Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

24 September 2015

Pesan di Balik Rencana Kehadiran SU-35 di Kawasan

12:26 AM Posted by Ikh Sanudin No comments
ANALIS:(DM) - Ketika Tiongkok mempertontonkan kekuatan militer mereka dalam peringatan 70 berakhirnya Perang Dunia II, dunia dibuat terenyak. Kemampuan militer negara yang sempat hancur karena invasi Jepang itu berkembang sedemikian pesat, bahkan membuat gentar.
Sehari sebelum parade militer itu digelar, sejumlah kapal perang Tiongkok tampak berlayar di Laut Bering, Alaska. Pada saat yang sama Presiden Amerika Serikat Barack Obama sedang berkunjung ke Alaska. Peristiwa itu secara tak langsung menunjukkan betapa kuatnya Tiongkok saat ini, sekaligus menegaskan kehadiran mereka sebagai kekuatan global.
Dalam isu sengketa Laut Tiongkok Selatan, kekuatan Tiongkok pun tak bisa lagi diabaikan. Meskipun tidak terlibat, Indonesia tetap harus waspada dan mawas diri. Dosen Sekolah Komando Angkatan Udara dan Sekolah Komando Angkatan Laut Connie Rahakundini Bakrie mengatakan, Indonesia tidak bisa lagi hanya berpangku tangan dan menjadi penonton.
Apalagi, saat ini tidak hanya Tiongkok yang terus memperkuat diri. Kekuatan ekonomi global di kawasan, seperti India, Singapura, dan Australia, juga terus meningkatkan kemampuan armada mereka. Parlemen Jepang pun setuju merevisi UU Keamanan yang memungkinkan pasukan Jepang hadir dalam konflik di luar negeri.
Di sisi lain, kebijakan Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai kekuatan maritim global memerlukan dukungan memadai. Kebijakan itu, menurut Connie, tidak semata-mata hanya persoalan ekonomi, tetapi juga pertahanan. Ketika Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, Indonesia akan membeli pesawat tempur generasi 4++ Su-35 untuk menggantikan skuadron F-5E, menurut dia, adalah tepat.
“Kebijakan membangun Indonesia menjadi kekuatan maritim memerlukan perlindungan udara yang memadai,” kata Connie.
Tak hanya itu, pilihan untuk menerbangkan Su-35 juga sesuai dengan rencana pembangunan wilayah pertahanan berbasis tata ruang kawasan, terutama untuk menghadapi ancaman langsung ataupun pelanggaran wilayah dirgantara. “Itu sesuai dengan visi poros maritim Presiden Jokowi yang berupaya menempatkan kembali negara sebagai pemain, bukan penonton, terutama dalam isu keamanan kawasan,” kata Connie.
Secara teknis, Su-35 memiliki kemampuan setara, bahkan dalam beberapa aspek lebih unggul daripada pesawat generasi V, seperti F-35 yang hendak diadopsi oleh Singapura dan Australia, serta F-22 yang dimiliki AS. Radar Irbis-E yang terpasang di hidung Su-35 mampu mengendus lawan yang berada di jarak 400 kilometer, lebih jauh daripada jarak pantauan radar F-22 yang hanya 240 kilometer. Rudal-rudal yang diangkutnya pun mampu menyaingi AIM-120 AMRAAM milik AS dan mitra strategis mereka di kawasan.
Dihubungi terpisah, anggota Komisi I DPR, Tb Hasanuddin, mengatakan, situasi regional dan global saat ini sebenarnya tidak lagi hanya menghitung perimbangan kekuatan militer semata. Menurut dia, yang lebih memainkan peran adalah kekuatan dan kemampuan menyelesaikan masalah bersama untuk kepentingan bersama.
Kehadiran Su-35 akan memberi faktor penguat terhadap kekuatan diplomasi Indonesia, baik di tataran regional maupun internasional,” kata Hasanuddin.
Namun, di sisi lain mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Chappy Hakim mengingatkan, kekuatan Su-35 akan menjadi optimal jika pilihan itu merupakan turunan dari sistem pertahanan nasional, bukan semata-mata pilihan strategis matra udara. Artinya, kekuatan itu dipilih karena sesuai dengan sistem dan strategi pertahanan nasional, serta sinkron dengan perkuatan dua matra lain, yang juga berbasis pada kebijakan pertahanan nasional.
Tanpa itu semua, efek gentar Su-35 tidak akan optimal.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment