka sejak itulah Batalyon Infanteri 507/BS Sikatan berubah namanya menjadi Batalyon Infanteri 500/Raider sesuai Keputusan Kasad Nomor: Kep/4/XII/2003 tanggal 15 Desember 2003. Yang sampai saat ini berkedudukan di Surabaya, Jawa Timur dengan luas pangkalan lebih kurang 8,5 hektar. Dimana kelima kompi-kompi juga berada dalam satu markas, dengan fasilitas latihan yang di miliki lapangan sepak bola, lapangan tembak 100 M, dan tower simulasi mobud serta tower panjat tebing.



Batalyon Infanteri 500/Raider merupakan satuan tempur dasar khusus, berdiri sendiri berkedudukan langsung dibawah Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya.Tugas pokok dari Batalyon Infanteri 500/Raider adalah melaksanakan pertempuran di darat dan tugas-tugas lain yang diperintahkan oleh komando atas.


Organisasi Yonif 500/Raider mengacu pada Orgas Yonif Raider ROI–95 sesuai Keputusan Kasad Nomor : Kep/10/IV/2006 tanggal 11 April 2006 yang terdiri dari unsur Mayon, 1 Kima, 3 Kipan dan 1 Kompi Bantuan.



Setiap personel yang masuk di Batalyon Infanteri 500/Raider harus mempunyai kemampuan atau berkualifikasi Raider dan Mobud. Oleh Karena itu, setiap perekrutan personel baru dari lembaga pendidikan terlebih dahulu harus menempuh pendidikan Raider di Pusdikpassus, Batujajar, Bandung selama 4 bulan yang dilatih oleh Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat.

Selain melaksanakan program latihan yang dilaksanakan sebagai satuan Infanteri, Yonif 500/Raider dalam rangka menjaga dan mengasah kualifikasi Raider dan Mobud, maka setiap tahunnya dilaksanakan latihan pemeliharaan Raider (latihan teknis dan taktis Raider) maupun latihan pemantapan Raider (Gladi Lapang Raider).



Setiap satuan khususnya satuan tempur memiliki beberapa kegiatan yang disadari atau tidak, telah menjadi sarana untuk membentuk ciri dan warna khas tersendiri didalam mengemban tugas pokoknya bahkan tidak jarang dengan ciri khasnya tersebut akan mengantar kepada keberhasilan satuan pada saat melaksanakan tugastugas operasi baik tempur maupun nontempur. Kebiasaan itu sering disebut dengan tradisi satuan.


Di satuan Batalyon Infanteri 500/ Raider bagi personel yang baru masuk satuan secara pasti harus segera menyesuaikan terhadap tradisi satuan sebagai sarana dan pola pengenalan satuan yaitu pembinaan mental dan tradisi (Binmentra). Hal tersebut dilaksanakan dengan tujuan:


a. Mengenal sejarah berdirinya Batalyon Infanteri 500/Raider dari awal hingga sekarang beserta latar belakang dan kejadian yang mewarnai perjalanan hidup satuan.
b. Menumbuhkan dan mempererat jiwa korsa, disiplin dan semangat yang tinggi serta bersama-sama dalam mengemban tugas pokok sebagai prajurit, antara personel lama dan personel baru.
c. Menumbuhkan rasa cinta terhadap satuan sehingga tidak melakukan hal-hal atau kegiatan yang dapat mencoreng nama baik satuan.




Makna dan arti yang terkandung di dalam lambang Kesatuan, secara terperinci dapat diartikan sebagai berikut :

Pisau/Sangkur

Melambangkan ketajaman berfikir dan berolah yudha bagi prajurit yang berkemampuan/kualifikasi Raider yang selalu siap mengemban tugas sebagai pasukan terdepan.


Lintasan Kilat (Petir)


Melambangkan prajurit Raider yang mampu bergerak dan bertindak dengan cepat dalam segala medan pertempuran.


Dua Rangkai Kobaran Tujuh dan Tiga Lidah Api.


Melambangkan semangat juang yang tinggi dan tidak kenal menyerah serta menggambarkan prajurit yang tangguh, tanggon dan trengginas.


Pesawat Helikopter dengan sayap terbentang.


Melambangkan kecepatan mobilitas dan kesiapsiagaan yang tinggi bagi prajurit Raider serta selalu siap melaksana kan panggilan tugas Negara.


Sesanti bertuliskan ”Cepat, Senyap dan Tepat”.


Dengan pengertian prajurit Raider dalam melaksanakan tugas selalu bergerak dengan cepat, menghancurkan dan meninggalkan sasaran tanpa diketahui oleh musuh serta tepat waktu dan tepat sasaran.


Arti secara keseluruhan


Adalah prajurit yang berkualifikasi Raider dan Mobud harus memiliki kemampuan ketajaman berpikir, bergerak dan bertindak cepat dengan mobilitas serta kesiapsiagaan tinggi dilandasi semangat juang yang tidak kenal menyerah dalam melaksanakan tugas panggilan negara yang berdasarkan Sapta Marga.


Sejak berdirinya satuan ini, Batalyon Infanteri 500/Raider telah melaksanakan penugasan-penugasan di seluruh wilayah Indonesia sebagai berikut :


- Aksi-aksi offensif gerilya yang bersifat mobil terhadap pasukan Belanda, sejak lahirnya Batalyon Sikatan sampai dengan akhir tahun 1949 didaerah Tulung Agung, Blitar, Ponorogo dan Madiun

- Penumpasan APRA di Bandung.


Tugas operasi lain yang telah dilakukan oleh Yonif 500/Raider meliputi beberapa wilayah di Indonesia antara lain :


- Operasi penumpasan gerombolan DI/TII.

- Operasi penumpasan gerombolan DI/TII Kahar Muzakar.

- Operasi penumpasan PRRI.

- Operasi Timor–Timur, operasi Pasca Jajak pendapat Timor-Timur tahun 1999.

- Operasi Comodo Atambua.

- Satgas Darat Rajawali–I sebanyak 2 Kompi tahun 2001 s/d 2002 di daerah Rawan Aceh.

- Operasi Pemulihan Keamanan sebanyak 1 Kompi tahun 2001 s/d 2002 di daerah Rawan Aceh (BKO Yonif 516/CY).



Prestasi yang telah di raih oleh Yonif 500/Raider antara lain : Juara Umum Oraum dan Oramil Lomba Binsat Antar Satuan Kodam V/Brawijaya, Juara-1 Ton Beranting Yudha Wastu Pramuka, serta Yonif 500/RaIder sebagai juara I lomba Binsat (Pembinaan Satuan) untuk kategori Satpur (Satuan Tempur), Kodam V/ Brawijaya tahun 2011.


Selain sebagai juara dalam bidang ketangkasan Yonif 500/Raider juga berhasil meraih prestasi di daerah penugasan antara lain :


- Penumpasan pemberontakan APRA di Bandung tahun 1950.

- Penugasan Aceh berhasil menembak mati Panglima GAM Tengku Ishak Daud tahun 2003 s/d 2005, serta masih banyak prestasi lain yang ditorehkan satuan Yonif 500/Raider.


Majalah PALAGAN Maret 2012
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...