Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

08 February 2016

Alutsista Sukhoi dan Bisnis di Dalamnya

10:58 PM Posted by Ikh Sanudin No comments
Ilmu itu mahal, sampai pepatah menyatakan cari lah ilmu sampai negeri China. Ilmu bisa dicari tapi tidak bisa dibeli. Ilmu hanya bisa dipelajari dengan berjalannya waktu. Proses belajar menuntut ilmu inilah yang membuat suatu ilmu menjadi mahal. Negara Jepang butuh 50 tahun sejak restorasi Meiji untuk berubah menjadi negara maju pada saat itu. Chna butuh 20 tahun belajar teknologi dari Rusia dalam hal teknologi militer. jadi nilai ilmu sangatlah mahal terutama menyangkut perkembangan technology persenjataan.
sukhoi 1
sukhoi 2
JAKARTA:(DM) - Kementerian Pertahanan memutuskan mengganti satu skuadron pesawat tempur jenis F-5 Tiger milik TNI AU dengan pesawat tempur jenis Sukhoi SU-35 dari Rusia. Hal ini dikarenakan pesawat jenis F-5 Tiger diketahui akan memasuki pensiun.
Pembelian alutsista tersebut menggunakan sistem ‘G to G’ (Government to Government) alias kesepakatan bisnis antar pemerintah kedua negara. Proses transaksi pembelian Sukhoi itu dilakukan oleh pemerintah RI dan Rusia.
“Kita sepakat akan membeli satu skuadron Sukhoi SU-35 dari Rusia untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger, lengkap dengan senjatanya”, kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.
Pembelian SU-35 akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan kemampuan anggaran keuangan negara. Pak Menhan beralasan anggaran yang didapat untuk TNI AU tidak hanya untuk pembelian alusista, tetapi juga digunakan untuk perawatan, perbaikan rutin, dan biaya operasional TNI. Pastinya ada barang lain berupa alusista yang kita beli untuk menambah kekuatan TNI dan sesuai dengan kebutuhan pada MEF II.
sukhoi 3 - Copy
sukhoi 4
sukhoi 5
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini mengatakan, pembelian alusista dari negara Rusia juga disertai transfer of technology (tot) ilmu pesawat tempur.
Sesuai dengan amanat UU Tentang belanja alusista yang mewajibkan adanya Transfer of technology, yang diharapkan ke depannya nanti bangsa Indonesia tidak hanya sebagai pembeli alusista pesawat tempur, tetapi dapat menjadi pembuat dan penjual pesawat tempur, serta menghilangkan ketergantungan belanja alusista dari negara negara di dunia.
Biar lambat asal pasti kelak kita dapat berdiri sejajar dengan negara negara produsen pesawat tempur. Jika tidak sekarang, kapan lagi kita mulai kemandirian pembuatan pesawat tempur.
Lalu timbul pertanyaan, kok mau ya pihak Russia mau memberikan TOT ilmu pesawat kepada Indonesia yang membeli “hanya” 12 unit plus belinya ngeteng, serta mendapat bonus pinjaman kredit utang ringan atau soft loans $ 3 milion US dollar sekitar Rp.40 Trilyun. Untuk modal belanja alusista, seperti Sukhoi Su 35, S-300, pesawat amphibi, tank marinir dan pesawat angkut besar, serta membeli perlengkapan dan persenjataan lengkap untuk pesawat sukhoi, termasuk tambahan rencana pembelian kapal selam Kilo Class atau pun Amur Class.
Jika melihat kembali ke belakang, hal ini pun terjadi pada saat pembelian Sukhoi batch pertama tahun 2003-2004, di mana pemerintah saat itu membeli 2 Sukhoi tanpa senjata dan rudal, dengan pola bayar imbal dagang atau ditukar dengan produk sumber daya alam, seperti minyak sawit, batubara, logam biji besi, dan proyek proyek migas.
Maka tidak salah jika boleh menebak maka jika nanti pembelian Su-35 disertai ToT, maka dapat dipastikan ada hal hal lain yang menjadi daya tawar pemerintah agar mendapat kepastian tot untuk alusista tni yang di ajukan kepada pihak Russia.
Dari beberapa penawaran bisnis dan produk sumber daya alam mungkin menjadi nilai jual yang membuat russia mau berbagi TOT kepada Indonesia, maka petikan beberapa surat kabar nasional menjadi dasar acuan beberapa proyek tersebut, adalah :
Perusahaan aluminium terbesar dunia, Rusia Aluminium (Rusal), menjajaki peluang investasi sektor hulu hingga hilir industri aluminium di Indonesia. perusahaan Rusal siap mengembangkan tambang, membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit untuk memproduksi alumina, serta pengolahan produk jadi.
“Kami tengah mencari mitra lokal sebagai pemasok bauksit dan menjajaki pembangunan smelter alumina di Indonesia. Bisa swasta ataupun BUMN.
Tentunya kami harus menemukan lokasi yang tepat dan memastikan pasokan listrik untuk operasional pabrik,” ujar anggota delegasi Rusal yang menolak diungkap namanya, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, potensi Indonesia untuk menjadi produsen alumina terbesar dunia sangat besar. Sebab, Indonesia merupakan produsen bauksit nomor tiga terbesar dunia dengan 40 juta ton per tahun. Indonesia pun memasok sepertiga kebutuhan bauksit industri aluminium China.
Salah satu investasi yang akan digarap oleh perusahaan asal Rusia adalah Kereta Api Borneo di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur oleh Russian Rail Ways. Kereta ini rencanaya akan mengangkut hasil tambang batubara, untuk dibawa ke russia lewat jalur laut. Kerja sama dengan perusahaan lokal dilakukan dengan pembagian yang menguntungkan.
Beberapa penawaran juga diberikan oleh indonesia pada Rusia di sektor industri yakni teknologi mutakhir pengolahan nikel, dan bahan tambang lainnya.
Kerjasama di bidang penerbangan dengan PT Dirgantara Indonesia dan Garuda Indonesia, galangan kapal dengan PT.PAL dan produksi perlengkapan tempur berat dengan PT.Pindad, serta joint penelitian luar angkasa dengan PT.Lapan, dengan Kementerian Kelautan, pihak Russia mendapat proyek pengadaan radar untuk memantau kapal kapal pencuri ikan. Serta kerjasama rencana pembuatan PLTN dengan BATAN.
Tidak salah jika semua kerjasama di atas membuat negara manapun di dunia melihat Indonesia sebagai negara “sexy” dan kaya raya. Jadi mungkin kerjasmaa bidang ekonomi dan bisnis diberikan Indonesia kepada Russia sebagai imbal beli dan nilai tambah.
Kutipan harian surat kabar nasional menyatakan “Nilai investasi pembangunan smelter itu sekitar 3-6 milliar dollar AS. Dan untuk pembangunan jalur kereta api 2,5 miliar dollar AS,” sementara jika ditotal nilai kerjasama bisnis dengan russia ditaksir mencapai Rp.50 trilyun rupiah. Suatu jumlah yang sangat besar.
Maka tidak heran duta besar Indonesia untuk Rusia sampai mendapat penghargaan dari federasi Rusia atas jasa jasanya mempererat hubungan dua negara yang saling menguntungkan.
Mungkin inilah point point penting yang menjadi nilai tawar Indonesia terhadap Russia.
Oleh : Sandi Yudha/jkgr
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment