Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

29 February 2016

Ketika Jiran Mulai Terpana

8:36 PM Posted by Ikh Sanudin 2 comments
ANALISIS:(DM) - Belanja militer Indonesia tahun 2016-2019 terus dipacu untuk memenuhi kriteria kekuatan pukul yang mampu diandalkan. Contohnya TNI AU dalam 4 tahun ke depan mendapat asupan dana US$ 3,1 milyar untuk belanja alutsista. Bulan Maret mendatang sudah kontrak pembelian 10 unit jet tempur Sukhoi SU35 lengkap dengan persenjataannya. Tidak hanya itu, TNI AU juga sedang mendatangkan 5 unit Hercules, 4 pesawat bom air  Beriev Be200, 6 helikopter Caracal, 4 Radar, termasuk melengkapi 15 unit jet tempur T50 dengan radar dan rudal, juga 11 pesawat KT1 Wong Bee. Tumben Wong Bee juga dikasih rudal.

Angkatan Laut ikut mempercepat laju modernisasinya. Setelah meluncurkan 1 kapal perusak kawal rudal PKR 10514 di Surabaya Januari lalu, proyeksi empat tahun ke depan TNI AL akan mendapatkan minimal 6 kapal fregat baru, 5 kapal selam baru, 4 kapal cepat rudal (KCR) 60 m, 54 tank amfibi BMP3F, 11 Helikopter anti kapal selam, berbagai jenis peluru kendali anti kapal, meriam artileri, roket dan peluru kendali pertahanan udara pangkalan.

Apache dan Ahmad Yani Class, luar biasa
Yang menarik, wilayah perairan luas Indonesia saat ini sudah ada pembagian tugas dimana BAKAMLA ditugaskan menjaga kemanan laut khususnya dari motif ekonomi seperti pencurian ikan dan penyelundupan. TNI AL khusus menjaga teritori kedaulatan negara dari ancaman militer asing.  Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran besar dipersiapkan juga menjadi armada cadangan TNI AL manakala terjadi perang. Kapal-kapal BAKAMLA yang berukuran 80 meter dan 110 meter dipersiapkan dengan landasan peluru kendali anti kapal.

BAKAMLA saat ini punya 20 kapal dan dalam empat tahun ke depan akan menjadi 50 kapal dari berbagai ukuran.  Sementara TNI AL yang saat ini punya 170 KRI akan dipertahankan dalam jumlah yang sama dengan melakukan pergantian armada yang sudah uzur dengan KRI berwajah fregat modern. Termasuk juga armada pendukung dan pangkalan AL.  Jumlah KRI sebanyak itu akan didistribusikan kedalam tiga armada, barat, tengah dan timur.

Sementara itu Angkatan Darat juga mengembangkan postur tempurnya terutama kemampuan daya pukulnya. Sambil menunggu kedatangan 8 heli Apache juga bersiap mendapatkan 8 heli Chinook, persenjataan artileri berat, 60 panser Badak dan Anoa. Juga penambahan batalyon kavaleri, artileri dan infantri di berbagai Kodam. Termasuk pembentukan Kodam Merdeka di Sulawesi dan Kodam Papua Barat.

Indonesia tidak akan terbendung lagi soal modernisasi kekuatan militernya. Ini sejalan dengan pertumbuhan GDP yang juga tidak tertandingi di kawasan ini.  Anggaran berbasis PDB yang mulai diterapkan tahun depan akan memastikan bahwa dalam 3 tahun ke depan anggaran militer Indonesia akan menjadi yang tertinggi di ASEAN. Sebagai contoh jika dipakai formula 2% dari PDB maka kita anggaran pertahanan kita menjadi nomor satu di rantau ASEAN.

Fregat terbaru, KRI Martadinata 331
Malaysia yang selama puluhan tahun komunitas forum militernya selalu melecehkan postur militer Indonesia, sudah mulai terpana dan terbangun dari mimpi kebanggaan keperkasaan militernya. Forum itu yang mayoritas pengisinya justru hanya dari satu puak “pemilik” semenanjung, selama ini selalu meremehkan kekuatan militer kita.  Namun saat ini kondisi ekonomi negerinya yang tersendat mengharuskan belanja militernya dipuasakan untuk beberapa tahun. 

Selama 4 tahun ini tidak ada belanja militer yang mengejutkan dari negeri jiran itu selain perbaikan alutsista, upgrade dan penambahan suku cadang.  Bahkan dua kapal selamnya pun ikut di rawat inap selama 18 bulan karena berbagai alasan teknis. Nah selama periode itu pula mereka mendengar dan menyaksikan gempitanya modernisasi militer tetangga sebelahnya yang bernama Indonesia, sebuah nama yang selalu diidentikkannya dengan TKI sehingga kesan melecehkan terbawa sampai bathin mereka.

Tiada hari tanpa ada kabar bagus tentang alutsista, baik berupa kedatangan alutsista baru maupun pesanan untuk kedepannya. Akhir Februari ini akan datang 4 pesawat Super Tucano, awal Maret kedatangan 5 jet tempur F16 Blok 52 Id, bulan-bulan berikutnya KCR, Radar, Hercules, Panser Badak, Helikopter Caracal, Tank Amfibi, Tank Leopard, Nexter, Astross, ATGM, UAV dan lain-lain akan beruntun datang memenuhi kesatrian militer negeri ini. Belum lagi adanya pesanan baru. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya adalah tahun-tahun yang paling meriah melihat kedatangan berbagai jenis alutsista canggih di negeri ini.

Malaysia dalam banyak hal memang selalu meremehkan kita, karena kacamata mereka hanya wajah TKI itu. Tetapi ketika kita mulai serius memodernisasi militer kita selama lima tahun terakhir ini, mereka khususnya forum milternya mulai bercermin diri dan mulai tahu diri. Apalagi saat ini Indonesia sedang membangun pangkalan militer di Natuna, mereka semakin gelisah. Karena meski pangkalan ini untuk membentengi ancaman dari utara Laut Cina Selatan tapi juga sekaligus bisa sebagai pangkalan penggempur Sabah, Sarawak dan memotong jalur logistik militer Malaysia ke Kalimantan jika pecah konflik Ambalat.

Makna dari semua pertumbuhan dan pemekaran militer Indonesia karena indikator potensi hebat yang dimiliki Indonesia memang tak tertandingi.  Itu sebabnya mengapa lembaga pemeringkat militer Global Fire Power menempatkan Indonesia sebagai kekuatan miilter terkuat no 12 di dunia, nomor wahid di ASEAN dan mengungguli Australia.  Indikatornya jelas, jumlah SDM raksasa, SDA melimpah, wilayah luas, alutsistanya bertambah modern.

Jadi ke depan kita akan menjadi kekuatan militer yang akan diperhitungkan di regional ini. Kalau hanya sekelas Malaysia atau hanya imbangi Singapura hanyalah sasaran antara. Jangka waktu sepuluh tahun ke depan kita harus menjadi yang terbaik dalam keunggulan teknologi alutsista berikut kuantitasnya. Optimisme itu menjadi ruang kesejukan manakala pertumbuhan ekonomi kesejahteraan dan PDB kita semakin membaik. Biarkan tetangga terpana sekaligus membalikkan opini bahwa wajah kita bukan TKI karena 4 tahun ke depan cerita tentang TKI sudah game over alias tidak ada lagi.  Dan kita tiba-tiba saja sudah jauh meninggalkan jiran yang selama ini merasa dialah yang paling jaguh.
****

Reaksi:

2 komentar:

Post a Comment