Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

06 March 2014

Mampukah AS Membiayai Rencana Pivot Asia?

10:22 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
Seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan pivot Asia “Tidak bisa terlaksana” jika pemotongan anggaran  pertahanan AS terus berlanjut.
 
WASHINGTON DC:(DM) - Seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan kepada kalangan industri pada hari Selasa bahwa pivot Asia “tidak bisa terlaksana” karena pemotongan anggaran belanja pertahanan AS.

Menurut Navy Times, publikasi milik pribadi McFarland, Asisten Menteri Pertahanan untuk Akuisisi, dalam sebuah konferensi industri pada hari Selasa : “Saat ini, Pivot Asia sedang dipertimbangkan ulang, karena terus terang saja itu tidak bisa terjadi.”

Hal ini tampaknya secara kontras berlawanan dengan pernyataan sebelumnya dari Departemen Pertahanan AS dan pemerintahan Obama, yang menyatakan bahwa kepentingan Asia – Pasifik akan terlindung dari pemotongan anggaran pertahanan.


Namun, sebuah sambutan dalam artikel asalnya, McFarland mengklarifikasi pernyataan aslinya. Berbicara melalui seorang juru bicara Pentagon, McFarland mengatakan :

“Saya mengulangi apa yang [Menteri Pertahanan Chuck] Hagel katakan pekan lalu : Bahwa pergeseran fokus ke Asia – Pasifik mengharuskan kita untuk beradaptasi, berinovasi, dan membuat keputusan sulit (anggaran dan akuisisi) untuk memastikan bahwa militer kita tetap siap dan siaga. Itulah apa yang kami lakukan dalam anggaran ini. Penyeimbangan ke Asia bisa dan akan terus berlanjut. “

Tidak jelas bagaimana dua pernyataan diatas bertepatan satu sama lain, dengan asumsi jika pernyataan pertama memang diambil sesuai konteks.

Pivot Asia

Namun, QDR (Quadrennial Defense Review/Tinjauan Pertahanan 4 Tahunan) 2014 tampaknya menegaskan kembali komitmen Washington untuk poros Asia AS. Dalam menyatakan prioritas Departemen Pertahanan untuk empat tahun ke depan, menyatakan: menyeimbangkan ke kawasan Asia-Pasifik untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan sebagai prioritas pertama, diikuti dengan mempertahankan komitmen ke Eropa dan Timur Tengah dan melawan ekstremisme.

Bagian lain dari QDR mencatat bahwa : “perang modern yang berkembang pesat, menyebabkan semakin diperebutkannya battlespace domain udara, laut , dan domain ruang angkasa – serta dunia maya – di mana kekuatan kita menikmati dominasi dalam konflik belakangan ini. ” Penekanan ditempatkan di udara, laut, ruang angkasa dan dunia maya -serta tidak disebutkannya domain kekuaan darat- menunjukkan bahwa Pentagon menunjuk Asia dalam pernyataan itu. Kemudian, daftar dokumen mengatasi tantangan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) disamping tantangan yang berkaitan dengan negara-negara yang menguasai senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction -WMD) .

Dalam QDR baru, Pentagon juga mengatakan ” Angkatan Laut akan memodernisasi armadanya kapal permukaan, pesawat terbang, dan kapal selam untuk memenuhi ancaman abad ke-21. Kita harus memastikan bahwa armada ini mampu beroperasi di setiap daerah dan di semua spektrum konflik.”
Meskipun demikian, semakin banyak pengamat mempertanyakan kemampuan AS menyeimbangkan ke Asia di era keterbatasan fiskal, dan komentar seperti yang dibuat oleh McFarland cenderung menimbulkan kekhawatiran di berbagai ibukota sekutu AS di kawasan Asia Pasific. China tidak menunjukkan adanya keraguan serupa seperti yang saat ini sedang berkembang di Washington. Misalnya , seorang juru bicara China Selasa menyatakan :

“Jika beberapa negara ingin memprovokasi atau ingin merusak perdamaian regional dan tatanan regional, maka kita harus merespon, dan respon yang efektif pada saat itu… titik respon itu, adalah di satu sisi mempertahankan wilayah dan kedaulatan China, dan di sisi lain untuk menjaga tatanan regional dan perdamaian.”

mb13-chinae28093us-defence-spending-projections

Proyeksi anggaran pertahanan AS dan China dengan berbagai asumsi parameter
China diperkirakan akan merilis anggaran pertahanan terbaru mereka pada Rabu waktu setempat.  (Zachary KeckThe Diplomat)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment