Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

04 March 2016

Capres Filipina ingin rebut kembali Sabah, akankah terjadi perang?

9:31 PM Posted by Ikh Sanudin 1 comment
Capres Filipina ingin rebut kembali Sabah, akankah terjadi perang?

KUALALUMPUR:(DM)Kementerian Luar Negeri Filipina kemarin mengatakan Malaysia memanggil duta besar mereka di Kuala Lumpur setelah muncul komentar calon presiden Filipina yang menyatakan akan mengklaim Negara Bagian Sabah jika terpilih jadi presiden.

Koran Manila mengutip pernyataan Wakil presiden sekaligus capres unggulan Jejomar Binay yang menuturkan dia akan merebut kembali Sabah dari tangan Malaysia.

Sekitar 200 warga Filipina dari Kesultanan Sulu di selatan Filipina mendarat di Sabah pada Februari 2013 untuk merebut wilayah itu dari Malaysia. Akibatnya bentrokan antara tentara Negeri Jiran dan pasukan Sulu tidak terhindarkan. Peristiwa itu sedikitnya menewaskan 60 orang. Presiden Benigno Aquino mengecam bentrokan saat itu.

"Kami akan merebut kembali Sabah. Mengapa harus menyerah terhadap apa yang sudah seharusnya milik kita?" ujar Binay dalam pidato kampanyenya, seperti dilansir nationmultimedia.com, Kamis (3/3).

Komentar itu jelas membuat Malaysia meradang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Filipina Charles Jose mengatakan kepada kantor berita AFP, duta besar mereka diminta menjelaskan posisi pemerintah dalam masalah ini.

Jose menyatakan Binay saat ini sudah tidak menjadi bagian dari pemerintahan Benigno Aquino, meski dia masih sebagai wakil presiden hingga akhir masa periode jabatan pada 30 Juni mendatang.

Kesultanan Sulu, Filipina, merasa tanah warisan mereka dicaplok pemerintah Negeri Jiran selama puluhan tahun. Mereka kembali untuk merebut wilayah leluhur mereka, Negara Bagian Sabah.
Juru bicara Binay hingga kini belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.
Harian Standard Today beredar di Filipina (18/2/2013) melaporkan soal jejak sejarah yang mengaitkan Kesultanan Sulu dengan Sabah. Wilayah yang dulu milik Kesultanan Brunei itu merupakan hadiah Sultan Brunei sebab Sulu membantu negara kecil itu dalam meredam konflik antar warga sipil. Pecah Perang dunia ke II Inggris menduduki Sabah hingga selesainya masa perang dan berniat mengembalikan wilayah Sabah pada Kesultanan Sulu, namun pemungutan suara menyatakan warga lebih suka Sabah bergabung dengan Malaysia.

Konflik bersenjata bermula saat
kesultanan Sulu tersebar di beberapa pulau Filipina Selatan dipimpin oleh Agbimuddin Kiram, adik sultan Sulu Jamalul Kiram III. Mereka mengklaim Malaysia mengontrak wilayah Sabah sejak 1963 dan dibayarkan ke Sulu saban tahun.

Permintaan untuk mengakui Sabah sebagai wilayah Sulu ini bukan yang pertama. Di masa Presiden Filipina Diosdado Macapagal pernah mengajukan klaim agar wilayah itu dikembalikan pada Kesultanan Sulu namun tidak ditanggapi hingga menjadi berlarut-larut dan Malaysia keburu membentuk negara federasi yang menggabungkan Sabah serta Sarawak untuk menjadi bagian dari negaranya. Namun secara adat jelas, Sabah milik Sulu.

Tak punya penyelesaian yang pasti, Kesultanan Sulu hendak merebut kembali wilayah mereka. Sekitar 100 orang Sulu dengan kapal berukuran sedang merapat ke wilayah Lahat Datu dan menduduki tempat itu sebagai basis pertahanan demi kembalinya tanah leluhur mereka. Bukannya menempuh jalan damai, pemerintah Malaysia justru mengambil langkah represif dengan mengusir orang-orang Sulu dari tanah diklaim milik Negeri Jiran yang sah.

Sulu meradang. Mereka melawan semampunya dan ini pun membuahkan hasil lantaran pihak militer Malaysia banyak jatuh korban. Genderang perang dikibarkan oleh Perdana Menteri Najib Razak berbalas ancaman serupa dari orang-orang Sulu sebagian besar menempati wilayah selatan Filipina.

Semakin darurat, Malaysia kebakaran jenggot dengan mengerahkan armada jet tempur. Najib mengatakan Negeri Jiran tidak mempunyai pilihan selain menumpas habis musuh yang mengancam negaranya. Najib mungkin sudah lupa jika ada jalan bernama diplomasi sebagai opsi pertama agar konflik ini tidak memakan korban.
Reaksi:

1 komentar:

Post a Comment