Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

07 February 2016

ST Kinetics TERREX: Panser terbaik di Asia!

8:59 PM Posted by Ikh Sanudin No comments

SINGAPURA:(DM) - Makin bernas padi, makin rendah pula bulainya menunduk. Begitulah jika seorang bijak yang rendah hati. Tanpa banyak cakap dan tepuk dada, ST Kinetics Singapura telah membuktikan dirinya sebagai pabrikan world class tanpa perlu banyak berbual-bual.

Dengan riset yang mendalam, ST Kinetics berhasil mewujudkan panser canggih 8x8 Terrex yang amat kaya fitur, menanamkan fitur proteksi, mobilitas, dan penggebuk terkini. Terrex boleh dikata menjadi ranpur paling canggih. Pindad, yang mengklaim diri sebagai world class defense company, dapat mempelajari pengalaman ST Kinetics untuk terus mengembangkan platform Anoa lebih jauh lagi.

Lalu bagaimana bila ST Kinetics melahirkan varian penerusnya?

Dalam pameran DSEI (Defence & Security Equipment International) Exhibition 2015 yang diselenggarakan pada 15-18 September 2015 di London, ST Kinetics membuka selubung proyek Terrex 2. Walaupun masih terasa roh Terrex orisinal, namun varian generasi kedua ini menampilkan desain yang lebih: lebih besar, lebih baik, dan lebih menakutkan dibandingkan dengan versi pertama. Padahal versi pertamanya saja sudah paling canggih di kawasan, bagaimana pula ST Kinetics sudah sampai ke halaman kedua? ST Kinetics memang perusahaan kelas dunia, belajar langsung dari masukan pengguna di lapangan, sekaligus memetik hasil dari pengalaman mereka ikut serta dalam Marine Corps Amphibious Combat Vehicle Phase 1 Increment 1 (ACV 1.1) yang masih terus berjalan. Untuk proyek kali ini, ST Kinetics memang tidak melibatkan DSTA atau AD Singapura, mengingat dari pemerintah Singapura sendiri tidak ada permintaan untuk mengembangkan varian yang satu ini.

Dengan visi untuk memenuhi kontestasi Korp Marinir AS, ST Kinetics kelihatan berani ‘going big’ untuk Terrex 2. Jika biasanya AD Singapura selalu menuntut dimensi kendaraan yang pas jalan dan jembatan di Singapura, maka untuk proyek ACV ini ST Kinetics bebas mengembangkan dimensi Terrex 2. Tujuannya apalagi kalau bukan menambah buoyancy alias daya apung supaya dapat meluncur dari LPD dan menuju bibir pantai. Terrex yang ditawarkan dalam program MPC memang sudah memiliki daya apung dan daya gerak yang sangat baik di dalam air, tapi apa salahnya meningkatkannya lagi?




Alhasil, Terrex 2 mengalami peningkatan drastis dalam hal proteksi, mobilitas, daya gebuk, dan daya angkut. Jika Terrex memiliki bobot 24 ton, maka Terrex 2 mengalami peningkatan bobot 40% menjadi 30 ton. Perubahan ini tidak sekedar menambah-nambahkan pelat pelindung dan perbaikan kecil lalu memberinya embel-embel 2 atau 3 dibelakangnya seperti kebiasaan pabrikan ranpur yang mengaku terbaik di Asia Tenggara, tetapi ST Kinetics mendesain ulang hullnya menjadi lebih besar dan lebih lega. Sebagai akibatnya, Terrex 2 dapat mengangkut 12 prajurit infantri bersenjata lengkap dalam kursi individual khusus yang didesain untuk menyerap impak akibat hantaman ranjau atau impak ledakan lainnya, sehingga mengurangi potensi cedera anggota tubuh. Sepintas daya angkutnya memang tidak beda dengan Terrex, tetapi harus diingat, konfigurasi Terrex saat mengangkut 12 personil adalah menggunakan kursi lipat biasa yang memanjang. Bila dikonfigurasi untuk kursi khusus tahan impak, bisa jadi kapasitas angkut Terrex akan berkurang menjadi 10 personil.

Sementara untuk awaknya, Terrex 2 masih menggunakan konfigurasi yang sama yaitu dua orang, pengemudi dan komandan kendaraan. Hanya saja, kompartemen pengemudi yang sudah canggih itu ternyata dirombak lagi pada Terrex 2. Jika pada Terrex hanya ada tiga panel LCD kamera di depan pengemudi dan satu layar untuk BMS di kirinya, maka pada Terrex 2 pengemudi benar-benar dimanjakan. Tidak hanya layar LCDnya diperbesar, sekarang pengemudi punya lima layar LCD. Dua layar LCD tambahan masing-masing ditempatkan di kiri-kanan lingkar kemudi. Layar LCD kiri menampilkan meter cluster digital, memberikan informasi kecepatan, RPM mesin, indikator belok, posisi palka terbuka atau tertutup, dan kemiringan kendaraan. Panel LCD di sebelah kanan menampilkan informasi kondisi kerusakan pada kendaraan, yang ditampilkan secara real time berdasarkan model kendaraan. Panel yang mengalami kerusakan akan di-highlight sesuai dengan posisi kerusakannya. Hal ini tentu akan memudahkan deteksi dan perbaikan pada kendaraan. Terrex 2 juga menampilkan arsitektur terbuka untuk sistem elektronik sehingga dapat diintegrasikan dengan sistem Battlefield Management System yang dipergunakan oleh penggunanya.

Satu fitur canggih yang disematkan pada Terrex 2 adalah TI (Thermal Imager) Fusion Camera. Jika kamera TI normal menampilkan imaji yang kontras dan menyakitkan mata bila dipergunakan terlalu lama, maka TI Fusion menampilkan tangkapan termal yang tersaji dalam tampilan kamera biasa. Ini adalah inovasi yang sangat luar biasa, dan jarang ditemukan pada produk ranpur lainnya. Dengan TI Fusion Camera, pengoperasian kamera termal dapat dilakukan layaknya pada kamera biasa, sehingga kewaspadaan situasional dapat terjaga dengan baik.

Kembali lagi ke soal dimensi, Terrex 2 memiliki panjang 8,5 meter dan lebar 3-4 meter dengan ketinggian mencapai nyaris 3 meter. Memang nyata lebih besar dibandingkan Terrex orisinal. Sekujur tubuhnya dilapisi oleh panel komposit AMAP (Advanced Modular Armour Protection) buatan Rheinmetall Chempro – IBD Deisenroth. Jika pada Terrex kita melihat panel-panel ini diracik dua dimensi dengan ketebalan 8-12mm, maka pada Terrex 2 panel-panel ini tampil 3 dimensi berbentuk boks. Bisa dipastikan sebagian dalamnya dibiarkan hampa untuk menambah daya apung, plus memberikan ruang kosong antara panel AMAP dan kulit kendaraan sehingga hantaman hululedak shaped charge dapat dijinakkan sebelum dapat menembus kulit kendaraan.

Selain perlindungan pada kulit kendaraan, lambung Terrex 2 dibenamkan teknologi V over V (VoV) alias racikan lambung V ganda. Lambung V pertama melindungi sumbu roda, suspensi, dan sistem transmisi, sementara di atasnya lambung V kedua melindungi kompartemen penumpang. Konfigurasi lambung V ganda ini diharapkan juga mampu melindungi sistem penggerak Terrex 2, sehingga saat terjadi detonasi tidak melumpuhkan kendaraan (mobility kill). Seperti kita tahu, kendaraan yang lumpuh di tengah medan tempur tentunya merupakan mangsa empuk yang mudah sekali dihabisi, selainkan menyulitkan untuk dievakuasi. Konfigurasi lambung V ganda juga akan menurunkan kemungkinan ranjau canggih seperti EFP (Explosive Formed Penetrator) untuk menembus lantai kendaraan.




Untuk mengantisipasi penambahan bobot kendaraan tersebut, maka ST Kinetics melakukan peningkatan pada sistem turbocharger untuk mesin Caterpillar C9 sehingga mampu menyemburkan daya sampai 600hp, naik 150hp dari versi standar pada Terrex. Mesin yang dibenahi ini dikawinkan dengan sistem transmisi otomatis Allison 4500SP dengan enam percepatan maju dan satu gigi mundur. Akselerasi dari 0-50km/ jam dapat dicapai dalam waktu kurang dari 15 detik dan kecepatan maksimalnya 90km/ jam. Sedikit menurun dibandingkan Terrex memang, tapi layak ditebus dengan proteksi yang jauh lebih meningkat. Untuk olah gerak di permukaan air, ST Kinetics memasang sistem propulsi baru untuk mendorong Terrex 2 sampai kecepatan 6 knot/ atau 11,1 km/jam di permukaan air, meningkat 10% dari Terrex. Terrex 2 juga dilengkapi dengan snorkel untuk mengamankan pasokan udara ke arah mesin. Selain itu, bagian hidungnya dipermak menjadi semakin mancung, sehingga volume hampa internal juga semakin besar untuk meningkatkan daya apung. Perubahan bentuk hidung ini diiringi dengan perubahan bentuk lampu depan, yang kini menjadi lebih sipit dan tajam, dan melebar ke samping sehingga menebar aura yang sangat agresif. Pelat penahan ombak (fording plate) pada Terrex 2 juga diperbesar untuk memperbaiki kemampuannya mengarung ombak tinggi. Dengan perubahan ini, Terrex 2 berani sekali diajak menerjang ombak sampai level Sea State 4, dan sudah dibuktikan pula. Inilah the true amphibious Infantry Fighting Vehicle, bukan panser yang dimodifikasi dan dipaksa amfibi.

Terakhir, untuk urusan persenjataan, Terrex 2 secara default masih menggunakan sistem senjata berbasis RCWS Adder yang menggabungkan antara senapan mesin dengan pelontar granat 40mm. Namun khusus untuk program ACV, ST Kinetics sudah menyiapkan sistem kubah baru dengan kanon ATK Mk44 Bushmaster II kaliber 30x137mm. Kanon baru ini menawarkan daya hantam yang meningkat, dengan kekuatan penetrasi sampai 25% di atas M242 Bushmaster, sementara menawarkan 70% kesamaan komponen dengan Bushmaster. Penggunaan kanon ini menawarkan jarak jangkau efektif sampai 3km, memberikan jarak aman untuk menghantam ranpur lawan dari jarak yang lebih aman. Seluruh sistem kelistrikan dan komponen catu daya digabungkan ke kubah di atas, sehingga tidak ada komponen yang makan tempat di dalam kabin kendaraan. Diluar kanon, kubah ini juga dapat mengintegrasikan sistem rudal antitank, yang defaultnya adalah ATGM Spike-LR. ATGM lain dapat diintegrasikan, tinggal dipilih saja apa yang diinginkan.

Dan sebagai pembuktian bahwa Terrex 2 memang ranpur kelas dunia, Korp Marinir AS (USMC) baru-baru ini memilih Terrex 2 sebagai satu dari dua finalis proyek USMC ACV 1.1, dengan kontrak senilai $121,5 juta dolar. ST Kinetics yang diwakili oleh SAIC mencatatkan sejarah sebagai perusahaan pertama dari Asia Tenggara yang mampu menembus kerasnya persaingan bisnis senjata di Uwak Sam. Dipilih oleh Korp Marinir AS yang tangguh dan selalu terdepan dalam setiap penugasan, sudah jelas merupakan satu testamen tersendiri, membuktikan ST Kinetics sebagai world class company. Kita sebagai saudara serumpun tentu harus bangga dengan pencapaian ST Kinetics dari Singapura, negeri kecil serba bisa.

USMC ACV 1.1

Korp Marinir AS nampaknya menjadi kesatuan paling galau di dunia. Setelah program EFV (Expeditionary Fighting Vehicle) karam, program MPC (Marine Personnel Carrier) rupanya juga kandas tanpa ujung yang jelas. Setelah membatalkan program MPC itu, Korp Marinir AS malah meluncurkan program ACV (Amphibious Combat Vehicle) alias program ranpur amfibi yang justru ingin membangkitkan lagi konsep EFV, walaupun dengan spek yang lebih ringan.

Korp Marinir AS menginginkan kendaraan tempur dengan platform roda ban, yang mampu mengangkut 10 Marinir di kompartemen penumpang dan harganya tidak boleh lebih dari US$ 7,5 juta sebuahnya. Nilai proyeknya kakap, mencapai 200 unit ACV pada tahun 2023, atau setara dengan kekuatan enam batalion tempur. Selebihnya Korp Marinir akan mengoperasikan 4 batalion AAV-7 yang dimodernisasi, sehingga akhirnya Korp Marinir AS akan memiliki sepuluh batalion ranpur yang siap digelar kemana saja.

Nah, pada tahap pertama atau yang disebut ACV Phase 1 Increment 1 (ACV 1.1), nilai proyeknya disebut-sebut sebesar $105,7 juta, lumayan untuk memperpanjang nafas perusahaan.

Tidak heran, pabrikan yang berkutat dalam kontes MPC kini membawa lagi produknya untuk dicoba dalam ACV 1.1., tentunya dengan penyesuaian pada sistem persenjataan. Betapapun, sebagian menganggap program ini dianggap tidak memadai terutama dari perkembangan teknologi pertempuran. Patut dicatat, jarak jangkau rudal anti kapal modern akan memaksa kapal pendarat buang sauh lebih jauh lagi dari bibir pantai, sehingga apapun yang digelar oleh Korp Marinir AS akan semakin susah payah menggapai daratan dan menciptakan beach head. Akankah operasi amfibi masif hanya tinggal kenangan sebentar lagi?

arc
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment