Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Militer Negara Sahabat

03 March 2016

'Napas' Amerika dalam Pesawat Tempur Indonesia-Korsel

11:30 AM Posted by Ikh Sanudin No comments
AS, Korea Selatan, dan Indonesia menggelar pertemuan trilateral, membahas rencana transfer teknologi untuk pesawat tempur KF-X/IF-X yang dibuat Korsel bersama RI. (Dok. PT Dirgantara Indonesia)
WASHINGTON:(DM) - Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Indonesia menggelar pertemuan trilateral akhir Februari. Ketiga negara membicarakan rencana transfer teknologi untuk pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) yang sedang dikembangkan bersama oleh RI dan Korsel.

Dalam pertemuan di AS itu, perwakilan perusahaan dirgantara masing-masing negara –Lockheed Martin, Korea Aerospace Industries, dan PT Dirgantara Indonesia– ikut hadir.

Jika mulus, Lockheed Martin akan mentransfer teknologi penting untuk pengembangan KF-X/IF-X yang direncanakan mewujud jet tempur generasi 4,5 dengan kemampuan nyaris setara dengan pesawat siluman (stealth fighter) generasi kelima.

“Pertemuan trilateral ini belum tentu sebulan selesai. Butuh waktu. (Perundingan) bisa sampai enam bulan atau satu tahun,” kata Kepala Program KF-X/IF-X PTDI Heri Yansyah, Jumat (19/2).

Berdasarkan data yang dihimpun CNNIndonesia.com, Korea Selatan telah berencana meminta bantuan Lockheed Martin untuk mengembangkan KF-X sejak Maret 2014 saat mereka memutuskan membeli 40 unit pesawat tempur siluman keluaran perusahaan itu, F-35 Lighting II.
F-35 Lighting II, jet tempur siluman terbaru buatan raksasa dirgantara Amerika Serikat, Lockheed Martin. Lockheed menawarkan transfer teknologi ke Korea Selatan untuk mengembangkan KF-X/IF-X. (U.S. Navy photo courtesy Lockheed Martin)
Sebagai bagian dari kesepakatan memborong F-35 tersebut, Lockheed menawarkan keahlian teknik setara 300 tahun masa kerja individu untuk membantu merancang KF-X. Lockheed bahkan berencana menyodorkan lebih dari 500 ribu halaman dokumentasi teknis terkait pembuatan jet tempur generasi keempat mereka, F-16 Fighting Falcon, serta F-35 Lighting II dan F-22 Raptor dari generasi kelima.

Korea Selatan, melalui Korea Aerospace Industries (KAI), dan Lockheed Martin memiliki sejarah kerja sama mengembangkan pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle –yang kini juga menjadi bagian dari armada udara Republik Indonesia.

Meski demikian, untuk proyek KF-X yang berjalan saat ini, Lockheed ragu memberikan dukungan penuh karena khawatir KF-X pada akhirnya menjadi kompetitor mereka sendiri di pasar ekspor jet tempur.

Penawaran saat itu bukan hanya datang dari Lockheed Martin dan KAI. Desember 2014, Airbus Eropa, Boeing AS, dan Korean Air bergabung dalam satu tim untuk mengusulkan alternatif pembuatan pesawat tempur yang lebih murah bagi Korea Selatan.

Tim Airbus-Boeing-Korean Air juga menawarkan alih teknologi. Boeing misalnya dapat menyediakan pengetahuan soal radar dan teknologi siluman pada jet tempur. Bermitra dengan Airbus membuat Boeing dapat mentransfer informasi tersebut meski aturan AS membatasi transfer teknologi hingga tingkat tertentu ke luar negeri.

Namun pada 9 Februari 2015, tenggat waktu yang ditetapkan bagi kedua tim untuk mengajukan penawaran, hanya KAI-Lockheed Martin yang menyerahkan proposal mereka, sedangkan Korean Air-Airbus masih memerlukan waktu untuk mempersiapkan penawaran mereka.

Batas waktu penyerahan proposal pun diundur karena aturan hukum Korea Selatan mensyaratkan tender diikuti oleh minimal dua peserta. Akhirnya pada 30 Maret 2015 pemerintah Korea Selatan mengumumkan tender proyek KF-X dimenangkan oleh Korea Aerospace Industries yang menggandeng Lockheed Martin sebagai mitra.

Namun enam bulan kemudian, September 2015, pemerintah Amerika Serikat dilaporkan menolak transfer empat dari 25 teknologi inti ke Korea Selatan. Transfer teknologi utama jet tempur dinilai AS melanggar kebijakan keamanan negara itu.

Harian Korea Selatan Chosun Ilbo melansir, salah satu yang dilarang AS untuk ditransfer ialah data teknologi terkait radar AESA (active electronically scanned array). Ini sistem radar canggih dengan kemampuan perang elektronik. AESA dapat mencari dan melacak target lebih cepat dan akurat daripada sistem-sistem yang sudah ada selama ini.

Selain radar AESA, tiga teknologi inti lain yang tak diizinkan pemerintah AS untuk ditransfer ialah sistem perang elektronik, pencari dan pelacak inframerah atau IRST (infrared search and track), serta electro-optical targeting pod.

Terancamnya transfer teknologi jet tempur dari Lockheed Martin membuat Presiden Korea Selatan Park Geun-hye dan Menteri Pertahanan Han Min-koo mencoba melobi AS dalam pertemuan mereka dengan Presiden Barack Obama dan Menteri Pertahanan AS Ashton Carter, Oktober 2015.

Sampai sekarang transfer teknologi inti untuk KF-X/IF-X masih terus diupayakan terwujud. Perundingan kini melibatkan Indonesia setelah pemerintah RI resmi menandatangani kontrak kerja sama dengan Korea Selatan untuk menggarap fase kedua proyek KF-X/IF-X, yakni pembuatan prototipe pesawat, pada 7 Januari 2016.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment